
Setelah tiba di resort, Anisa langsung memesan kamar tepat di samping kamar pengantin milik Kenzo dan juga Anaya. Tentunya hal itu dia lakukan agar lebih mudah bertemu dengan mantan suaminya tersebut.
Saat masuk ke dalam kamar, Anisa tersenyum kecut ketika melihat luasnya kamar yang dia pesan. Namun, dia hanya sendirian menempati kamar tersebut.
Dia menjadi teringat ketika dia baru dinikahi oleh Kenzo, tidak ada yang namanya malam pertama. Tidak ada yang namanya percintaan panas penuh gairah, hanya ada ketakutan yang dia rasakan kala itu. Takut jika kebohongannya akan terbongkar.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kamu akan punya ayah," ujar Anisa seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Anisa mengambil ponselnya lalu mencari tahu tentang apa yang dilakukan oleh Kenzo lewat sosial medianya, ternyata pria itu sedang mengajak istrinya ke Kepulauan Raja Ampat.
Kenzo dan sang istri sedang menikmati keindahan alam yang ada di sana, mereka juga terlihat berinteraksi dengan penduduk sekitar.
Hal itu bisa Anisa ketahui karena ada beberapa video yang diupload, bahkan ada juga video yang menunjukkan di mana Kenzo sedang menikmati keindahan bawah laut. Sedangkan Anaya menunggu sang suami di daratan.
"Ck! Romantis sekali, sebentar lagi keromantisan itu akan berakhir." Anisa tersenyum getir.
Karena merasa begitu lelah akhirnya Anisa memutuskan untuk tidur, nanti setelah rasa lelahnya hilang barulah Anisa akan melancarkan rencananya.
Di lain tempat.
Anaya dan juga Kenzo benar-benar menikmati liburannya, walaupun Anaya sedang datang bulan, tetapi dia terlihat begitu ceria saat berlibur bersama dengan suaminya.
Padahal pada awalnya dia mengeluh sakit perut, tetapi salah satu warga yang ada di sana membuatkan ramuan herbal untuk Anaya, tentu saja hal itu membuat perut Anaya merasa tidak sakit lagi.
Wanita itu bisa melakukan aktivitasnya dengan baik, dia berjalan ke sana kemari untuk menikmati keindahan alam di pulau tersebut. Momen itu tentunya terus saja diabadikan. Ketika dia memiliki anak dan cucu nanti, Anaya ingin memperlihatkannya kepada mereka.
"Cape, Yang. Pulang, yuk?" ajak Anaya dengan manja.
Hari sudah menjelang sore, rasanya dia sudah benar-benar merasa lelah. Kenzo tersenyum lalu menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya.
"Sebentar lagi, Yang. Aku mau menikmati indahnya matahari terbenam," jawab Kenzo.
Rasanya menikmati indahnya matahari terbenam dengan istri tercinta pastinya akan menyenangkan, terlebih lagi ada yang ingin Kenzo lakukan saat melihat matahari terbenam tersebut.
''Boleh, deh. Aku juga mau," imbuh Anaya.
Pada akhirnya keduanya nampak duduk di atas batu, lalu mereka memperhatikan matahari yang mulai terbenam. Sangat cantik dan membuat mereka begitu mengagumi keindahan dari ciptaan tuhan tersebut.
"Sangat indah," ujar Kenzo yang langsung menarik lembut tengkuk leher istrinya dan mencium bibir wanita itu dengan mesra.
Anaya tentunya langsung membalas pagutan bibir dari suaminya itu, bahkan mereka cukup lama berciuman. Tentunya hal itu Kenzo abadikan lewat layar ponselnya.
__ADS_1
Biarlah orang menganggap dia lebay, sungguh dia tidak peduli dengan apa pun yang akan dikatakan oleh orang lain. Karena yang terpenting dia bisa mengabadikan momen kebahagiaannya bersama dengan sang istri.
"Nakal!" ujar Anaya ketika pagutan bibir mereka terlepas, tetapi Kenzo malah menunduk lalu menggigit lehernya.
Anaya langsung mendorong wajah suaminya, karena dia kini berada di tempat umum. Tentu saja dia takut jika Kenzo akan melakukan hal yang lebih dari itu.
"Biarin, nakalnya sama istri sendiri." Kenzo mencubit gemas hidung istrinya.
"Nanti kamu pengen loh, jangan macam-macam!" ujar Anaya karena tiba-tiba saja Kenzo memeluknya dan mengecupi lehernya.
"Hem! Aku lupa," ujar Kenzo yang langsung mengajak istrinya untuk pulang ke resort. Karena sebentar lagi waktu maghrib akan tiba.
Saat tiba di resort, Kenzo dan juga Anaya langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka.
Keduanya mandi bersama tanpa saling menyentuh, karena tentunya keduanya paham jika mereka tidak boleh melakukan hal yang lebih.
"Aku mau maghrib dulu, kamu duduk aja di sofa. Selepas maghrib kita pesan makan malam, kamu pasti cape. Kita makan di kamar aja," ujar Kenzo.
"Iya, Sayang. Kita makan di dalam kamar aja, tapi ... boleh ngga kalau aku mesen langsung aja?" tanya Anaya.
"Kenapa memangnya?" tanya Kenzo.
"Aku mau milih sendiri makanannya, Yang. Boleh?" tanya Anaya.
"Boleh," jawab Kenzo seraya tersenyum.
"Makasih, Sayang. Oiya, Sayang. Kamu mau aku pesenin apa?" tanya Anaya.
"Ikan bakar sama cumi asam manis," jawab Kenzo.
"Sip!" ujar Anaya yang langsung keluar dari dalam kamar pengantin mereka.
Anaya langsung melangkahkan kakinya menuju Resto yang tidak jauh dari sana, karena dia sudah merasa kelaparan dan ingin segera makan, sebenarnya itulah alasan yang lebih tepat.
Tanpa Anaya ketahui, Anisa yang memang mengintai keberadaan Kenzo dan juga Anaya langsung mengikuti langkah wanita itu. Anisa bahkan sengaja membukakan hordeng kamar yang dia pesan, dia bahkan membuka sedikit jendela kamarnya.
Hal itu dia lakukan agar Anisa tahu kapan Kenzo dan juga Anaya masuk ke dalam kamar mereka, hal itu juga dia lakukan agar Anisa bisa mendengar suara pasangan pengantin baru itu.
"Pak, ikan bakar sama cumi asam manisnya 1 porsi. Terus, aku mau udang selingkuh sama kepiting saus tiram. Untuk nasinya dua porsi, lemon tea dua gelas dan juga air mineral dua botol."
Itulah yang Anaya pesan ketika dia menghampiri seorang pelayan yang bekerja di resto itu, pelayan tersebut tentunya dengan cepat mencatat pesanan dari Anaya.
__ADS_1
"Mau pesan apalagi, Nona?" tanya pelayan itu.
"Emmm! Kerang saus padangnya boleh deh, nanti tolong antarkan ke kamar nomor 1."
"Siap, Nona. Akan segera kami buatkan pesanan anda," ucap pelayan itu dengan begitu sopan.
"Terima kasih," ujar Anaya.
Setelah melakukan pemesanan, Anaya sempat membeli camilan keripik keladi untuk mengisi perutnya yang terasa begitu keroncongan. Lalu, wanita itu berniat untuk kembali ke dalam kamarnya.
Namun, hal itu dia urungkan karena melihat seorang wanita yang sedang terisak. Wanita itu duduk di salah satu kursi yang ada di sana, wanita itu terisak seraya menatap layar ponselnya.
Anaya yang merasa penasaran langsung menghampiri wanita itu, lalu dia duduk tepat di samping wanita itu dengan raut wajah iba.
"Anda kenapa, Nona? Apakah anda sedang sakit?" tanya Anaya.
Wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Anisa itu langsung menolehkan wajahnya ke arah Anaya, dia memasang wajah dengan semenyedihkan mungkin lalu berkata.
"Hatiku yang sedang sakit, Kak. Aku sekarang hamil, tapi pria yang menghamiliku kini malah menikah dengan wanita lain," jawab Anisa.
"Eh? Tega sekali pria itu, bisa-bisanya menikah dengan wanita lain sedangkan ada wanita yang dia hamili." Anaya terlihat kesal kepada pria yang diceritakan oleh Anisa.
"Iya, Nona. Pria itu memang kejam sekali, dia menikahiku tetapi hanya satu minggu saja. Setelah itu dia menceraikan aku, sudah dua bulan dia meninggalkan aku dan aku sedih karena ternyata aku hamil."
"Ck! Brengsek sekali pria itu, jadi pria itu hanya mengambil kesucian kamu aja gitu?" tanya Anaya yang derajatnya sebagai perempuan merasa direndahkan.
"Iya, sungguh dia sangat kejam. Wajahnya doang tampan, tapi kelakuannya sangat bejat. Lihatlah wajahnya, kalau dilihat dari wajahnya dia sangat menggemaskan dan terlihat sebagai pria yang begitu baik."
Anisa nampak menunjukkan foto yang sejak tadi dia tatap, Anaya begitu kaget karena ternyata foto yang ditunjukkan oleh wanita itu adalah wajah Kenzo.
Kenzo pernah berkata kepada dirinya jika dia menikahi wanita yang bernama Anisa karena dijebak, Kenzo sama sekali tidak pernah mencintai wanita itu dan tidak pernah menyentuhnya.
Lalu, bagaimana ceritanya jika saat ini ada wanita yang malah mengaku sedang hamil anak Kenzo, pikirnya. Apakah suaminya itu sudah berbohong kepada dirinya atau bagaimana, tanyanya dalam hati.
"Dia mantan suami kamu?" tanya Anaya dengan banyaknya pertanyaan di dalam otaknya.
"Hem! Dia sangat kejam, aku harus bagaimana, Kak? Aku sedang hamil loh!" ujar Anisa.
"Entahlah, aku tidak tahu. Oiya, nama anda siapa?" tanya Anaya.
"Anisa, Kak. Memangnya kenapa Kakak menanyakan namaku?" tanya Anisa dengan seringai tipis di bibirnya.
__ADS_1
Anisa merasa begitu senang karena dia sudah sukses menebar umpan, dia harap Anaya akan terjebak dengan ucapannya.
"Ngga apa-apa, kalau begitu aku pergi duluan. Semoga bisa menemukan solusi yang terbaik untuk kandungannya," ujar Anaya dengan hati yang mulai tidak tenang.