
Beberapa saat sebelumnya.
Sandi nampak mandi setelah selesai bekerja, setelah itu dia mengganti bajunya dengan yang baru. Para karyawannya sampai merasa aneh dengan tingkah Sandi, karena biasanya pria itu tidak melakukan hal seperti itu.
Sandi bahkan menyemprotkan parfum yang banyak pada baju yang dia pakai, setelah itu dia merapikan rambutnya cukup lama.
Ah! Sandi sudah persis seperti anak remaja yang akan menemui gebetannya, tidak lupa dia meminta karyawannya untuk membelikan setangkai bunga mawar.
Karena harga sebuket bunga mawar kesukaan Ayana lumayan mahal, maka dari itu dia hanya membeli setangkai bunga mawar saja. Karena Sandi berpikir jika uangnya sekarang lebih baik ditabung saja, karena dia ingin mengumpulkan uang untuk menikahi Ayana.
Bagi sebagian orang mungkin menikah adalah hal yang gampang, biaya bisa didapatkan dengan mudah. Namun, berbeda dengan Sandi yang hanya orang biasa, dia harus mengumpulkan uang untuk biaya pernikahannya.
"Bunga sudah siap, penampilan sudah oke. Cuma isi dompet yang belum gendut," ujar Sandi seraya terkekeh.
Sandi langsung masuk ke dalam mobilnya, lalu dia melajukan mobil tersebut menuju perusahaan Siregar. Dia ingin menjemput pujaan hatinya, Sandi bahkan pergi ke tempat Ayana pukul setengah empat sore.
Bukan hanya bunga mawar yang dia bawa untuk Ayana, tetapi pria itu juga membawakan cilok kuah pedas untuk Ayana.
Cilok pedas buatannya sendiri, karena dia tahu jika pujaan hatinya itu menyukai makanan yang pedas. Terlebih lagi dengan camilan dengan rasa pedas.
Selama perjalanan menuju perusahaan Siregar, Sandi berpikir dengan begitu keras. Haruskah dia menjual tanah dan rumah warisan dari kedua orang tuanya agar bisa menikahi Ayana, pikirnya.
Karena hanya dengan cara itu Sandi bisa membuat pesta yang mewah untuk Ayana, pesta pernikahan yang pastinya diidam-idamkan oleh banyak wanita.
Atau, haruskah dia membobol kartu tabungannya untuk menikahi Ayana dengan pesta pernikahan yang sederhana. Karena tabungan pria itu tidak cukup jika harus mengadakan pesta pernikahan yang mewah.
Selama menimba ilmu di luar negeri, Sandi bekerja paruh waktu untuk membiayai hidupnya selama tinggal di sana.
__ADS_1
Dia benar-benar rinci dalam membagi uang yang sudah dia hasilkan, agar dia tidak kesusahan selama hidup di luar negeri. Karena dia sangat tahu diri jika dia hanyalah orang biasa.
"Sandi! Mau ke mana?" tegur Sigit ketika dia melihat Sandi yang sedang berjalan di lobi perusahaannya.
Sandi yang mendapatkan teguran dari Sigit langsung tersenyum dan menghampiri pria itu, dia menunduk dan mencium punggung tangan pria yang dia anggap sebagai calon mertuanya.
"Sore, Om. Sandi mau jemput Ay, boleh kan' Om?" tanya Sandi.
Sigit tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, Sandi terlihat begitu mencintai Ayana, mana mungkin dia tidak mengizinkan Sandi untuk menemui putri sulungnya.
Lagi pula, setiap kali Sigit melihat Sandi, dia teringat akan dirinya di masa lalu yang begitu mencintai Aruna dan mengharapkan cinta wanita itu.
Walaupun Sandi terlahir dari keluarga sederhana, tetapi Sigit sudah menyelidiki keluarga dari pria itu. Sandi terlahir dari keluarga yang baik dan juga harmonis, kedua orang tua dari pria itu meninggal saat Sandi masih kecil.
Bukan karena bunuh diri ataupun sakit yang parah, tetapi keduanya mengalami kecelakaan kerja. Tentunya keduanya mendapatkan uang kompensasi dari perusahaan tempat mereka bekerja, uang itu Sandi gunakan untuk biaya hidupnya.
"Boleh dong, kebetulan Om mau pergi ke luar kota. Ada pertemuan penting dengan klien, titip Ay untuk beberapa hari ini." Sigit menepuk pundak Sandi.
"Hanya tiga hari, bareng Ben juga. Ngga lama," jawab Sigit. "Om mau berangkat sekarang, kamu temuin Ay gih." Sigit tersenyum ketika melihat apa yang dibawa oleh Sandi.
"Siap, Om!" jawab Sandi bersemangat.
Sigit pergi dari perusahaan, sedangkan Sandi nampak melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Ayana. Saat dia hendak masuk ke dalam lift, dia sempat berpapasan dengan Stefano.
Sandi tersenyum lalu menegur pria itu, pria yang nampak lebih tua dari dirinya dan terlihat sangat dewasa. Stefano tentunya membalas teguran sapa dari Sandi dan segera berlalu dari sana.
Saat tiba di depan ruangan Ayana, pria itu bisa melihat dari pintu kaca jika Ayana sedang merapikan berkas yang ada di atas meja.
__ADS_1
Sandi mengetuk pintu kaca tersebut, karena takut Ayana akan kaget seperti yang sudah-sudah jika dia langsung masuk begitu saja. Ayana tersenyum lalu membukakan pintu untuk Sandi.
"Tumbenan kamu dateng pake ketuk pintu dulu, biasanya juga asal masuk aja." Ayana mempersilakan Sandi untuk masuk dan juga duduk di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
Ayana sempat memperhatikan penampilan Sandi, pria itu nampak wangi dan juga rapi. Wajahnya bahkan terlihat segar, Ayana tersenyum. Karena pria itu tidak seperti pria yang dia kenal.
"Makasih, Moo! Aku takut kamu kaget, ini bunga untuk kamu. Aku juga bawa makanan kesukaan kamu," ujar Sandi.
Sandi memberikan setangkai bunga mawar yang sudah dia siapkan untuk Ayana, dengan senang hati Ayana menerima bunga mawar itu. Bahkan, Ayana menghirup aroma wangi dari bunga mawar tersebut.
"Aih! Terima kasih, San. Kamu tuh jadi berubah romantis," ujar Ayana seraya terkekeh.
"He'em! Berubah romantis demi kamu, Moo."
"Masa sih?" tanya Ayana yang sebenarnya sudah paham.
Sandi mencebikkan bibirnya, karena Ayana malah terkesan menggoda dirinya. Sandi menyimpan makanan yang dia bawa di atas meja, lalu dia meluruhkan tubuhnya ke atas lantai.
Dia berdiri dengan kedua lututnya, lalu dia menggenggam kedua tangan Ayana dan menatap wajah wanita itu dengan lekat.
Ayana sebenarnya ingin sekali tertawa melihat kelakuan dari Sandi, tetapi saat melihat wajah Sandi yang begitu serius, Ayana terdiam seraya menunggu apa yang akan dilakukan oleh Sandi selanjutnya.
Sandi terlihat begitu gugup, bahkan Ayana bisa merasakan tangan Sandi yang dingin tetapi berkeringat. Pria itu berkali-kali menghela napas, lalu membuangnya secara perlahan.
Dia seperti sedang mengumpulkan keberaniannya, tidak lama kemudian Sandi nampak menatap wajah Ayana dengan serius.
"Moo! Sebenarnya aku tuh sudah lama banget suka sama kamu, aku cinta sama kamu. Tapi, aku ngga berani ngomong. Aku takut kamu ngga bakal nerima cinta aku," ujar Sandi.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Sandi terdiam. Lalu, dia memperhatikan wajah Ayana. Dia ingin tahu apakah wanita itu akan marah, tetapi Ayana malah menatap dirinya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Kenapa takut aku ngga nerima kamu? Memangnya aku kenapa?" tanya Ayana yang melihat Sandi diam saja.