
"Maafkan aku, Aruna. Aku tahu jika diriku sudah begitu menyakiti kamu, kamu pasti sangat sakit karena aku selingkuhi. Tapi, Ay ada kamu dan bahkan ada keluarga kamu yang melindungi. Aya tidak punya siapa pun lagi, maaf jika aku terlalu menghawatirkan Aya," ucap Sam.
Ucapan yang terlontar dari pria itu tetap saja membuat hati Aruna panas, karena secara tidak langsung tetap saja Sam mengatakan jika pria itu lebih condong ke arah Ayaka.
Berdekatan dengan Sam membuat Aruna selalu saja emosi, setelah ketahuan selingkuh dan bahkan setelah bercerai Sam tetap saja merupakan pria egois menurut Aruna.
Karena pria itu tidak mau meraba bagaimana perasaannya, hanya Ayaka yang dia pikirkan. Pria itu seolah tidak mau memikirkan orang lain, pria itu tidak mau memikirkan anaknya yang terlahir dari rahim Aruna.
Tidak sadarkah Sam, jika dengan berperilaku seperti itu dia sudah membuat hati Aruna dan juga Ayana hancur. Pria yang dulu dia cintai dan dia kasihi, bahkan sangat dia percaya itu ternyata merupakan pria brengsek.
Pria yang dirasa tidak lebih baik dari sampah, karena sampah saja bisa didaur ulang dan dijual kembali dengan harga yang fantastis. Sedangkan Sam sudah membuat kesalahan tetapi tidak mau bertobat, harga diri pria itu benar-benar sudah tidak ada lagi.
Untuk menjaga kewarasannya Aruna segera meninggalkan Sam, walaupun dia merasa kasihan terhadap Ayaka, tetapi dia juga harus memikirkan putri tercintanya.
"Ya Tuhan! Pria macam apa yang dulu aku nikahi itu?" tanya Aruna seraya tersenyum getir.
Aruna sangat sadar jika pernikahan mereka diawali dengan hal yang tidak baik, pernikahan mereka dilangsungkan secara paksa karena Aruna sudah hamil duluan.
Aruna juga sangat sadar jika dulu dia terlalu polos, dia percaya begitu saja dengan kata apa yang terlontar dari mulut Sam. Seharusnya dia tidak menganggap pria itu menyatakan cinta kepada dirinya, karena hal itu membuat hidupnya hancur berantakan.
"Bodoh! Kamu memang sangat bodoh, Aruna. Mulai saat ini, jangan lagi ada Aruna yang bodoh." Aruna mengusap air matanya yang terus saja mengalir di kedua pipinya.
Saat Aruna tiba di kediaman Dinata, ternyata putrinya sudah tertidur dengan begitu pulas. Aruna duduk di tepian tempat tidur seraya menatap wajah putrinya dengan penuh kasih.
Dia merasa sangat iba, karena di usianya yang masih sangat kecil Ayana sudah harus kehilangan sosok seorang ayah.
"Kasihan sekali kamu, Nak. Karena kamu mempunyai ayah yang begitu brengsek seperti Sam, semoga saja Sigit bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk kamu, jika memang dia jodoh Buna," ujar Aruna.
__ADS_1
Dia usap puncak kepala putrinya, lalu dia menunduk dan mengecup kening putrinya tersebut dengan penuh kasih. Walaupun wajah Ayana begitu mirip dengan Sam, tetapi Aruna tetap menyayangi gadis kecilnya.
Justru yang menguatkan dirinya sampai saat ini adalah keberadaan Ayana, tentunya dia juga merasa bisa lebih tenang karena dukungan dari keluarganya. Bahkan, Sigit juga turut menguatkan dirinya.
Setelah puas menatap wajah putrinya, Aruna memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin mandi dan segera melaksanakan kewajibannya terhadap Sang Khalik, Aruna bahkan belum makan karena terlalu memikirkan Ayaka.
Di tempat lain.
Angel kembali menuju ibu kota, dia berniat untuk melakukan operasi plastik di negara Korea Selatan. Namun, dia ingin pergi dengan menggunakan identitas temannya.
Tentu saja hal itu dia lakukan untuk menghindari polisi, karena jika dia menggunakan identitas miliknya maka keberadaannya akan langsung diketahui.
Angel sengaja datang ke kediaman Amber, sahabat Angel sejak duduk di bangku SMP. Dia sangat yakin jika sahabatnya itu pasti akan membantu dirinya, karena dulu di saat keadaannya masih di atas Angel selalu membantu Amber.
"Elu ngapain dateng ke rumah gue?" tanya Amber.
Walaupun dulu Angel memang selalu membantu dirinya, tetapi dia tidak mau membahayakan dirinya dengan membantu wanita buronan seperti Angel.
"Gue butuh bantuan elu, gue pengen pergi ke Korea Selatan buat operasi plastik. Gue pinjem identitas diri elu biar bisa pergi dengan mudah," pinta Angel.
Untuk masalah uang Angel memiliki uang yang begitu banyak, dia hanya memerlukan identitas sahabatnya tersebut. Angel berpikir harus segera mengoperasi plastik wajahnya, karena dengan seperti itu dia akan aman dan terbebas dari kejaran polisi.
"Gue ngga bisa, gue takut nanti akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan." Amber berkata dengan jujur, dia bahkan terlihat hendak meninggalkan Angel sendirian.
Angel terlihat begitu kesal dengan jawaban yang terlontar dari mulut Amber, dia menghampiri sahabatnya itu dan mencekal pergelangan tangan Amber.
"Elu emang temen sampah, dulu saat keluarga gue kayak elu selalu gue tolong. Ngga punya duit buat sekolah aja gue yang biayain, sekarang aja udah jadi dokter elu malah ngga mau nolong gue!" kesal Angel.
__ADS_1
Angel menatap Amber dengan tatapan penuh kebencian, kini dirinya sudah susah dan tidak ada yang mau membantu dirinya. Dia benar-benar merasa kesal karena wanita yang sudah dia anggap sebagai sahabatnya juga tidak mau membantu dirinya sama sekali.
"Wow! Elu hebat banget, ya. Di saat sudah sukses seperti ini elu malah ngga mau bantuin gue, oke. Kalau begitu elu siap-siap hancur, karena gue bakal bongkar kesalahan elu di masa lalu," ancam Angel.
Dulu saat pertama kali masuk sekolah SMA Amber pernah melakukan kesalahan, dia pernah menabrak seorang pejalan kaki sampai mati di tempat. Amber yang takut dipenjara langsung lari dan bersembunyi di dalam rumah Angel, bahkan mobil yang dia pakai langsung dijual dibantu oleh kedua orang tua Angel.
Amber tidak dipenjara karena dilindungi oleh kedua orang tua Angel, jadi... menurut Angel rasanya permintaannya sangatlah tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan oleh yang kedua orang tuanya dahulu.
"Jangan! Oke, gue bantu elu pergi dengan menggunakan identitas gue. Besok gue beliin tiket atas nama gue, elu boleh pergi menggunakan identitas diri gue." Amber menghela napas berat, dia kesal tapi tidak bisa marah kepada wanita itu.
Karena walau bagaimanapun juga jasa Angel sangatlah banyak di dalam hidupnya, setidaknya itu adalah bentuk balas jasa dari dirinya untuk Angel.
"Good girl!" ucap Angel seraya menepuk-nepuk pundak Amber.
Dia hari kemudian.
Setelah dua hari menumpang di kediaman Amber, Angel akan pergi untuk melakukan operasi plastik. Angel sudah bersiap untuk pergi ke Korea Selatan, tentunya semua keperluan yang dia butuhkan sudah siap.
"Gue pergi dulu, thanks atas semuanya." Angel memeluk sahabatnya dengan begitu erat.
Walaupun selama dua hari ini wajah Amber terlihat tidak suka saat menatap dirinya, tetapi Angel merasa senang karena wanita itu tetap memberikan tumpangan dan memberikan dia makan.
''Hem!" jawab Amber dengan deheman saja.
Setelah berpamitan kepada sahabatnya, Angel pergi menuju bandara dengan menggunakan taksi. Dia memakai dress tanpa lengan dengan warna yang begitu cerah, dia juga menggunakan topi kacamata serta masker agar tidak dikenali oleh banyak orang.
Setelah sampai di Bandara, seorang petugas keamanan terlihat menghampiri Angel. Dia merasa curiga karena wanita itu terlihat berpenampilan begitu tertutup, bahkan untuk melihat wajah Angel saja petugas itu sampai tidak bisa.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Bisakah anda membuka topi dan maskernya terlebih dahulu?" tanya petugas keamanan tersebut.