
"Katanya aku punya kacang yang lain? kacang apa?" tanya Sigit seraya mengerutkan dahinya.
Setelah cukup lama berpikir tetap saja dia tidak menemukan jawabannya, karena merasa penasaran akhirnya dia keluar dari ruangan tersebut. Lalu, dia menyusul istrinya ke dalam kamar utama.
Saat Sigit masuk ke dalam kamar utama, dia melihat Aruna yang sudah memakai lingerie seksi berwarna merah terang. Tubuh Aruna terlihat berbayang karena dia tidak memakai dalaman-nya, Sigit sampai menelan salivanya dengan susah payah.
Terlebih lagi kini Aruna sedang berpose dengan begitu menantang, dia terlentang di atas tempat tidur seraya menyangga kepalanya dengan tangan kirinya.
Tangan kanannya terlihat sedang mengusap-usap kedua dadanya secara bergantian, kedua kakinya terlihat dia lebarkan. Matanya terlihat memicing, bahkan dia juga terlihat menggigit bibir bawahnya.
Aruna benar-benar terlihat begitu menggoda di mata Sigit, padahal pria itu masuk ke dalam kamar untuk bertanya kepada istrinya. Namun, dia malah menghampiri istrinya dan mengungkung pergerakan istrinya tersebut.
"Kamu seksi banget, Yang! Si Otong Ampe bangun, katanya dia mau masuk," ujar Sigit.
Pria itu menunduk lalu mengecup bibir istrinya, Sigit bahkan terlihat meremat dada istrinya yang terasa begitu padat dan juga sudah mengeras.
"Aih! Kenapa malah pegang yang itu? Katanya mau kacang," ujar Aruna.
Sigit yang sudah lupa perihal kacang kini malah teringat kembali, Sigit yang memang penasaran dengan kacang yang dimaksud oleh Aruna, tentunya langsung bertanya.
"Memangnya mana kacang punyaku?" tanya Sigit.
"Awas dulu kamunya," ujar Aruna seraya mendorong dada suaminya.
Sigit menuruti apa yang dikatakan oleh istrinya, dia terlihat bangun dari tubuh istrinya dan duduk tepat di samping istrinya tersebut.
"Mana kacangnya?" tanya Sigit.
"Ini!" jawab Aruna seraya membuka kedua kakinya dengan lebar, lalu dia mengusap bagian terkecil dari inti tubuhnya.
''Ya ampun!" keluh Sigit seraya terkekeh.
Sigit benar-benar tidak menyangka dengan tingkah dari istrinya tersebut, karena ternyata kacang yang dimaksud oleh istrinya adalah benda favoritnya.
"Nakal!" keluh Sigit seraya mencubit gemas pipi istrinya.
__ADS_1
"Ck! Ini bukan nakal namanya, tetapi ini adalah kode keras buat kamu. Kalau aku lagi pengen," ujar Aruna dengan jujur.
"Ya ampun! Tapi si Otong katanya mau diservis dulu, kalau kamu bersedia, katanya dia mau diemut." Sigit langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia bahkan tanpa ragu langsung melucuti pakaian yang dia kenakan.
"Ya ampun!" keluh Aruna saat melihat si Otong yang sudah berdiri dengan tegak, tetapi suaminya masih saja minta di servis.
Satu minggu kemudian.
Tingkah Aruna semakin aneh saja, hal itu membuat Sigit terkadang kebingungan harus menghadapi istrinya itu seperti apa. Terkadang Aruna akan marah-marah karena hal yang sepele, terkadang Aruna juga akan menangis karena hal yang tidak penting.
Bahkan satu hal yang membuat Sigit menggeleng-gelengkan kepalanya, Aruna sudah dua hari ini tidur bersama dengan Ayana dan juga Ayaka.
Dia tidak mau tidur dengan Sigit karena Aruna berkata jika tubuh Sigit tercium bau yang tidak sedap, padahal dia sudah mandi dan juga memakai parfum yang banyak agar tercium wangi.
Namun, Aruna tetap saja tidak mau tidur dengan dirinya. Aruna bahkan mengeluh sering merasa lelah, kaki dan juga tangannya sering terasa pegal.
Aruna akan meminta tolong kepada Ayaka untuk memijatnya, Ayaka terlihat begitu senang sekali ketika Aruna meminta dia melakukan hal itu.
Bahkan Ayaka terlihat tertawa dengan begitu riang ketika Aruna memuji dirinya, Aruna berkata jika pijatan tangan Ayaka sangatlah enak dan membuat dirinya nyaman.
"Terima kasih sayang-sayangnya, Buna. Buna senang sekali punya dua anak cantik-cantik seperti kalian," ucap Aruna memuji.
"Aya juga senang," ucap Ayaka.
"Ay juga senang, Buna." Ayana langsung memeluk ibunya.
Berbeda dengan Sigit, pria itu nampak tersiksa sekali. Sigit hanya bisa melihat kebersamaan tiga wanita cantik berbeda usia itu dari ambang pintu, ingin sekali dia masuk dan ikut bergabung dengan ketiga wanita itu.
Sayangnya, setiap Sigit berdekatan dengan Aruna, wanita itu selalu saja mengeluh bau. Sigit hanya bisa menghela napas berat, lalu dia berkata.
"Yang, aku beneran nggak boleh gabung? Aku nggak boleh peluk kamu?" tanya Sigit seraya mengusap-usap kusen pintu.
"No!" jawab Aruna seraya menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun! Istriku jadi galak dan aneh, lihat saja nanti. Aku akan adukan kamu sama ayah dan juga bunda, biar kamu diomelin sama mereka karena sudah menjadi istri yang durhaka." Sigit mengerucutkan bibirnya, lalu dia pergi dari sana seraya menghentakkan kedua kakinya.
__ADS_1
Aruna, Ayana dan Ayaka langsung tertawa melihat tingkah dari Sigit. Aruna bahkan sampai mengeluarkan air mata karena menurutnya tingkah Sigit itu benar-benar sangat lucu.
"Buna, ini sudah malam. Mau bobo satu ranjang sama Ay atau sama Aya?" tanya Ayana yang merasa sudah mengantuk.
Walaupun Ayaka dan Ayana tidur di dalam kamar yang sama, tetapi di sana ada dua ranjang yang berbeda. Hal itu sengaja Aruna lakukan, agar keduanya merasa nyaman karena memiliki tempat tidur sendiri.
"Buna malam ini mau bobo sama Aya, boleh?" tanya Aruna seraya menatap wajah Ayana dengan lekat.
"Boleh, Buna. Masa Buna mau tidur sama adik aku aja nggak boleh," ujar Ayana seraya terkekeh.
Beberapa bulan ini Ayana dan juga Ayaka terlihat menjalani hari-hari mereka dengan penuh kebahagiaan, keduanya terlihat begitu kompak dan juga akur.
Bahkan, Ayaka terlihat lebih sering mengalah kepada Ayana. Anak itu terlihat lebih pengertian kepada Ayana, bahkan kalau punya apa pun selalu saja Ayana yang diutamakan oleh Ayaka.
Ayaka juga selalu bersikap begitu baik kepada Aruna, bahkan kini Ayaka terlihat lebih dekat dengan Aruna. Namun, hal itu tidak membuat Ayana iri hati. Justru dia merasa senang.
Ayaka bahkan sudah memeluk agama Islam, karena anak itu berkata jika melihat orang shalat atau mendengar ada yang melantunkan ayat suci Al Quran, hatinya selalu saja berdebar dan ingin mengikuti lantunan ayat suci Al-Qur'an itu.
"Putri Buna memang sangat baik," ujar Aruna.
Setelah mengatakan hal itu, Aruna langsung merentangkan kedua tangannya. Ayana dan juga Ayaka langsung masuk ke dalam pelukan Aruna, ketiga wanita berbeda usia itu terlihat begitu bahagia dan juga ceria.
Berbeda dengan Sigit, pria itu kini sedang cemberut di dalam kamar utama. Karena benar-benar merasa sudah tidak tahan, akhirnya dia mengambil ponselnya dan menghubungi Satria.
"Assalamualaikum, Sigit. Ada apa? Kenapa malam-malam seperti ini menelpon? Apakah Aruna sakit atau bagaimana?" tanya Satria.
*
*
*
*
Pemenang Pulsa 20k ada tiga orang ya, Beb. Jangan lupa kirim no kalian ya, hanupis.
__ADS_1