
Satu bulan sudah Anaya tinggal di kediaman Kenzo, dalam setiap harinya Kenzo selalu memperlakukan wanita itu dengan penuh kasih dan penuh cinta.
Pria itu tidak pernah menekankan Anaya untuk segera mengingat masa lalunya, tetapi Kenzo melakukan hal yang disarankan oleh dokter.
Setiap hari Kenzo akan melakukan hal-hal yang dulu disukai oleh wanita itu, bahkan di dalam kamar Anaya, Kenzo sengaja memajang foto-foto kebersamaannya dulu dengan Anaya.
Selain itu, ada juga foto kebersamaan Anaya bersama dengan Angel, Surya, Ayaka dan juga Ayana. Hal itu dia lakukan dengan harapan Anaya bisa kembali pulih ingatannya.
Bukan hanya Kenzo saja yang berusaha untuk mengembalikan ingatan dari wanita itu, tetapi Anaya sendiri berusaha untuk mengembalikan ingatannya.
Tanpa Kenzo tahu Anaya juga setiap satu minggu sekali akan pergi ke dokter, dia akan melakukan terapi okupasi. Terapi okupasi adalah terapi yang dilakukan dengan mengenalkan informasi baru pada pasien amnesia guna memulihkan daya ingatnya.
Selain itu, Anaya juga melakukan terapi hipnosis. Karena dia memiliki trauma di mana saat ledakan kapal itu terjadi, walaupun Kenzo tidak mengetahui hal itu, tetapi Aruna selalu mendampingi wanita itu.
Ya, Aruna masih setia menunggu Anaya. Karena wanita itu ingin melihat perkembangan dari kesehatan Anaya dan juga ingin melihat Anaya pulih dari amnesianya.
Berbeda dengan Sigit yang sudah kembali ke ke ibu kota sejak mengetahui jika Asmara adalah Anaya, karena dia harus bekerja. Masih banyak urusan yang harus dia tangani di ibu kota.
Begitupun dengan Alice, wanita itu harus segera kembali ke ibu kota karena masa liburan kuliahnya sudah selesai.
Lalu, bagaimana dengan Alan?
Pria itu tidak tinggal di kediaman Kenzo, tetapi pria itu memutuskan untuk tinggal di rumah makan milik Kenzo. Bukan karena tidak ingin menemani Anaya, tetapi di kediaman Kenzo ada Aruna.
Memang di sana ada pelayan, tetapi tetap saja dia merasa tidak enak hati jika harus tinggal di kediaman Kenzo bersama dengan Aruna, karena Sigit tidak ada di sana.
Lagi pula setiap hari Anaya akan datang untuk membantu dirinya mengelola Rumah Makan tersebut, jadi dia tidak khawatir akan kehilangan putrinya. Atau kehilangan kontak dengan putrinya tersebut.
"Ini sudah satu bulan kamu melakukan terapi, apa yang sekarang kamu rasakan? Apa saja yang sudah kamu ingat?" tanya Aruna setelah mengantar Anaya kembali melakukan terapi.
Aruna sudah menganggap Anaya sebagai putrinya sendiri, karena wanita itu adalah wanita yang begitu dicintai oleh putranya. Wanita yang mampu membuat Kenzo tersenyum dengan begitu lebar.
Wanita yang mampu membuat Kenzo semangat dalam bekerja, bahkan dengan kehadiran Anaya, Kenzo bisa bersikap lebih hangat kepada dirinya dan juga kepada semua keluarganya.
"Rasa trauma yang pernah Naya alami sudah hilang, Bun. Ingatan Naya juga sudah mulai pulih, Naya sudah mulai bisa mengingat semuanya," jawab Anaya.
Dia merasa bahagia sekali karena dia sudah mengingat kenangan indahnya dengan Kenzo, dia juga merasa sedih karena sudah mengingat bagaimana kedua orang tuanya meninggal dalam ledakan kapal.
Namun, dia juga merasa beruntung karena bisa bertemu dengan Alan. Pria paruh baya itu begitu tulus mengasihi dirinya, dia benar-benar bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan begitu menyayangi dirinya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, Buna senang mendengarnya. Lalu, apa yang sekarang akan kamu lakukan, Naya?" tanya Aruna.
Anaya meremat kedua tangannya secara bergantian, dia sudah memiliki rencana tetapi begitu ragu untuk berkata kepada Aruna. Lebih tepatnya takut ditertawakan oleh wanita itu.
"Apa, Sayang?" tanya Aruna lagi.
"Mau lakukan sesuatu sama Ken," jawab Anaya malu-malu.
"Lakukan apa? Jangan bilang kamu mau menyerahkan keperawanan kamu kepada Ken!" ujar Aruna.
Anaya begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, karena walaupun dia begitu mencintai Kenzo, tetapi rasanya untuk yang satu itu belum waktunya diberikan kepada pria yang dia cintai itu.
"Buna, ih! Mana ada kaya gitu, besok adalah hari di mana Ken pernah menyatakan cinta sama Naya. Jadi Naya mau minta Ken untuk mengulang masa itu," ujar Anaya.
Aruna menghela napas lega, karena ternyata Anaya bukan ingin melakukan hal yang tidak-tidak. Hanya pikiran Aruna saja yang terlalu berlebihan.
"Eh? Maaf! Buna kira kamu--"
Aruna tidak meneruskan ucapannya, dia malah tertawa seraya memeluk Anaya. Dia berharap cinta putranya akan mendapatkan kebahagiaannya, jangan lagi ada kesedihan.
Jangan pernah lagi ada tangisan penuh luka, hanya boleh ada tangisan penuh kebahagiaan. Itulah yang Aruna sangat inginkan.
Kenzo baru pulang bekerja, dia terlihat begitu lelah sekali. Pria muda itu langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya, Kenzo nampak berganti baju dan Kenzo langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
"Bun, Naya mana?" tanya Kenzo seraya mengedarkan pandangannya.
"Mungkin masih di dalam kamarnya, ayo kita makan saja dulu," jawab Aruna.
Sebenarnya Kenzo merasa khawatir, karena sejak bangun tidur dia belum bertemu dengan Anaya. Sarapan juga tidak bertemu, bahkan sampai dia tiba di tempat kerjaan Anaya tidak mengirimkan pesan chat sama sekali.
Tadi siang dia juga sempat pergi ke rumah makan dan Anaya tidak ada di sana. Kini setelah dia pulang bekerja, Anaya juga tidak ada.
Apa mungkin Anaya sakit, pikirnya. Karena seharian ini Kenzo sama sekali belum bertemu dengan gadis pujaan hatinya itu.
"Tapi, Bun. Naya ngga sakit, kan?" tanya Kenzo.
"Naya sangat baik, dia akan makan malam setelah kita. Ayo makan," ajak Aruna.
__ADS_1
Walaupun lesu, tetapi pada akhirnya ikut makan malam bersama dengan Aruna. Namun, pikirannya tetap tertuju kepada Anaya. Dia sungguh takut jika terjadi sesuatu hal terhadap wanita itu.
Kenzo bahkan sampai tidak fokus saat makan, Aruna hanya tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya. Karena dia sangat paham dengan apa yang kini dirasakan oleh putranya.
Setelah selesai makan, Kenzo tentunya berpamitan kepada ibunya untuk masuk ke dalam kamar Anaya. Karena dia benar-benar penasaran dengan keadaan wanita itu.
"Mau ngapain ke kamar Naya?" tanya Aruna.
"Mau lihat Naya, Bun. Kok aku seharian ini belum ketemu sama dia," jawab Kenzo.
"Mau ketemu? Beneran hanya ketemu? Ngga ngelakuin yang aneh-aneh, kan?" tanya Aruna.
Sebenarnya Aruna sangat tahu jika putranya tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak, hanya saja dia memang ingin menggoda putranya.
"Buna, ih! Ngga akan, Ken sangat tahu di mana batasan antara pacaran dan menikah. Paling cuma cium," jawab Kenzo jujur.
"Ken!" pekik Aruna.
Dia tidak percaya jika putranya akan mengatakan hal itu, Kenzo yang mendapatkan teriakan dari ibunya hanya tersenyum lalu memeluk ibunya tersebut.
"Jangan marah, Ken temui Naya dulu," ujar Kenzo.
Setelah berpamitan kepada ibunya, Kenzo langsung melaporkan kakinya untuk segera menemui kekasih hatinya.
Saat tiba di depan pintu kamar Anaya, Kenzo nampak mengetuk pintu kamar itu beberapa kali. Beberapa kali dia memanggil nama Anaya, sayangnya dia tidak mendapatkan sahutan sama sekali.
Karena merasa begitu penasaran, akhirnya Kenzo berusaha untuk membuka pintu kamar itu. Dahi Kenzo nampak berkerut dalam karena pintu kamar Anaya tidak terkunci.
''Naya! Kamu di mana, Sayang? Kamu lagi apa? Kenapa ngga keluar kamar?" tanya Kenzo beruntun.
Tak juga pria itu mendapatkan sahutan, akhirnya dia masuk ke dalam kamar itu dan mengedarkan pandangannya. Namun, di dalam kamar itu tidak ada Anaya.
"Apa dia sedang di dalam kamar mandi?" tanya Kenzo kepada dirinya sendiri.
Karena merasa penasaran akhirnya dia melangkahkan kakinya untuk mengecek kamar mandi, tetapi dia juga tidak menemukan Anaya di sana.
"Kenapa kamar mandinya kosong? Ke mana Naya?" tanya Kenzo mulai was-was.
Saat dia sedang merasa was-was karena memikirkan Anaya, tiba-tiba saja dia mendengar ponsel miliknya berdenting. Dengan cepat Kenzo mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana.
__ADS_1
"Dari Naya," ujar Kenzo seraya menatap layar ponselnya.