Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 84


__ADS_3

Malam Ini Ayaka dan juga Ayana tidur dalam satu kamar yang sama, walaupun wajah Ayaka terlihat buruk rupa, tetapi Ayana sama sekali tidak merasa jijik ataupun ketakutan.


Justru, Ayana memperlakukan anak itu dengan begitu baik. Bahkan, Ayana memberikan mainan kesayangannya kepada Ayaka. Ayana benar-benar memperlakukan Ayaka seperti adik kandungnya sendiri.


Lalu, bagaimana dengan Aruna dan juga Sigit?


Malam ini keduanya benar-benar melakukan percintaan yang begitu panas, Aruna sampai merasakan pelepasannya berkali-kali. Sigit benar-benar merasa bangga dibuatnya, dia merasa jika dirinya merupakan pria yang begitu perkasa.


Setelah pergulatan panas antara Aruna dan juga Sigit berakhir, keduanya terlihat saling memeluk dan napas yang masih terengah-engah.


"Kamu luar biasa, Sayang. Aku sangat puas, besok lagi ya?" ujar Sigit seraya menunduk lalu mengecup bibir istrinya.


"Jangan ah! Cape, seminggu tiga kali aja," tawar Aruna.


"No! Setiap hari dan itu harus, karena aku ingin segera melihat perut kamu membesar karena ulahku. Aku mau segera memiliki bayi," ujar Sigit.


Hati Aruna tersentuh mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, dia juga merasakan hal yang sama. Dia ingin memiliki keturunan dari suaminya itu, biar rumah mereka terasa ramai.


Dari kecil Aruna selalu merasa kesepian, karena dia hany tinggal berdua saja dengan Arimbi. Dia jarang bergaul dengan anak-anak lainnya, karena dia merasa tidak percaya diri dengan keadaannya.


"Aku juga ingin punya keturunan, tapi jangan setiap hari juga. Nanti pinggang aku bisa encok," kesal Aruna.


"Ya, ya, ya," jawab Sigit mengalah.


Keesokan paginya.


Setelah selesai sarapan Sigit langsung berangkat kerja sekaligus mengantarkan Ayana untuk sekolah, sedangkan Aruna baru bersiap untuk pergi dengan Ayaka. Karena mereka memang janji temu dengan dokter kulit pukul sembilan pagi.


Aruna sudah mendandani Ayaka, gadis kecil itu memakai dress cantik berwarna pink, rambutnya juga sudah Aruna ikat dua.


Ayaka kini sedang duduk di depan teras, selain menunggu Aruna bersiap, dia juga berharap bisa bertemu dengan Stefano sebelum anak itu berangkat sekolah. Karena hari ini jadwal Stefano masuk sekolah adalah siang hari.


"Kenapa rumah nyonya Andin begitu sepi?" tanya Ayaka dengan bingung.


Kalau pun Andin sudah berangkat bekerja, biasanya ada bibi yang mondar-mandir di halaman rumah. Namun, rumah itu benar-benar terlihat sepi dan terlihat tidak berpenghuni.


Karena merasa penasaran, akhirnya Ayaka menghampiri security yang berjaga di rumah Aruna. Lalu, gadis kecil itu bertanya kepada security tersebut.


"Pak! Apa bapak tahu kenapa rumah itu begitu sepi?" tanya Ayaka seraya menunjuk rumah Andin.


"Oh! Yang punya rumah udah pindah, tunggu sebentar."

__ADS_1


Security itu nampak masuk ke dalam pos jaga, lalu dia mengambil kotak kecil dan memberikannya kepada Ayana.


"Ini ada titipan dari den Fano," ujar security tersebut.


"Apa ini, Pak?" tanya Ayaka.


"Bapak tidak tahu, coba nona buka sendiri saja," jawab security tersebut.


Dengan perlahan Ayaka membuka kotak yang diberikan oleh security tersebut, tidak lama kemudian dia tersenyum saat melihat gelang milik Stefano. Gelang yang selalu dipakai oleh pria kecil itu, Ayaka juga menemukan secarik kertas di sana.


Ayaka terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena anak itu belum bisa membaca. Dia hanya bisa menatap tulisan tersebut seraya mengernyitkan dahinya.


Aruna yang sudah selesai bersiap langsung menghampiri Ayaka, dia tersenyum ketika melihat wajah Ayaka yang terlihat begitu menggemaskan di matanya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Aruna.


"Ini, Tante. Aku dapet surat dari kak Fano, tapi aku ngga bisa bacanya." Ayaka memberikan secarik kertas itu kepada Aruna.


Aruna menerima secarik kertas itu dari tangan mungil Ayaka, lalu dia melihat tulisan tangan dari Stefano.


"Mau Tante bacakan?" tanya Aruna.


Aruna langsung membacakan apa yang tertulis di dalam secarik kertas tersebut, Ayaka terdiam seraya mendengarkan apa yang dibacakan oleh Aruna.


Teruntuk adikku Aya


Maaf jika Kakak pergi tapi tidak berpamitan terlebih dahulu, mulai hari ini Kak Fano pindah ke luar kota. Entah kota mana, Kakak juga tidak tahu. Maaf karena kakak tidak bisa menemani kamu untuk bermain, maaf karena Kakak tidak bisa mengajari kamu untuk membaca dan menulis.


Semoga kamu bisa hidup bahagia dengan keluarga baru kamu, Kakak sayang Aya. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali, karena setelah Kakak kerja nanti, Kakak akan temui Aya.


Salam sayang dari Kakak.


Ayaka langsung menangis setelah Aruna membacakan surat tersebut, dia merasa bersedih karena Stefano sudah pergi. Padahal, pria kecil yang sudah dianggap sebagai kakak laki-lakinya itu benar-benar sangat baik hati.


"Jangan nangis, nanti suatu saat nanti kalian bisa bertemu lagi," ujar Aruna berusaha untuk menenangkan Ayaka.


"Ya, Tante," ujar Ayaka seraya memeluk Aruna.


"Jangan nangis, kita akan pergi ke rumah sakit. Kita akan mengobati luka Aya, nanti Aya bisa cantik lagi." Aruna mengusap puncak kepala Ayaka.


"Iya, Tante," jawab Ayaka.

__ADS_1


Walaupun Aruna berencana akan mengasuh Ayaka dan memberikan perhatian sebagai seorang ibu kepada putrinya, tetapi dia tidak meminta Ayaka untuk memanggil dirinya dengan sebutan bunda. Karena Aruna sangat yakin jika gadis kecil yang dia tolong pasti mempunyai kedua orang tua.


Setelah Ayaka terlihat lebih tenang, Aruna langsung mengajak Ayaka untuk pergi ke rumah sakit. Ayaka menurut, karena memang dia ingin sembuh kembali.


Pada saat mereka tiba di ruang dokter kulit, Ayaka langsung mendapatkan pemeriksaan. Karena memang Aruna sudah janji temu dengan dokter kulit itu.


"Kerusakan pada wajah mencapai tujuh puluh persen, jika kita melakukan operasi pun, wajah putri anda bisa kembali cantik. Tapi, tidak bisa terlihat sama seperti wajah sebelumnya," ujar Dokter.


Aruna terlihat begitu sedih mendengar penjelasan dari dokter, lihat aku jika Ayaka akan kecewa karena wajahnya akan berubah setelah dioperasi nanti.


Namun, tanpa Aruna tahu justru Ayaka sangat bahagia ketika dia mendengar jika wajahnya tidak akan kembali seperti dulu, walaupun memang bisa cantik kembali.


Ayaka justru merasa sangat bahagia jika wajahnya berubah menjadi lain, karena itu artinya ketika dia bertemu dengan Angel, wanita itu tidak akan mengenali dirinya.


Ayaka benar-benar merasa sakit hati ketika Angel pergi meninggalkan dirinya begitu saja, padahal dia sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


Hatinya benar-benar menjerit ketika Angel malah menatap dirinya yang bersimbah darah tanpa beban, Ayaka sakit hati dan juga kecewa terhadap ibunya.


"Aku minta tolong kepada anda, lakukan yang terbaik untuk putri saya. Karena saya tidak mau dia memiliki beban yang begitu besar dengan wajahnya yang seperti ini," mohon Aruna.


"Akan kami usahakan, Nyonya. Yang menentukan tetap Tuhan, kami hanya jalan." Dokter tersenyum hangat setelah mengatakan hal itu.


"Iya, Dok. Saya paham, kira-kira kapan bisa dilakukan operasi?" tanya Aruna.


"Secepatnya, kita akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Setelah semuanya siap, anak anda sudah siap untuk dioperasi," jelas Dokter.


"Oke," ujar Aruna.


Akhirnya dokter melakukan pemeriksaan kesehatan kepada Ayaka, anak itu nampak tenang ketika dilakukan pemeriksaan. Tidak lama kemudian, dokter menyatakan jika kondisi Ayaka sangat sehat.


Ayaka bisa melakukan operasi dua hari lagi, baik Ayaka ataupun Aruna terlihat begitu senang sekali. Aruna senang karena Ayaka pasti tidak akan terbebani lagi dengan wajahnya yang buruk rupa.


Begitupun dengan Ayaka, dia merasa senang karena akhirnya wajahnya akan menjadi cantik kembali. Walaupun tidak sama dengan wajahnya yang dulu.


"Aya harus sehat, harus kuat. Dua hari lagi Aya akan melakukan operasi, Aya harus semangat biar operasinya lancar." Aruna menyemangati Ayaka, mata Ayaka nampak berkaca-kaca lalu memeluk Aruna dengan begitu erat.


"Makasih, Tenta. Walaupun Tante bukan bunda aku, tetapi Tante begitu baik sama aku. Tante seperti malaikat," ujar Ayaka dengan tulus dari dasar hatinya.


"Sama-sama, Sayang. Ayo kita pulang," ajak Aruna.


"Ya, Tante," jawab Ayaka.

__ADS_1


__ADS_2