Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 135


__ADS_3

"Kenapa takut aku ngga nerima kamu? Memangnya aku kenapa?" tanya Ayana yang melihat Sandi diam saja.


Sandi menundukkan pandangannya, dia merasa tidak berani untuk membalas tatapan mata dari Ayana. Dia seakan tidak punya nyali.


"Karena aku hanya orang biasa, aku bukan pria kaya. Aku bukan seorang pewaris tahta," jawab Sandi.


Sandi mengungkapkan alasannya, karena pada kenyataannya keadaannya benar-benar berbanding terbalik dengan keadaan dari Ayana.


"Lalu? Kenapa sekarang kamu berani ngomong? Memangnya kamu sekarang sudah jadi pria kaya?" tanya Ayana lagi.


Sandi ingin sekali menangis mendengar pertanyaan dari Ayana, pria yang sedang menundukkan pandangannya itu langsung memberanikan diri untuk menatap wajah Ayana.


"Belum, Moo. Belum kaya, tapi aku janji akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan kamu walaupun tidak dengan harta yang melimpah." Sandi benar-benar harap-harap cemas dengan reaksi Ayana.


Ayana menggedikkan kedua bahunya, wanita itu lalu memonyongkan bibirnya dengan kedua alis yang terangkat. Sandi semakin pesimis melihat reaksi dari Ayana.


"Lalu, sekarang kamu maunya apa?" tanya Ayana.


Sandi menatap wajah Ayana dengan harap-harap cemas, tetapi walaupun seperti itu dia benar-benar berharap jika Ayana akan menjadi bagian dari hidupnya.


"Ehm! Aku maunya kamu jadi pacar aku, Moo. Kamu mau ngga?" tanya Sandi harap-harap cemas.


Pria itu bahkan berbicara dengan begitu pelan, sungguh keberaniannya sebagai seorang pria menciut dihadapkan dengan Ayana.


"Hanya pacar?"


Sandi kebingungan mendengar pertanyaan dari Ayana, dia tidak tahu harus menjawab apa. Pria itu malah terlihat menggaruk tengkuk lehernya, dia seolah sedang mencari jawaban yang tepat.


"Aih! Malah diem, kamu ngga ada niat buat lamar aku gitu? Kamu ngga mau jadiin aku istri kamu gitu?" tanya Ayana.


Mata Sandi langsung mengerjap beberapa kali, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ditanyakan oleh Ayana kepada dirinya. Sandi bahkan menepuk wajahnya beberapa kali, dia takut jika sekarang ini hanyalah sebuah mimpi bagi dirinya.


"Eh? Bukannya tidak mau, tapi buat modal nikahnya belum ada. Kamu mau ngga nunggu aku ngumpulin uangnya buat kita menikah?" tanya Sandi.


Ayana menepuk-nepuk pundak Sandi, dia tersenyum dengan begitu manis ke arah Sandi lalu berkata.

__ADS_1


"Aku ditawari jadi pacar kamu aja belum jawab loh, masa udah nanya mau nunggu?"


Astagfirullah! Sandi hanya bisa mengerjapkan matanya dengan apa yang dikatakan oleh Ayana, sungguh kata-kata yang keluar dari bibir wanita itu membuat dirinya sangat bingung.


"Moo! Jangan permainkan aku, sebenarnya bagaimana perasaan kamu sama aku?" tanya Sandi.


Sandi benar-benar takut jika Ayana hanya mempermainkan dirinya saja, padahal Sandi benar-benar begitu mencintai wanita itu.


"Aku cinta sama kamu sejak lama, tapi kamu malah berkali-kali pacaran dengan wanita lain. Padahal aku begitu mencintai kamu sejak lama, jika kamu sedang ada masalah dengan pacar-pacar kamu itu, kamu selalu bercerita kepadaku. Apakah kamu tidak pernah berpikir bagaimana perasaan aku saat itu?" tanya Ayana.


Ayana berkata dengan sendu, tentu saja hal itu membuat Sandi merasakan dua perasaan sekaligus saat ini.


Senang?


Tentu saja Sandi merasa sangat senang karena ternyata Ayana juga mencintai dirinya, tetapi dia juga merasa sedih karena tidak bisa membaca perasaan wanita itu sejak lama.


Dia malah mencoba melupakan Ayana dengan menjalin hubungan dengan wanita lain, tetapi nyatanya hubungannya selalu berakhir sia-sia.


Parahnya lagi dia selalu menceritakan percintaannya dengan wanita-wanita di luar sana kepada Ayana, karena dulu dia tidak mengetahui perasaan Ayana terhadap dirinya.


"Moo, maaf. Aku kira kamu ngga pernah suka sama aku, abisnya kamu terlihat biasa saja kalau sedang bersamaku." Sandi menatap Ayana dengan tatapan penuh penyesalan.


Jika saja Sandi tahu kalau Ayana menyukai dirinya sejak lama, Sandi pasti tanpa ragu akan mengungkapkan perasaannya kepada wanita itu.


"Kamu tahu kenapa aku melakukan hal itu?" tanya Ayana.


Sandi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena nyatanya dia tidak tahu kenapa Ayana selalu saja bersikap biasa saja kepada dirinya. Bahkan, terkadang Ayana menatap dirinya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Karena aku sangat mencintai kamu, aku berharap kamu bisa bahagia dengan salah satu wanita yang kamu jadikan pacar itu. Walaupun aku tidak bisa memiliki kamu, karena ada pepatah yang mengatakan jika titik terbaik mencintai itu adalah membiarkan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya," jawab Ayana.


"Kamu salah Moo!" ujar Sandi.


"Apanya yang salah?" tanya Ayana dengan bingung.


Bukankah apa yang dia katakan sudah benar adanya, lalu kenapa pria itu berkata jika apa yang dia katakan adalah hal yang salah, pikirnya.

__ADS_1


"Titik terbaik mencintai seseorang itu adalah di mana kita berusaha untuk mendapatkan orang itu dan membahagiakannya, bukan melepaskan dia demi orang lain yang menurut kamu bisa membuat dia bahagia," jawab Sandi.


"Ya ampun! Ajaran dari mana itu?" ujar Ayana disertai tawa.


"Ajaran aku, jadi gimana Moo? Kamu mau kan' jadi pacar aku? Karena untuk menjadikan kamu seorang istri aku butuh waktu, mau kan' Moo?" tanya Sandi lagi.


"Kalau misalkan aku mau, apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu sebisa aku," jawab Sandi.


"Hem! Boleh aku berpikir dulu?" tanya Ayana.


Untuk berpikir Sandi tidak apa-apa, yang terpenting Ayana tidak meminta waktu yang lama. Karena jika terlalu lama menunggu, rasanya Sandi akan merasa tersiksa.


''Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?"


"Satu bulan mungkin," jawab Ayana asal.


"Moo! Kelamaan," ucap Sandi penuh protes.


Wajah pria itu langsung ditekuk, menunggu waktu satu bulan rasanya begitu lama. Dia maunya menunggu jawaban dalam waktu sebentar saja.


"Oke, kalau gitu aku mau jadi pacar kamu. Tapi, jangan lama-lama ngumpulin uangnya. Karena aku tidak mau dipacarinya terlalu lama, takutnya nanti malah khilaf." Ayana memberikan syarat.


"Serius?" tanya Sandi dengan senang.


Sandi tentunya berjanji akan berusaha untuk menjaga hubungan mereka dengan baik, dia akan berusaha untuk memperlakukan Ayana dengan baik. Bukan menjadikan Ayana sebagai budak napsunya.


"Serius!" jawab Ayana.


Ah! Sandi benar-benar sangat bahagia mendengar jawaban dari Ayana, tanpa ragu pria itu langsung bangun dan memeluk Ayana dengan erat.


Bahagia sekali rasanya saat Ayana menyatakan bersedia menjadi pacarnya, karena setelah sekian lama memendam perasaan cinta terhadap Ayana, kini Sandi bisa menjadikan Ayana sebagai kekasihnya.


"San! Sesak napas akunya, jangan terlalu erat juga!" protes Ayana.

__ADS_1


"Maaf,'' ujar Sandi seraya melerai pelukannya.


__ADS_2