
Pagi-pagi sekali Kenzo sudah terbangun dari tidurnya, tadi malam pria itu tertidur dengan tidak pulas. Entah kenapa dia begitu gelisah, dia sedang memikirkan Anisa yang bisa-bisanya datang ke kota Sorong hanya untuk berusaha untuk merusak rumah tangganya dengan Anaya.
Kenzo juga benar-benar tidak habis pikir jika wanita itu bisa-bisanya menggunakan kehamilannya untuk menghasut Anaya, tetapi sungguh dia bersyukur karena Anaya merupakan wanita yang sangat pintar.
Anaya bukanlah wanita yang gampang, Anaya bukanlah wanita bodoh yang mampu menelan mentah-mentah apa yang baru saja dia dengar tanpa bukti yang nyata.
"Masih jam empat kurang, keluar bentar ah. Cari angin dulu," ujar Kanzo.
Kenzo nampak keluar dari dalam kamar pengantin, lalu dia melangkahkan kakinya menuju pantai. Walaupun udara terasa begitu dingin, tetapi Kenzo ingin mendengarkan suara deburan ombak.
Pria itu nampak bersemangat untuk pergi, dia bahkan sengaja hanya memakai kaos pendek dipadupadankan dengan celana pendek.
Namun, langkah pria itu terhenti karena dia melihat seorang wanita berkerudung sedang duduk di dekat resort. Wanita itu nampak duduk di lantai seraya menatap ke arah pantai.
Satu hal yang membuat langkah Kenzo terhenti, dia mendengar wanita itu menyebut-nyebut namanya. Tentu saja hal itu membuat Kenzo merasa penasaran dengan siapa wanita itu.
"Apakah itu Anisa?" gumam Kenzo.
Karena merasa begitu penasaran, akhirnya Kenzo mendekati wanita itu. Tentunya dia menjaga jarak aman agar tidak ketahuan.
"Ini semua gara-gara Kenzo, kalau pria sialan itu mau berumah tangga yang benar denganku, aku tidak akan melakukan hal senekat ini. Aku tidak mungkin hamil dengan pria yang tidak aku sukai," ujar wanita itu.
Kenzo langsung tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, karena Kenzo sangat mengenal suara wanita itu dan yang pastinya suara itu adalah suara Anisa.
"Dengarkan ibu, Nak. Jika Kenzo mau menikah dengan ibu dan menerima kamu sebagai anaknya, ibu akan merawat kamu dengan baik. Tapi, jika ibu gagal memisahkan Kenzo dengan istrinya, itu artinya ibu akan menggugurkan kamu."
Rasanya percuma jika dia mempertahankan kandungan itu, kalau Kenzo terus bersama dengan istrinya. Karena itu artinya anak yang ada di dalam kandungannya itu tidak berguna sama sekali.
Namun, Anisa sangat berharap jika rumah tangga Kenzo dan juga Anaya akan hancur. Setidaknya, jika dia tidak bisa memiliki Kenzo, maka Anaya juga tidak boleh bersama dengan Kenzo.
"Pokoknya, kalau rencana pertama gagal, aku harus melakukan rencana kedua. Aku pastikan akan membuat Anaya mati untuk yang kedua kalinya," ujar Anisa.
Kenzo benar-benar sangat marah mendengar apa yang dikatakan oleh Anisa, jika saja membunuh itu tidak dosa, maka saat ini juga Kenzo akan menyeret wanita itu membunuh wanita yang pernah membuat hidupnya kacau itu.
"Aku harus segera bertindak," ujar Kenzo.
Kenzo terlihat hendak kembali ke dalam kamarnya, tetapi tidak jauh dari sana dia melihat seorang pria yang nampak celingukan. Kenzo nampak mengerutkan dahinya, karena dia seperti mengenal pria itu.
"Permisi, Tuan. Anda sedang mencari siapa?" tanya Kenzo setelah menghampiri pria itu.
Pria tersebut langsung menolehkan wajahnya ke arah Kenzo, untuk sesaat pria itu terdiam. Namun, tidak lama kemudian pria itu nampak tersenyum dan berkata.
__ADS_1
"Anda, Tuan Kenzo, kan?" tanya pria itu.
"Ya, itu aku. Anda mencari saya?" tanya Kenzo.
Seingatnya Kenzo tidak memiliki janji ketemu dengan siapa pun, terlebih lagi kini dia sedang cuti pernikahan. Dia sedang tidak menerima pekerjaan, terlebih lagi menerima tamu di pagi buta seperti ini.
"Sebenarnya saya bukan sedang mencari anda, tetapi saya merasa beruntung karena bisa bertemu dengan anda. Maukah anda meluangkan waktu sebentar?" tanya pria itu.
"Untuk apa?" tanya Kenzo.
"Ini sangat penting," ujar pria itu.
Awalnya Kenzo ingin menolak permintaan dari pria tersebut, tetapi setelah melihat wajah pria itu dan mendengar kata penting dari mulut pria itu, Kenzo pada akhirnya menganggukan kepalanya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita bicara di Kafe saja?" tanya Kenzo.
Karena memang di resort tersebut disediakan Kafe dan juga Resto yang beroperasi selama dua puluh empat jam, hal itu dilakukan agar pengunjung merasa nyaman dan apapun yang mereka inginkan bisa cepat didapatkan.
"Jangan, saya akan mengajak anda untuk membicarakan masalah yang sangat pribadi. Bagaimana kalau kita bicara di dalam kamar penginapan saya saja?" usul pria itu.
"Oke!" jawab Kenzo.
Pada akhirnya Kenzo dan juga pria itu nampak berjalan menuju sebuah kamar yang sudah disewa oleh pria tersebut, setelah masuk ke dalam kamar itu, keduanya nampak duduk di atas sofa yang sama.
Kenzo nampak tersenyum getir, Karena kini dia menyadari jika pria yang ada disampingnya itu adalah pria yang pernah bercinta dengan Anisa.
Pantas saja Kenzo masa pernah melihat pria itu tetapi entah di mana, ternyata pria itu adalah pria yang dulu bercinta dengan begitu panas bersama dengan Anisa.
"Saya, Kenzo!" jawab Kenzo seraya membalas uluran tangan dari pria itu.
"Jadi begitu Tuan Kenzo, saya--"
"Panggil nama saja," ujar Kenzo memungkas.
"Ah! Iya, Ken. Jadi gini, dua hari yang lalu aku bertemu dengan Anisa di Bandara. Sepertinya dia ingin berniat menyusul kamu dan menghancurkan rumah tangga kamu, maka dari itu aku sengaja menyusul kemari dan ternyata benar jika Anisa juga ada di sini," ujar Sofyan.
"Ya, aku tahu. Dia bahkan sudah menghasut istriku, dia menggunakan kehamilannya untuk menjebakku. Nisa berkata kepada istriku jika dia hamil anakku," ujar Kenzo.
"Hamil? Bukannya kamu tidak pernah menyentuhnya? Bagaimana mungkin dia bisa hamil?" tanya Sofyan.
Rasanya Sofyan benar-benar tidak percaya jika Anisa hamil anak Kenzo, karena wanita itu berkata jika Kenzo tidak pernah menyentuh dirinya sama sekali.
__ADS_1
"Tentu saja dia bisa hamil, karena walaupun aku tidak menyentuhnya, tetapi kalian pernah bercinta dengan begitu panas."
Sofyan yang mendengar perkataan itu dari Kenzo rasanya sangat malu, karena dulu dia memang pernah melakukan hal itu bersama dengan Anisa. Sofyan yang memintanya, tentunya Anisa yang menyanggupinya.
"Eh? Kamu tahu?" tanya Sofyan yang merasa malu karena dia memang dulu pernah bercinta dengan Anisa karena ingin mendapatkan wanita itu seutuhnya.
"Hem! Aku sangat yakin jika dia hamil anak kamu, tetapi sengaja dia menggunakan kehamilan itu untuk menghancurkan rumah tanggaku dengan istriku," jawab Kenzo.
"Ya ampun, dia hamil! Tapi, kenapa Nisa bisa seperti itu?" tanya Sofyan.
Antara senang dan juga sedih, itulah yang Sofyan rasakan saat ini. Dia merasa bahagia karena pada akhirnya Anisa bisa mengandung benihnya, tetapi dia juga merasa sedih karena Anisa tidak memberitahukannya kepada dirinya.
Wanita itu malah mendatangi Kenzo dan seolah-olah ingin menjadikan Kenzo sebagai ayah dari calon buah hatinya, padahal seharusnya Anisa mendatangi dirinya dan meminta pertanggungjawabannya.
"Sepertinya dia terlalu terobsesi untuk memiliki aku, kamu tahu? Anisa bahkan akan menggugurkan kandungannya jika aku tidak mau menikah dengan wanita itu,'' ujar Kenzo.
"Ya Tuhan! Jadi, aku harus bagaimana? Aku tidak mau dia menggugurkan kandungan itu, aku pasti akan bertanggung jawab kok!" ujar Sofyan.
Lima tahun dia bekerja sebagai bartender dan juga sebagai penjual obat-obatan terlarang, tetapi setelah dia bertemu kembali dengan Anisa dan bahkan bercinta dengan wanita itu, Sofyan langsung menghentikan pekerjaannya.
Pria itu merasa beruntung karena jalannya dia begitu dimudahkan oleh Tuhan, pria itu berniat untuk bertobat karena sudah melakukan pekerjaan yang haram.
Tanpa sengaja dia bertemu dengan pemilik perusahaan tambang, pria itu hampir mati karena serangan jantung. Beruntung dengan cepat Sofyan membawa pria itu ke rumah sakit, hal itu membuat nyawa pria itu terselamatkan.
Sebagai ucapan terima kasih dari pria itu, Sofyan diberikan pekerjaan di perusahaan tambang milik pria itu. Pria itu bahkan langsung pindah ke pulau S, maka dari itu dia belum pernah bertemu kembali dengan Anisa.
Kini Sofyan ditugaskan untuk pergi ke ibu kota, karena pria itu ditugaskan untuk mengurus sebuah projek kerja sama antara perusahaan milik tuannya dengan perusahaan yang ada di ibu kota.
"Kalau begitu, mari kita bekerja sama," ujar Kenzo.
"Kerja sama seperti apa?" tanya Sofyan.
Kenzo nampak mengutarakan rencana yang ingin dia realisasikan, Sofyan nampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Aku setuju!" jawab Sofyan.
"Oke! Sore nanti kita harus mulai menjalankan rencananya," ujar Kenzo.
**
Buat yang suka cerita horor, bisa mampir sini ya, ngga serem-serem amat kok. Hatur nuhun, love sekebon kembang buat kalen💖
__ADS_1
_________________________________________________