
Setelah sampai di Bandara, seorang petugas keamanan terlihat menghampiri Angel. Dia merasa curiga karena wanita itu terlihat berpenampilan begitu tertutup, bahkan untuk melihat wajah Angel saja petugas itu sampai tidak bisa.
"Maaf, Nona. Bisakah anda membuka topi dan maskernya terlebih dahulu?" tanya petugas keamanan tersebut.
Angel benar-benar terlihat begitu gelisah, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Dia mulai terlihat tidak nyaman, dia bahkan seakan hendak berlari untuk kabur.
Namun, wanita itu berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Lagi pula dia sudah menyamarkan wajahnya dengan riasan make up, wajahnya saat ini terlihat berbeda dari biasanya.
Akan tetapi, sebisa mungkin dia akan menghindari permintaan dari petugas itu. Kecuali jika sudah tidak bisa, maka dia akan membuka maskernya.
"Maaf, Tuan. Saat ini saya sedang flu, Kalau maskernya dibuka nanti saya takut menulari orang-orang yang ada di sini." Angel memang berbicara dengan tenang, tetapi tetap saja tubuhnya terlihat begitu gelisah.
Petugas keamanan tersebut semakin curiga dengan apa yang dikatakan oleh Angel, terlebih lagi gerak tubuh dari wanita itu sangatlah tidak biasa.
Angel adalah seorang buronan, tentu saja sudah ada petugas yang disediakan di setiap tempat untuk berjaga-jaga. Terminal, Bandara, stasiun dan bahkan di pelabuhan.
Hal itu dilakukan agar polisi lebih cepat menemukan Angel, karena biasanya buronan akan pergi ke luar kota atau ke luar negeri untuk bersembunyi.
"Tidak apa, saya adalah orang yang sangat kebal. Imun tubuh saya begitu kuat, anda hanya perlu membuka masker yang ada pakai dan memperlihatkan wajah anda kepada saya saja. Setelah itu anda boleh melakukan kegiatan selanjutnya," ujar pria itu.
Untuk sesaat Angel terdiam, dia sedang berpikir haruskah melakukan apa yang diminta oleh petugas keamanan tersebut atau tidak.
"Oke," jawab Angel dengan ragu.
Angel membuka masker yang dia pakai, terlihat sudah wajah Angel seperti apa. Walaupun Angel sudah menyamarkan wajahnya dengan riasan make up, tetapi ternyata petugas itu sudah sangat terlatih dalam mengenali wajah seseorang.
Pria itu mengambil handphonenya dan mengetikkan sesuatu di sana, entah pesan apa dan untuk siapa pesan tersebut, tetapi wajah pria itu nampak begitu serius.
Setelah itu petugas keamanan itu nampak menolehkan wajahnya ke arah Angel, dia memperhatikan wajah Angel dengan seksama lalu berkata.
"Bisakah anda menunjukkan identitas diri anda?" tanya petugas itu seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Kembali Angel terlihat begitu gugup, karena kini dia harus menunjukkan identitas diri miliknya. Namun, itu sangat tidak mungkin. Wanita itu dengan cepat mengambil identitas milik Amber.
"Bisa," jawab Angel seraya memberikan identitas milik Amber.
Petugas keamanan itu langsung mengambil identitas yang diberikan oleh Angel, lalu dia memperhatikan wajah Angel dan juga wajah yang ada di kartu identitas tersebut.
Wajah wanita yang ada di hadapannya dengan kartu identitas tersebut tidak ada mirip-miripnya, lalu petugas keamanan itu menolehkan wajahnya ke arah dua petugas lainnya yang sedang berjaga. Dia memberikan kode untuk segera mendekat, lalu petugas keamanan itu menatap Angel dan berkata.
"Anda seorang dokter umum?"
Angel kembali gugup ditanya seperti itu, ini adalah pertama kalinya dirinya memakai identitas orang lain. Ini adalah pertama kalinya dia ditanya-tanya seperti itu oleh seorang petugas keamanan.
"Iya, Tuan," jawab Angel dengan gugup sekali.
"Lalu, kenapa seorang dokter seperti anda bisa bepergian di saat waktu bekerja?"
"Anu, saya sedang cuti." Angel tersenyum canggung setelah mengatakan hal itu.
Petugas keamanan tersebut mencari-cari alasan agar dia bisa membawa Angel ke tempat yang sudah disediakan, karena dia sudah mengetahui identitas wanita tersebut.
Angel terlihat panik, karena walaupun petugas keamanan itu berbicara seraya tersenyum, tetapi Angel merasakan hatinya begitu gelisah dan dia merasa akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Eh? Saya ini mau pergi liburan, tidak membawa alat-alat medis dan juga obat-obatan. Maaf," ujar Angel.
"Kalau begitu saya juga minta maaf," ujar petugas keamanan itu seraya mengkodekan kedua temannya yang sudah berada di belakang Angel untuk membekuk wanita itu.
"Argh!" pekik Angel ketika tangannya dipelintir ke belakang dan langsung dipakaikan borgol.
"Anda harus ikut kami ke kantor polisi," ujar petugas keamanan tersebut.
"Tidak bisa, tolong lepaskan saya. Saya mau pergi berlibur, saya bukan penjahat!" teriak Angel.
__ADS_1
"Anda memang bukan penjahat, Nona. Tapi anda adalah pelaku perbuatan asusila, apakah anda tidak sadar dengan perbuatan anda? Akan ada banyak lelaki yang rusak mentalnya setelah menonton goyangan maut anda, jadi... mari kita selesaikan urusan ini di kantor polisi."
Angel memberontak, dia berusaha untuk melarikan diri. Sayangnya dia tidak bisa melakukan hal itu, karena kedua tangannya sudah diborgol. Kedua polisi yang ada di samping kiri dan kanan Angel juga memegangi kedua tangan wanita itu dengan begitu kuat.
"Sialan! Kalian semua sialan! Lepaskan aku! Aku bukan penjahat, aku tidak mau dibawa pergi ke kantor polisi!" teriak Angel dengan histeris.
Semua orang yang ada di sana nampak memperhatikan tingkah Angel yang seperti orang gila, bahkan ada beberapa orang dari mereka yang mengabadikan kejadian tersebut lewat video dan mengunggahnya melalui akun media sosial mereka.
Tentu saja hal tersebut dengan mudah bisa dilihat oleh semua orang, termasuk Aruna. Aruna merasa miris dengan apa yang terjadi kepada Angel, terlebih lagi saat membaca berbagai caption pada video yang diunggah.
MAU MANGKIR MALAH TERKILIR
GOYANG MAUT BIKIN MENCIUT
SEKARANG BERKOAR, KEMARIN KEENAKAN GOYANG NGEBOR.
GOYANGAN MAUT BIKIN NYALI MENCIUT
"Alhamdulillah! Akhirnya dia ketangkep juga," ujar Aruna puas.
Karena walau bagaimanapun juga wanita itu sudah merusak rumah tangganya dengan Sam, wanita itu sudah melahirkan seorang anak yang membuat anaknya sendiri merasa cemburu dan sakit hati.
Bibir Aruna memang terlihat tersenyum, karena dia merasa bahagia Sam dan juga Angel akhirnya akan merasakan pembalasan yang setimpal dengan apa yang sudah mereka perbuat.
Namun, air matanya juga terus mengalir di kedua pipinya. Karena dia merasa terluka dengan sikap Sam yang tetap tidak merasa bersalah kepada dirinya dan juga Ayana, Sam terkesan lebih menyayangi Ayaka.
"Kenapa, Sayang? Ada apa?" tanya Satria seraya menghampiri putrinya.
"Tidak apa-apa, Yah." Aruna langsung memeluk Satria dengan erat.
Walaupun dia berkata tidak apa-apa, tetapi wanita itu meluapkan kesedihannya dengan menangis di dalam pelukan ayahnya. Satria yang paham tidak banyak bicara, dia membalas pelukan putrinya lalu mengelusi punggung putrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Allah pasti akan mempertemukan kita dengan orang yang salah sebelum kita bertemu dengan orang yang benar, tetap semangat dalam menjalani kehidupan. Ada Ay dan keluarga yang begitu mencintai kamu," ucap Satria menyemangati.
"Hem!" jawab Aruna seraya menganggukkan kepalanya di dalam pelukan ayahnya.