Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 153


__ADS_3

Setelah mengucapkan ijab Kabul, akhirnya Stefano resmi menjadi suami dari Ayaka. Dia menikahi Ayaka dengan mas kawin berupa uang tunai senilai Rp.12.082.023 dan juga satu set berlian, dari mulai anting sampai kalung yang sangat cantik.


Setelah melewati serangkaian acara, kini tiba saatnya untuk melakukan resepsi pernikahan secara sederhana. Ayaka dan juga Stefano terlihat berdiri di atas panggung pelaminan.


Sepasang pengantin baru itu terlihat bersiap untuk menerima ucapan selamat dari seluruh anggota keluarga, tentunya yang pertama naik ke atas panggung pelaminan adalah Angel, sang ibu.


"Selamat ya, Sayang. Selamat menempuh hidup baru, maaf jika selama ini Bunda tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kamu. Semoga kamu bisa menjadi istri dan juga ibu yang baik di dalam rumah tangga kamu," ujar Angel.


Jika teringat akan masa lalunya, Angel benar-benar malu dan juga merasa bersalah. Bahkan, terkadang bayang-bayang masa lalu itu selalu datang menghantui.


"Terima kasih, Bunda." Ayaka begitu terharu dengan apa yang dikatakan oleh Angel, dia langsung memeluk wanita itu seraya menitikan air matanya.


"Bahagiakan suami kamu, Sayang. Jangan pernah berpaling dan terpikat dengan hal yang semu," nasihat Angel.


"Ya, Bunda." Ayaka melerai pelukannya, Angel nampak tersenyum lalu dia menggenggam tangan Stefano.


"Tolong cintai putriku dengan tulus, jangan pernah kamu menyakiti dan juga menduakan putriku."


"Pasti, Bunda. Aku pasti akan mencintai Aya dalam setiap waktu, aku pasti hanya akan mencintai Aya. Bunda tenang saja," ujar Stefano.


"Terima kasih," ucap Angel.


Setelah Angel selesai mengucapkan selamat kepada Ayaka dan juga Stefano, Sam dan juga yang lainnya nampak naik ke atas panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat. Bahkan, mereka juga secara bergantian mengambil foto bersama dengan pengantin.


Di saat yang lainnya sedang ramai menghampiri Ayaka dan mengucapkan selamat, berbeda dengan Anaya yang nampak mengasingkan diri. Dia malah duduk di pojok taman, karena takut akan bertemu dengan Kenzo.


Sudah dua minggu ini dia menghindari Kenzo, karena dia merasa takut tidak akan bisa menahan perasaannya kepada pria itu. Karena entah kenapa, Anaya begitu memuja pria itu.


Padahal, dia sangat sadar jika usianya baru menginjak tujuh belas tahun. Rasanya dia belum pantas merasakan cinta yang begitu dalam terhadap seorang pria, karena biasanya teman-teman sebayanya hanya sekedar pacaran lalu putus begitu saja.


Anaya duduk seraya memperhatikan wajah Ayaka yang penuh dengan kebahagiaan, dia ikut tersenyum karena dia juga ikut bahagia melihat kebahagiaan di wajah kakaknya tersebut.


"Semoga suatu saat nanti aku juga bisa menikah dengan pria yang mencintaiku." Anaya tersenyum setelah mengatakan hal itu, kini dia mulai berpikir jika dicintai itu rasanya akan lebih menyenangkan.


"Kenapa hanya duduk sendirian? Tidak mau ikut merayakan kebahagiaan kak Aya?"


Anaya yang mendapatkan teguran seperti itu langsung menolehkan wajahnya ke arah suara, dia begitu kaget karena ternyata yang menegur dirinya adalah Kenzo.

__ADS_1


Satu hal yang membuat Anaya sangat kaget, ini adalah pertama kalinya Kenzo menegur dirinya. Ini adalah pertama kalinya Kenzo berbicara dengan jumlah kata yang banyak.


Hari ini pria itu terlihat begitu tampan sekali, Kenzo memakai kemeja berwarna putih dipadupadankan dengan celana bahan berwarna hitam. Terlihat sangat rapi dan keren, menurut Anaya.


"Kenapa diam saja? Lagi sariawan? Atau memang lagi sakit?" tanya Kenzo beruntun.


Kenzo nampak menatap gadis remaja itu dengan lekat, tentu saja hal itu membuat jantung Anaya berdebar dengan begitu cepat. Bahkan, gadis remaja itu nampak salah tingkah.


"Ah! Tidak, aku baik-baik saja. Kalau begitu aku permisi," jawab Anaya.


Anaya dengan cepat menghindari Kenzo, dia melangkahkan kakinya menuju panggung pelaminan. Anaya mengucapkan selamat kepada kakaknya tersebut, malu dengan cepat dia berpamitan untuk pulang.


Rasanya dia tidak sanggup jika harus berlama-lama di sana, bukan karena tidak bahagia dengan pernikahan kakaknya. Namun, dia merasa tidak sanggup berada di tempat yang sama dengan Kenzo.


Kenzo yang melihat kepergian dari Anaya, hanya bisa menatap punggung wanita itu dengan tatapan mata yang begitu sulit untuk diartikan.


Beberapa jam kemudian.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, acara resepsi pernikahan sudah selesai. Setiap anggota keluarga juga sudah pulang ke kediaman masing-masing, Ayaka juga sudah pulang ke kediaman Stefano.


Kini wanita itu sedang duduk di ruang makan, Stefano dengan telaten menyuapi istrinya tersebut. Ayaka tersenyum dengan perhatian yang dia dapatkan dari suaminya tersebut.


"Kakak juga makan dong, masa Aya terus yang disuapin," ucap Ayaka.


Stefano tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, lalu dia usap pipi istrinya. Tidak lama kemudian, Stefano nampak mengecup bibir istrinya. Ayaka sampai tersipu dibuatnya.


"Oke, aku akan makan. Tapi, sekarang kita sudah menikah. Kamu panggil aku apa gitu, jangan Kakak lagi. Masa suami dipanggil Kakak," protes Stefano.


Ayaka nampak terdiam, dia seolah sedang berpikir dengan panggilan apa yang harus dia katakan kepada suaminya. Tidak lama kemudian, Ayaka nampak menatap wajah suaminya.


"Kakak maunya dipanggil apa? Mas? Atau Sayang?" tanya Ayaka malu-malu.


"Terserah kamu aja, yang penting jangan panggil kakak."


"Oke, sekarang ayangnya Aya juga harus makan." Ayaka mengambil alih sendok dari tangan Stefano, lalu dia menyuapi suaminya tersebut.


Ini adalah momen yang begitu romantis menurut Ayaka, karena setelah menikah kini mereka bisa saling menyuapi. Terlebih lagi dengan cara Stefano memandang dirinya, pria itu nampak menatap dirinya dengan penuh cinta dan penuh damba.

__ADS_1


"Sudah abis, aku udah kenyang. Kamu?" tanya Stefano.


"Aku juga kenyang," jawab Ayaka.


"Kalau udah kenyang, itu tandanya kita akan--"


"Akan apa?" tanya Ayaka begitu penasaran karena tiba-tiba saja suaminya itu menggantungkan ucapannya.


"Aku maunya sih buka segel, udah boleh belum?" tanya Stefano.


Dia tahu jika kini dirinya sudah berhak atas Ayaka, tetapi Stefano tetap saja ingin bertanya terlebih dahulu. Takutnya istrinya itu belum siap untuk memberikan keperawanannya kepada dirinya.


"Boleh, Yang. Tapi, kita shalat isya dulu. Terus, shalat sunat dulu. Baru kamu boleh itu," jawab Ayaka dengan suara yang begitu pelan di akhir.


Stefano tersenyum dengan apa yang sudah dikatakan oleh istrinya tersebut, tanpa ragu dia membopong tubuh Ayaka dan membawanya ke dalam kamar utama.


Kamar yang sudah disulap menjadi kamar pengantin yang terlihat begitu romantis, wajah Ayaka sampai memerah melihat akan hal itu.


"Sebelum shalat isya, aku boleh minta kiss dulu ngga?" tanya Stefano seraya merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur yang bertaburkan kelopak bunga mawar.


Stefano ikut merebahkan tubuhnya, lalu dia mengungkung pergerakan tubuh istrinya. Dia tatap wajah istrinya, lalu dia usap pipi Ayaka dengan begitu lembut.


Seharusnya Stefano tidak usah bertanya kepada dirinya, pikir Ayaka. Namun, ternyata pria itu begitu menghargai dirinya. Ayaka tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Boleh, Yang." Ayaka nampak mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya tersebut.


Stefano tersenyum, lalu dia menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya. Dia pagut bibir itu dengan pelan dan begitu lembut.


Tentu saja hal itu dia lakukan agar Ayaka merasakan kenyamanan, kenikmatan dan bisa tahu seberapa besar dia mencintai wanita itu.


"Yang!" desah' Ayaka ketika Stefano melepaskan tautan bibirnya dan mulai mengecupi leher jenjang istrinya.


Tangan pria itu bahkan kini sudah sampai pada dada Ayaka, dengan gerakan yang begitu perlahan dia remat kedua dada istrinya yang masih terbungkus rapi dengan pelindungnya.


"Aduh, Yang! Jangan kaya gitu," protes Ayaka ketika Stefano mengusakkan wajahnya pada cerukan leher istrinya. Lalu, Stefano menggigit leher istrinya.


Rasa geli dan juga nikmat bercampur aduk menjadi satu, bahkan Ayaka kini merasakan tubuhnya meremang.

__ADS_1


__ADS_2