
Sedih sekali rasanya Kenzo dan juga Anaya saat mendengar bahwa wanita yang mereka tolong ternyata dalam keadaan begitu lemah, terlebih lagi ketika mendengar calon buah hati yang ada dalam perut wanita itu juga sangatlah lemah.
Anaya sangat yakin jika hal itu pasti terjadi karena wanita itu di lorong berkali-kali oleh suaminya yang tukang selingkuh itu, Anaya tidak habis pikir kenapa ada seorang pria yang begitu kejam.
Bisa-bisanya pria itu berselingkuh dengan wanita lain di saat wanitanya sedang hamil, sedang mengandung keturunannya. Akan tetapi pria itu malah berlaku gila, pikir Anaya.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan Dok?" tanya Kenzo kebingungan.
istrinya saja belum melahirkan, tetapi pria itu harus dihadapkan dengan wanita yang akan melahirkan. Tentunya dia belum ada pengalaman sama sekali.
"Mau tidak mau kita harus segera melakukan operasi caesar, saya membutuhkan persetujuan dari anda. Apakah bisa?" ujar Dokter.
Dokter sempat memperhatikan Kenzo dan juga Anaya, maka dari itu dia tidak berani menyebutkan jika wanita yang ada dalam ruangan observasi tersebut sebagai istri dari Kenzo.
Karena rasanya sangat tidak mungkin seorang lelaki yang memiliki wanita sedang hamil, tetapi berselingkuh dengan wanita hamil.
"Saya sih bisa saja menyetujui jika perempuan yang ada di dalam sana itu untuk di operasi caesar, tapi masalahnya saya bukan keluarganya Dok. Bagaimana? Apakah perlu saya mencari keluarganya terlebih dahulu? tanya Kenzo yang tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan.
Karena menurut Kenzo bisa saja wanita itu ditelantarkan oleh suaminya, tetapi pastinya wanita itu masih memiliki keluarga yang mencintai wanita tersebut.
"Tidak ada waktu lagi, Tuan. Jika Tuan mau menolong, anda bisa menjadi walinya dan menandatangani surat persetujuan. Karena ini sangat urgent," jawab Dokter.
Kenzo menolehkan wajahnya ke arah istrinya, Anaya nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia seolah setuju dengan apa yang dikatakan oleh dokter.
"Baiklah, aku akan segera mengurus semuanya. Tolong lakukan yang terbaik untuk wanita itu," putus Kenzo pada akhirnya.
Kenzo dan Anaya tidak menyangka akan menolong seorang wanita hamil dalam keadaan seperti itu, mereka juga tidak menyangka ada pria yang tega meninggalkan istrinya di saat hamil seperti itu.
Kenzo dengan cepat mengurus administrasinya dan menandatangani surat persetujuan operasi caesar, setelah itu keduanya nampak duduk dengan gelisah menunggu operasi caesar dilakukan.
"Bagaimana, Dok? Apakah baby-nya sudah lahir? Bagaimana juga dengan ibunya?" tanya Kenzo ketika melihat pintu ruangan operasi terbuka.
Kenzo dan juga Anaya nampak gelisah dan juga gundah karena wajah dokter tidak bersahabat, keduanya merasa akan mendapatkan kabar yang buruk saat melihat wajah dokter tersebut.
"Baby-nya sehat, dia lahir dengan jenis kelamin perempuan. Sangat cantik sekali, tapi--"
"Tapi apa?" tanya Anaya dengan penasaran.
Anaya merasa ada hal yang buruk yang terjadi kepada Ibu dari bayi tersebut, tetapi dia tidak bisa menduga-duga jika dokter belum mengatakan apa pun.
"Ibunya tidak bisa diselamatkan, sepertinya ibunya mengalami pendarahan hebat sebelum dibawa ke rumah sakit," jelas Dokter.
Ya, Kenzo dan Anaya menyadari jika sebelum mereka membawa perempuan itu ke rumah sakit, area bawah wanita itu banjir dengan darah.
"Kasihan sekali, lalu... apa yang harus kamu lakukan, Dok?" tanya Anaya dengan iba.
Mendengar bayi mungil yang baru dilahirkan dan hanya sendirian membuat dia benar-benar merasa sedih sekali, dia ingin menolong tapi bingung harus seperti apa cara dia menolong bayi tersebut.
"Ehm! Tadi, sebelum ibunya meninggal. Dia sempat berpesan kepada saya, jika kalian berdua berkenan, ibu itu meminta kalian untuk mengadopsi bayi perempuan itu. Jika tidak, kalian bisa mengantarkan anak itu ke panti asuhan," jawab Dokter.
Setidaknya jika anak itu dibawa ke panti asuhan, akan ada yang merawat bayi itu dan tentunya ibunya tidak akan merasa khawatir di alam sana.
"Boleh saya melihat bayinya?" tanya Anaya.
"Tunggu sebentar lagi, karena babynya sedang dibersihkan," jawab Dokter. "Oiya, wanita tadi memberikan ini kepada saya. Dia meminta saya untuk memberikan ini kepada kalian berdua," ujar Dokter.
Dokter memberikan sebuah kalung yang terlihat begitu cantik sekali, kalung dengan inisial A. Sangat indah dan pastinya itu merupakan kalung mahal.
"Mungkin ibunya ingin kita memberikan kalung ini kepada babynya," ujar Anaya.
"Ya, nanti kita akan berikan. Tapi sepertinya untuk saat ini belum bisa," jawab Kenzo. Karena memang ukuran kalung itu kebesaran jika dipakai oleh seorang bayi.
Tidak lama kemudian, seorang suster keluar dari dalam ruang operasi dan memberikan bayi mungil itu kepada Anaya. Anaya langsung menangis karena bayinya cantik itu tidak bisa hidup bersama dengan ibunya.
Di saat Anaya sedang menangis, ibunya yang sudah tiada didorong oleh beberapa suster dari ruang operasi menuju kamar jenazah.
Anaya semakin menangis dengan begitu kencang, dia benar-benar begitu sedih karena bayi yang baru lahir ke dunia itu kini sebatang kara.
"Yang, aku mau mengadopsi baby cantik ini. Apakah boleh?" tanya Anaya seraya terisak.
__ADS_1
Kenzo juga merasakan kasihan terhadap bayi kecil itu, dia merasa iba dan ingin merawat putri cantik itu. Tidak mungkin rasanya dia mengabaikan bayi cantik itu.
"Ya, Sayang. Kita akan segera mengurus surat adopsinya," jawab Kenzo.
"Terima kasih," ujar Anaya dengan senyum yang mengembang di bibirnya tetapi air matanya terus saja mengalir.
Kenzo langsung merangkul pundak istrinya, lalu dia menunduk untuk mengecup kening istrinya tersebut. Pria itu berusaha menenangkan hati istrinya yang sedang sedih.
Tidak jauh dari sana, ada seorang suster yang sedang tersenyum lalu menghampiri sepasang suami istri itu.
"Nyonya, Tuan, maaf. Baby-nya akan kami pindahkan dulu ke ruang steril, karena baby-nya juga harus diberi susu terlebih dahulu."
"Ah, iya, Sus. Bawa saja, aku akan menunggu," jawab Anaya seraya memberikan bayi mungil itu kepada suster.
Dengan cepat suster menerima bayi mungil itu dan membawanya menuju ruangan steril, Kenzo bisa merasakan jika istrinya seakan tidak ingin berpisah dari bayi cantik itu.
"Kita pulang dulu, Sayang. Karena kita harus mengurus surat adopsi untuk baby cantik itu," ajak Kenzo.
"Iya, Ken. Tapi, jika kita akan mengadopsinya, kita harus memberikan nama untuk bayi cantik itu."
"Hem! Bagaimana kalau baby cantik itu kita beri nama Arsila saja? Sesuai dengan liontin peninggalan dari ibunya, bagaimana, Yang?" ujar Kenzo.
"Oke, Sayang. Aku setuju," ujar Anaya.
Kenzo tersenyum, lalu pria itu benar-benar mengajak istrinya untuk segera pulang. Karena nyatanya Anaya sedang hamil besar, dia tidak boleh berlama-lama di rumah sakit.
Tentunya Kenzo juga akan meminta Aman untuk mencari tahu tentang siapa keluarga dari wanita yang sudah melahirkan itu, Kenzo akan meminta Aman untuk mencari identitas wanita itu lewat KTP yang ditinggalkan.
Tiga hari kemudian Arsila sudah dibawa ke kediaman Kenzo, bayi mungil itu begitu anteng sekali. Anaya sampai tidak merasa direpotkan.
Namun, walaupun seperti itu Kenzo tetap menyewa seorang pengasuh. Karena dia takut jika istrinya akan kelelahan mengurus Arsila, karena nyatanya istrinya itu memang sedang hamil besar.
Lalu? Bagaimana dengan ibu dari Arsila?
Wanita itu sudah dimakamkan, setelah Aman menyelidiki asal-usul wanita itu, ternyata wanita itu rela meninggalkan keluarga angkatnya demi menikah dengan kekasih hatinya.
"Keputusan kalian untuk mengadopsi Arsila adalah hal yang begitu tepat, karena bapaknya seorang bajingan," ujar Aman.
Malam ini Aman sengaja datang ke rumah Kenzo, selain untuk melaporkan siapa Aninda, Ibu dari Arsila, dia juga sengaja datang untuk makan malam gratis di sana.
"Hem! Tapi, apa keluarga angkatnya nanti tidak akan mencari Arsila?" tanya Kenzo.
"Aninda saja sudah pergi meninggalkan mereka dan menentang keluarga angkat mereka, sepertinya tidak akan ada yang mencarinya," jawab Aman.
"Semoga saja, karena aku begitu menyayangi Arsila," ujar Anaya seraya menimang-nimang baby cantik itu.
"Iya, iya. Abang paham, tapi sekarang lebih baik kamu menidurkan diri atas box bayi. Karena dia sudah tidur pulas sejak tadi," ujar Aman.
"Iya," jawab Anaya. "Aku ke kamar Sila dulu," pamit Anaya kepada Kenzo.
"Ya, Sayang," jawab Kenzo.
Anaya nampak melangkahkan kakinya menuju kamar bayi yang sudah dia siapkan untuk calon buah hatinya, tetapi kini malah dihuni terlebih dahulu oleh Arsila.
"Aduh!" keluh Anaya ketika wanita itu hendak membuka pintu kamar bayi tersebut.
"Kenapa, Yang?" tanya Kenzo yang mendengar keluhan dari istrinya.
"Perut aku sakit banget, Yang. Pinggang aku juga rasanya kaya mau putus," jawab Anaya.
Mendengar jawaban dari Anaya, baik Kenzo ataupun Aman langsung berlari menghampiri wanita itu. Aman langsung mengambil alih Arsila dari gendongan Anaya, sedangkan Kenzo langsung menggendong istrinya dan mendudukkannya di atas sofa.
"Apa sudah mau melahirkan?" tanya Kenzo.
"Sepertinya sih iya, dari pagi udah terasa mules gitu. Tapi suka ilang-ilangan. Ini sakitnya kok ngga ilang-ilangan, sakit banget."
"Kita langsung ke rumah sakit aja," putus Kenzo.
"Kalian pergilah dengan hati-hati, setelah menidurkan Arsila, aku akan menyusul. Sekalian aku yang akan membawa perlengkapan melahirkan untuk Naya," ujar Aman.
__ADS_1
"Oke!" jawab Kenzo.
Pada akhirnya Kenzo membawa istrinya menuju rumah sakit, ternyata benar dugaannya jika istrinya itu akan melahirkan, karena saat dibawa ke ruang observasi ternyata sudah pembukaan lima.
"Langsung dipindahkan ke ruang bersalin aja ya, Tuan," ujar Dokter.
"Iya," jawab Kenzo.
Anaya pada akhirnya dipindahkan ke ruang bersalin, tidak lupa Kenzo juga memberitahukan keluarganya bahwa anak yang akan melahirkan.
Anaya dan juga Kenzo merasa jika Tuhan begitu baik terhadap dirinya, karena Anaya bisa melahirkan dengan lancar dan juga dalam waktu yang cepat.
"Alhamdulillah," ujar Kenzo dengan senang.
Pria itu bahkan tidak ragu untuk mencium bibir Anaya di hadapan dokter dan juga suster yang ada di sana, ia benar-benar merasa bangga terhadap istrinya karena sudah memberikan dia keturunan.
"Terima kasih, Sayang. Kita sudah menjadi orang tua," ujar Kenzo.
"Ya," jawab Anaya dengan lemas. Karena tenaganya baru saja terkuras untuk melahirkan.
"Anaknya lelaki, Tuan, Nyonya. Selamat ya," ujar Dokter yang langsung menengkurapkan bayi yang sudah dibersihkan tersebut di atas dada Anaya.
Anaya merasa senang sekali karena ternyata dia melahirkan bayi laki-laki, dia juga merasa senang karena sudah mendapatkan bayi perempuan walaupun bukan lahir dari rahimnya. Lengkap sudah, pikirnya.
"Jagoan, Yang. Anak kita jagoan," ujar Kenzo dengan senang.
"Ya, rasanya lengkap banget ya, Sayang. Kini kita memiliki anak lelaki dan juga perempuan," ujar Anaya.
"Hem, Arsila dan juga Shane," jawab Kenzo.
Kenzo dan Anaya memang tidak pernah mendiskusikan tentang nama yang akan mereka berikan kepada keturunan mereka nantinya, tetapi tentunya Kenzo sudah menyiapkan nama untuk calon buah hatinya tersebut.
"Shane? Siapa Shane?" tanya Anaya seraya meringis karena putranya sudah menemukan sumber makanannya dan langsung menyesapnya dengan kuat.
Mungkin inilah yang dirasakan oleh ibu-ibu yang lain juga, merasa sakit saat pertama kali menyusui putra-putri mereka. Tidak seperti sedang menyusui bapaknya.
"Putra kita, Sayang. Kamu tidak keberatan bukan, jika aku memberikan nama Shane Arya Siregar kepada putra kita?" tanya Kenzo.
Anaya tentunya langsung menggelengkan kepalanya, bagaimana mungkin dia keberatan dengan nama indah yang diberikan oleh suaminya kepada putranya.
"Oh! Ngga dong, Yang. Justru aku senang," jawab Anaya.
Kenzo dan juga Anaya kini merasakan kebahagiaan yang luar biasa, terlebih lagi dengan Anaya, dia merasa jika Tuhan memberikan bonus kebahagiaan yang luar biasa kepada dirinya.
Anaya merasakan kesakitan satu kali dalam melahirkan, tetapi dia diberikan dua bayi dan itu membuat dia sangat bahagia.
"Syukurlah, terima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istriku, Terima kasih karena kamu sudah melahirkan keturunanku."
Kenzo kembali menunduk untuk mencium bibir istrinya, Anaya nampak menangis haru seraya menganggukkan kepalanya.
Keesokan harinya keluarga Siregar dan juga keluarga Dinata datang ke Kota Sorong, mereka langsung datang ke rumah sakit dan memenuhi ruangan Anaya.
Semuanya nampak senang karena sudah mendapatkan keluarga baru, mereka semua juga merasa terharu karena ternyata apa yang dikatakan oleh Aliandra benar adanya.
Kenzo akan memiliki dua bayi sekaligus, tetapi bayi yang satunya merupakan bayi yang dia adopsi dari wanita malang yang mereka temui.
"Selamat untuk kalian, kami bahagia." Sigit dan Aruna langsung memeluk Anaya dan juga Kenzo secara bergantian.
"Ya ampun! Aku juga bahagia, jangan terlalu lama memeluk cucuku. Karena aku juga ingin berpelukan dengan mereka," ujar Steven.
"Eh? Aku juga mau," ujar Satria tidak mau kalah.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tawa penuh bahagia memenuhi ruang perawatan Anaya. Semua orang yang ada di sana nampak terlihat begitu senang dan juga terharu.
Setiap awal yang pahit belum tentu akan berakhir dengan rasa pahit juga, bisa saja rasa pahit itu adalah awal dari rasa manis yang akan kita petik pada akhirnya.
Rasa pahit itu bisa saja seperti obat, terasa tidak enak saat ditelan, tetapi bisa memberikan kenikmatan dengan sembuhnya penyakit yang kita derita.
Terima kasih sudah setia menjadi pembaca BUSM2 dari season 1 sampai season 2, sayang kalian banyak-banyak.
__ADS_1