Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 121


__ADS_3

Setelah menanyakan akan pergi ke mana, Stefano nampak melajukan mobilnya menuju alamat yang sudah disebutkan oleh Ayaka. Gadis itu ternyata ingin pergi ke Resto pusat, karena sudah satu bulan dia tidak datang ke sana dan banyak hal yang harus dikerjakan.


Selama perjalanan menuju Resto, keduanya terlihat saling diam. Suasana terasa begitu canggung, Ayaka terus saja menatap jalanan seraya mengetuk-ngetukkan kedua telapak tangannya pada pahanya.


Berbeda dengan Stefano, tangan pria itu nampak fokus dalam mengemudi. Namun, sesekali Stefano akan menolehkan wajahnya untuk melihat wajah cantik Ayaka.


Wajah wanita yang berada di sampingnya memang terlihat cantik, Stefano tidak bisa mengenali wajah itu. Namun, ketika melihat sorot mata Ayaka, Stefano begitu yakin jika Ayaka adalah gadis kecilnya.


"Tolong berhenti di sini saja," ucap Ayaka ketika Stefano hendak membelokkan mobilnya menuju Resto.


Walaupun terasa sangat aneh, tetapi Stefano langsung memberhentikan mobilnya sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Ayaka.


"Kalau berhenti di sini, kamu masih harus jalan kaki sekitar lima puluh meter," ujar Stefano.


Ayaka merasa canggung jika harus diantarkan sampai ke depan lobi Resto, dia sudah seperti seorang gadis yang diantarkan oleh kekasihnya.


"Tak apa, biar sehat. Biar kamu juga ngga usah parkir lagi, tinggal puter balik aja," ujar Ayaka.


Masuk akal, pikir Stefano. Namun, tetap saja pria itu merasa kecewa. Karena sebenarnya Stefano masih ingin berada di dekat wanita itu, walaupun dia belum berani mengatakan jika dia adalah pria yang dulu pernah tinggal bersama dengan Ayaka selama satu tahun.


"Oke," jawab Stefano dengan tatapan matanya yang tidak beralih dari wanita itu.


Ayaka tersenyum mendapatkan tatapan hangat seperti itu dari Stefano, karena tatapan pria itu selalu saja terasa sampai ke hatinya.


"Terima kasih sudah mengantarkan aku," ujar Ayaka.


Ayaka nampak hendak turun dari dalam mobil Stefano. Namun, dengan cepat Stefano mencekal pergelangan lengan dari gadis itu. Ayaka merasa kaget dibuatnya, dia bahkan langsung menatap tangan Stefano dengan tajam.


Gadis itu terlihat begitu kesal dengan apa yang Stefano lakukan terhadap dirinya, menyadari akan hal itu Stefano langsung melepaskan tangannya.


"Maaf, saya tidak bermaksud untuk berbuat macam-macam kepada anda. Saya hanya ingin memberikan ini kepada anda," ujar Stefano.


Stefano langsung mengambil paper bag dan memberikannya kepada Ayaka, gadis itu nampak mengernyitkan dahinya. Dia menatap paper bag itu dengan tatapan penuh tanya.


"Apa itu?" tanya Ayaka.

__ADS_1


Ayaka hanya menatap paper bag itu tanpa ada niat untuk menerimanya, mereka baru saja bertemu. Belum saling mengenal apalagi dekat, rasanya tidak pantas untuk menerima pemberian dari pria itu.


Stefano langsung tersenyum, dia menjawab pertanyaan dari Ayaka dengan antusias.


"Coklat dan juga roti untuk menemani hari anda, biar lebih manis." Stefano menyimpan paper bag itu di atas pangkuan Ayaka.


Gadis itu nampak membuka paper bag tersebut, Ayaka langsung tertawa sumbang melihat sekotak coklat dan juga dua buah roti coklat di dalamnya.


"Terima kasih untuk coklatnya, tetapi kenapa harus satu kotak juga? Isinya dua belas loh, ngga salah kasih aku banyak coklat kaya gini?" tanya Ayaka.


Walaupun dia begitu menyukai coklat dan juga roti, tetapi rasanya apa yang diberikan oleh Stefano terlalu banyak untuk dirinya.


Coklat pemberian dari Stefano itu bisa dia jadikan stok untuk satu minggu, pikirnya.


"Sengaja, Nona. Semoga anda suka," ujar Stefano.


Stefano sempat menundukkan kepalanya, dia takut jika Ayaka tidak mau menerima pemberian dari dirinya.


"Sangat suka, kamu itu sudah seperti kak Ay saja." Ayaka terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Stefano langsung memberanikan diri untuk menatap Ayaka setelah mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu, sungguh dia merasa bahagia sekali karena pemberiannya diterima oleh Ayaka.


Ayaka terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, selama ini dia belum pernah mendapatkan perhatian dari seorang pria selain dari Sam.


"Oh ya ampun! Aku merasa mempunyai seorang kekasih setelah kamu mengatakan hal itu, terima kasih sekali lagi. Aku kerja dulu," ujar Ayaka seraya turun dari mobil milik Stefano dan menutup pintu mobilnya.


Ayaka nampak berdiri di samping mobil pria itu, lalu dia tersenyum seraya melambaikan tangannya.


"Sama-sama," ujar Stefano seraya melajukan mobilnya.


Senyum di bibir Stefano langsung mengembang, bahkan dia terdengar bersorak layaknya anak kecil karena ternyata Ayaka menerima pemberian darinya.


"Nanti malam aku harus ke rumah tante Aruna, aku harus menanyakan tentang hal ini. Aku harus memastikannya," ujar Stefano.


Setelah mengatakan hal itu, Stefano langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan Siregar. Senyum di bibir pria itu terus saja mengembang, saat dia tiba di perusahaan dan masuk ke dalam ruangan kerjanya, senyum itu tidak pernah luntur.

__ADS_1


Ayana yang melihat akan hal itu bahkan sampai berdehem beberapa kali, karena baru kali ini dia melihat wajah Stefano yang begitu ceria. Pria itu nampak seperti anak abege yang baru mengenal cinta.


"Ehm! Bagaimana dengan adikku?" tanya Ayana.


"Cantik dan juga baik, Nona," jawab Stefano dengan cepat.


Mendengar jawaban dari Stefano, Ayana langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Dia merasa lucu dengan jawaban dari pria itu.


"Maksud aku, apakah kamu mengantarkan adikku sampai tujuan?" tanya Ayana.


Stefano langsung menunduk malu, dia tidak menyangka jika Ayana ternyata menanyakan hal yang lain.


"Iya, Nona. Nona Aya sudah sampai tujuan, dia sudah mulai bekerja," ralat Stefano.


Ayana rasanya tidak ingin berhenti tertawa, karena Stefano terlihat seperti kucing manis yang sedang malu-malu. Namun, dia berusaha untuk menghentikan tawanya.


"Syukurlah, nanti sore kamu jemput Aya. Tugas kamu pagi sore harus antar jemput Aya, karena aku akan pulang ke rumah buna," ujar Ayana.


"Nona mau pulang kapan ke rumah nyonya Aruna?" tanya Stefano.


"Besok sore, nanti malam aku masih ingin tidur dengan Aya," jawab Ayana.


Sudah satu bulan dia tinggal di rumah Sam, Ayana ingin pulang karena begitu merindukan Aruna dan juga adik-adiknya. Karena dengan Sigit dia masih bisa bertemu ketika di kantor.


"Ingat! Setelah aku tidak ada, kamu harus menjaga adikku. Jangan suka menggunakan kesempatan dalam kesempitan, aku memercayakan Aya sama kamu." Ayana berbicara dengan serius, dia bahkan menatap Stefano dengan tajam.


"Pasti, Nona. Saya pasti akan menjaga nona Aya, saya tidak mungkin berbuat hal yang aneh-aneh. Sumpah!" ujar Stefano dengan bersungguh-sungguh.


Bahkan, jika bisa dia ingin melindungi Ayaka. Dia ingin menjadikan wanita itu sebagai istrinya, bukan hanya dijadikan kekasih saja. Itu pun kalau Ayaka mau kepada dirinya, pikirnya.


Namun, tentunya Stefano akan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Ayaka. Dia juga akan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan bahwa dia adalah Stefano, pria yang Ayaka anggap sebagai malaikat penyelamatnya.


Walaupun memang ada rasa ragu di hati Stefano, ragu karena takut jika Ayaka membenci Andin. Karena walau bagaimanapun juga, ibunya dulu memperlakukan Ayaka dengan tidak layak.


"Hem! Aku percaya," ucap Ayana seraya menepuk-nepuk pundak Stefano.

__ADS_1


Selama satu bulan bekerja dalam ruangan yang sama, tentu saja membuat Ayana paham dengan bagaimana karakter dan sifat dari Stefano. Pria yatim piatu yang sangat baik, dia juga merupakan seorang pria yang suka berkerja keras.


"Terima kasih atas kepercayaan anda, Nona. Anda memang sangat baik dan pengertian," ujar Stefano dengan sopan.


__ADS_2