Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 143


__ADS_3

Ayaka pada akhirnya merangkul pundak adiknya, Anaya. Lalu, dia mengajak adiknya untuk segera melangkahkan kakinya menuju dapur. Karena dia benar-benar rindu kepada Angel.


Benar saja, saat mereka tiba di dapur, Angel baru saja mengeluarkan brownies dari dalam oven. Sedangkan Surya terlihat mengambil tempat untuk brownies tersebut.


Ayaka tersenyum melihat Angel yang nampak bahagia dengan kehidupannya bersama dengan Surya, pria sederhana itu mampu membahagiakan ibunya dengan caranya.


Setelah Angel dan juga Surya selesai memindahkan brownies dari dalam loyang, Angel dengan cepat menghampiri Ayaka dan memeluknya.


Tanpa ragu bahkan Angel langsung mengecupi setiap inci wajah dari putrinya tersebut, Ayaka sampai tertawa dibuatnya. Karena Angel memperlakukan dirinya seperti anak kecil.


Rindu?


Tentu saja dia merindukan putrinya tersebut, terlebih lagi dia pernah melakukan kesalahan yang fatal terhadap putrinya. Kesalahan yang pastinya sampai saat ini selalu saja terbayang-bayang di dalam pikiran Angel.


Wanita itu sering menyempatkan waktu untuk menemui Ayaka walaupun hanya sebentar, sebagai penembus rasa bersalahnya kepada gadis itu di masa lalu.


"Apa kabar, Sayang? Kata Sam, kamu bawa calon suami, ya? Mana? Bunda pengen lihat cowoknya kayak apa, ganteng gak? Keren enggak? Baik nggak?"


Angel berucap dengan beruntun, bahkan dia memberondong Ayaka dengan banyak pertanyaan. Hal itu membuat Ayaka tertawa, lalu Ayaka melerai pelukannya.


"Ganteng, Bunda. Udah matang juga, baik banget. Dia itu pernah menjadi malaikat penyelamat aku, pokoknya Bunda pasti suka sama dia."


Ayaka nampak menjelaskan sosok Stefano dengan detil dan dengan penuh rasa bangga, Angel sampai tertawa dibuatnya. Jika Ayaka sudah memuji seperti itu, artinya pria itu memang benar-benar dirasa baik. Tentunya dalam sudut pandang gadis itu.


"Di mana orangnya? Kok nggak diajak ke sini?" tanya Angel.


"Aih! Masa di ajak ke dapur, aku suruh dia tunggu di ruang keluarga," jawab Ayaka.


Surya yang sejak tadi memperhatikan obrolan antara Angle dan juga Ayaka, akhirnya membuka suara.


"Sudah jangan ngobrol terus di dapur, bagaimana kalau kita langsung ke ruang keluarga saja. Kasihan loh, calon suaminya Aya sudah nungguin."


"Ayah benar," jawab Ayaka yang langsung menghampiri Surya dan menyalimi pria itu. "Ayah Surya apa kabar?"


"Baik, Sayang. Ayo bawa kuenya, biar Ayah yang buatkan teh-nya," ujar Surya.


"Baik, Ayah," jawab Ayaka.

__ADS_1


Ayaka menuruti keinginan dari Surya, gadis itu membawa brownies sudah dibuat oleh Surya dan juga Angel. Berbeda dengan Angel yang membawa cangkir untuk mereka minum teh nanti.


Anaya juga tidak mau kalah, gadis remaja itu membawa piring kecil dan juga garpu untuk tempat browniesnya. Lalu, Surya menyusul dari belakang membawa seteko teh manis di tangannya.


"Kak, ini Bunda Angel, Ayah Surya dan adik manis aku Anaya."


Ayaka nampak memperkenalkan keluarganya kepada Stefano, Stefano yang sejak tadi duduk langsung bangun dan menyapa ketiganya dengan begitu sopan.


Setelah saling menyapa, akhirnya Stefano langsung mengutarakan maksudnya untuk menikahi Ayaka, wanita yang sejak belasan tahun lalu dia cintai.


Angel dan juga Surya tentu saja menyetujuinya, terlebih lagi Ayaka juga terlihat begitu mencintai Stefano. Mereka tidak akan menghalangi kebahagiaan putrinya, tentunya Angle memberikan syarat kepada Stefano agar bisa hidup akur dengan Ayaka.


Stefano tidak boleh menyakiti putrinya, pria itu harus berusaha untuk membahagiakan putrinya. Walaupun dengan cara yang sederhana, tentunya hal itu tidak masalah selama bisa membuat Ayaka bahagia.


Satu hal lagi yang pastinya harus dilakukan oleh Stefano, jangan pernah berselingkuh. Jika sudah tidak ada rasa dan menginginkan wanita yang lainnya, lebih baik bercerai dari pada menyakiti hati Ayaka lebih dalam lagi.


Terus terang saja Angle merasa trauma dengan masa lalunya, wanita itu pernah berselingkuh dengan suami dari wanita lain. Dia sadar betul kala itu banyak hati yang dikorbankan.


Ada hal yang dirasa baik olehnya, tapi nyatanya begitu buruk. Bahkan, bisa menyebabkan trauma dan juga sakit hati yang luar biasa.


Angel nampak bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, dia juga terlihat bahagia ketika Stefano mengatakan hal itu dengan begitu yakin.


Terlebih lagi ketika Angle melihat sorot mata penuh cinta dari Stefano, dia benar-benar merasa bahagia karena ternyata putrinya dicintai begitu dalam oleh pria tersebut.


Namun, tetap saja wanita itu ingin mewanti-wanti pria yang ada di hadapannya agar tidak menyakiti putrinya.


"Kata orang lelaki itu yang bisa di pegang adalah ucapannya, maka dari itu Bunda memegang ucapan kamu. Ingat! Jika ucapan itu tidak ditepati, pastinya Bunda tidak akan tinggal diam."


Stefano tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, tentu saja itu adalah hal yang pasti akan dia lakukan terhadap gadis kecilnya. Tidak ada niatan sama sekali untuk menyakiti hati wanitanya, wanita pujaan hatinya.


Ketika melihat Angel yang berbicara seperti, itu dia juga teringat akan Sam yang berbicara dengan serius tadi malam kepada dirinya. Pria itu memberikan peringatan keras, peringatan seorang ayah untuk dirinya.


Jika dirinya menghianati Ayaka, Sam tidak akan segan untuk memberikan hukuman yang begitu berat kepada dirinya. Akan tetapi, sungguh di dalam hatinya dia berjanji tidak akan melakukan hal yang akan merugikan dirinya sendiri.


Karena jika dirinya menyakiti Ayaka, itu artinya dia juga akan kehilangan cintanya dan wanitanya. Wanita yang begitu berharga di dalam hidupnya.


"Iya, Bunda. Fano janji akan berusaha untuk membahagiakan Aya, Fano janji akan berusaha untuk menjaga mahligai rumah tangga yang nantinya akan kami jalani."

__ADS_1


"Bunda percaya, sekarang dimakan dulu kuenya. Ini kue spesial buatan Bunda, pake coklat kesukaan Aya," ujar Angel yang langsung mengambil pisau dan memotong kue yang dia buat.


Di saat Angel sibuk memotong kue buatannya, Anaya terlihat bangun dan duduk di samping Ayaka. Gadis remaja itu nampak memeluk kakaknya, dia tersenyum dengan begitu bahagia lalu berkata.


"Selamat ya, Kak! Semoga Kakak bahagia dengan pernikahan yang akan Kakak jalani," ujar Anaya.


"Aamiin, Dek." Ayaka tersenyum lalu mengusap puncak kepala adiknya.


Anaya tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari kakaknya tersebut, walaupun Anaya sadar betul jika dirinya tidak satu ayah dengan Ayaka, tetapi dia begitu menyayangi wanita itu.


Karena nyatanya Ayaka memang selalu bersikap begitu baik dan juga perhatian terhadap dirinya, bahkan jika Ayaka datang pasti membawakan oleh-oleh untuk dirinya.


Gadis remaja itu terlihat menatap kedua orang tuanya yang sibuk, Angel sibuk memotong kue brownies yang dia buat. Sedangkan Surya terlihat sibuk menuangkan teh ke dalam cangkir.


Tidak lama kemudian gadis itu nampak mencondongkan tubuhnya, lalu dia berbisik tepat di telinga Ayaka.


"Oiya, Kak. Naya mau curhat sama Kakak, boleh ngga?"


Ayaka tersenyum mendengar apa yang dibisikkan oleh adiknya tersebut, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Anaya seraya mengangkat kedua alisnya. Dia seolah memberikan kode apa yang ingin Anaya curhatkan kepada dirinya.


Anaya tersenyum dengan respon dari kakaknya tersebut, kemudian gadis remaja itu kembali mencondongkan tubuhnya dan berbisik tepat di telinga kakaknya tersebut.


"Naya lagi suka banget sama cowok, tapi cowoknya kaya kulkas dua puluh pintu. Beh! Dingin dan kaku," adunya.


Ayaka langsung mengerutkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya tersebut, adiknya itu masih sekolah SMA, tetapi malah membahas tentang pria.


Menurut Ayaka, rasanya adiknya tidak pantas jika harus mengejar-ngejar seorang pria. Kecuali hanya sekedar suka saja dan untuk penyemangat dalam belajar di sekolah.


"Jangan suka-sukaan dulu, sekolah yang bener dulu. Baru nanti boleh pacaran," ujar Ayaka.


Anaya langsung cemberut mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, karena Angel juga mengatakan hal yang sama ketika dia memberitahukan hal itu kepada ibunya.


Padahal, sengaja Anaya mengatakan hal itu kepada Ayaka. Karena gadis itu berharap akan mendapatkan dukungan dari kakaknya tersebut.


"Kakak ngga asik!" kesal Anaya.


Ayaka hanya tertawa lalu mengusap puncak kepala adiknya, dia merasa lucu dengan tingkah gadis remaja yang merupakan adiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2