Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 177


__ADS_3

Pagi ini Aruna habiskan untuk bercinta dengan suami tercintanya, keduanya bercinta dengan begitu panas. Walaupun usia semakin bertambah, tetapi tidak mengurangi hasrat yang membara pada keduanya.


Aruna dan Sigit bahkan bercinta dengan berbagai gaya, walaupun awalnya Aruna yang memimpin permainan, tetapi setelah itu Sigit mengajak Aruna untuk bergantian dalam memuaskan.


"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu luar biasa," ujar Sigit setelah mendapatkan pelepasannya.


Sigit langsung melepaskan miliknya dari liang kelembutan milik istrinya, lalu dia merebahkan tubuhnya yang basah dengan keringat itu. Dari wajah pria itu tersirat kepuasan.


"Sama-sama, Sayang. Bagaimana goyang ngebornya?" goda Aruna.


"Sangat luar biasa," jawab Sigit seraya terkekeh.


Sigit merasa lucu kala istrinya itu berkata akan melakukan goyang ngebor, karena nyatanya goyangan istrinya itu memang begitu aduhai dan mampu membuat miliknya semakin mengeras dan merasakan kenikmatan yang luar biasa.


Aruna nampak ikut merebahkan tubuhnya di samping Sigit, lalu dia mengusap-usap dada pria itu dengan lembut. Sigit nampak memejamkan matanya, dia berusaha untuk mengusir hasratnya yang kembali bangkit.


Bukannya dia tidak mau untuk bercinta lagi, tetapi dia merasa kasihan kepada istrinya. Mereka sudah berumur, takut takutnya nanti malah Aruna akan sakit jika dirinya terus mengajak istri untuk bercinta.


"Jangan mulai lagi, Yang. Nanti aku masukin lagi," ujar Sigit seraya menangkap tangan istrinya.


Aruna langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu, karena ternyata Sigit masih sama seperti pertama mereka menikah. Hasrat pria itu bisa dengan gampang bangkit hanya dengan sentuhan kecil dari dirinya.


"Maaf, Sayang. Aku hanya ingin memelukmu," jawab Aruna.


Aruna langsung memeluk suaminya, dia bahkan menyadarkan kepalanya pada lengan suaminya itu. Sigit tersenyum lalu mengecup kening istrinya, sayang sekali Sigit kepada Aruna.


Wanita itu selama ini sudah menemani dirinya, wanita itu selama ini sudah mensupport dirinya. Tanpa Aruna, rasanya Sigit tidak akan bisa sampai seperti ini.


"Tidurlah, Sayang." Sigit mengusap puncak kepala istrinya dengan begitu lembut.


Semakin hari cinta Sigit kepada Aruna semakin bertambah, tidak pernah sedikit pun dia merasa bosan kepada wanita itu. Bahkan, rasa cemburunya semakin bertambah.


Karena Sigit merasa jika Aruna semakin berumur malah terlihat semakin cantik dan juga seksi, istrinya itu nampak menggoda sekali.


"Hem!" jawab Aruna yang mulai memejamkan matanya.


Setelah puas bercinta, Aruna dan juga Sigit tidur dalam keadaan polos dengan saling memeluk. Terpancar senyum penuh kepuasan dari bibir keduanya, pasangan pengantin basi itu nampak bahagia sekali.

__ADS_1


''Bun, Pa! Kalian di dalam ngga sih?" tanya Alice seraya menggedor pintu kamar tamu.


Berkali-kali Alice mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut, bahkan dia meneriaki ayah dan juga bundanya. Akan tetapi, dia tidak juga mendapatkan sahutan dari dalam. Sepertinya kedua manusia yang berada di dalam kamar itu sangat kelelahan dan tertidur dengan pulas.


"Bun! Pa! Jangan sampai Alice dobrak nih pintu!" kesal Alice.


Sigit dan juga Aruna mulai terganggu dengan teriakan dari luar kamar tersebut, keduanya nampak menggeliatkan tubuhnya seraya mengusap telinganya yang terasa terganggu.


"Ada yang manggil ya, Sayang?" tanya Sigit seraya menatap wajah istrinya.


Aruna terdiam sebentar mendengar siapa yang memanggil mereka dari luar, tidak lama kemudian Aruna menganggukkan kepalanya dan berkata.


"Sepertinya Alice, Yang," jawab Aruna.


Keduanya saling tatap menyadari siapa yang berteriak-teriak dengan begitu kencang dari luar kamar, karena tidak biasanya Alice melakukan hal itu.


"Buna! Papa! Kalau ngga dibuka juga pintunya, Alice bakalan ambil kunci cadangan!" ancam Alice.


Aruna dan juga Sigit nampak begitu kaget mendengar teriakan dari Alice, keduanya dengan cepat turun dari tempat tidur. Lalu, mereka megambil baju yang berserakan dan memakainya dengan cepat.


Setelah itu Aruna merapikan rambutnya seraya berjalan menuju pintu, Sigit juga langsung mengikuti langkah dari istrinya.


Alice nampak melipatkan kedua tangannya di depan dada, lalu dia menatap ke arah Aruna dan juga Sigit dengan tatapan kesal.


"Itu, Bun. Ponsel Buna bunyi terus," jawab Alice.


Aruna langsung mengernyitkan dahinya dengan dalam saat mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, jika memang ada panggilan telepon kenapa putrinya tidak mengangkatnya.


Kenapa malah berteriak-teriak seperti itu untuk membangunkan dirinya, padahal biasanya Alice tidak pernah berteriak-teriak seperti itu.


"Kenapa ngga diangkat aja?" tanya Aruna.


Alice langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Aruna, dia merasa tidak habis pikir dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir ibunya tersebut.


"Aih! Aku ngga berani, ponselnya terus bunyi. BERISIK! Bikin aku ngga bisa bobo lagi," jawab Alice.


Kalau dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan oleh Alice, karena semua orang mempunyai privasi sendiri. Ponsel juga merupakan hal yang privasi, wajar saja jika putrinya tidak mau mengangkat panggilan telepon tersebut.

__ADS_1


"Ya ampun! Maaf, Sayang," ujar Ayana seraya melangkahkan kakinya menuju kamar utama.


Aruna merasa penasaran dengan siapa yang menghubungi dirinya, takut-takut Satria ataupun Rachel sedang sakit dan berusaha untuk menghubungi dirinya itu.


Karena memang saat pernikahan Ayana dan juga Sandi, Rachel sedang tidak enak badan. Namun, wanita itu berkata baik-baik saja. Dengan banyak istirahat juga akan sembuh.


Saat tiba di dalam kamar utama, Aruna langsung mengambil ponselnya dan melihat siapa yang melakukan panggilan kepada dirinya. Dahi Aruna nampak mengernyit dalam ketika melihat banyaknya panggilan tidak terjawab dari Arin.


Arin baru pergi selama tiga jam, harusnya wanita itu belum sampai ke kampung halamannya. Kalau misalkan masih di jalan, kenapa juga harus berusaha untuk menghubungi dirinya sampai melakukan banyak panggilan, pikirnya.


"Ada apa dengan Arin? Apakah dia mau mengobrol dengan aku ketika waktu istirahat di jalan tiba?" tanya Aruna.


Sigit yang mengikuti langkah istrinya langsung merangkul kedua pundak Aruna, lalu dia mengecupi pipi Aruna dengan gemas.


"Telpon balik, Sayang. Siapa tahu penting, mungkin ada barang milik Arin yang tertinggal," ujar Sigit.


"Ya, Sayang. Aku akan menghubungi Arin," jawab Aruna.


Aruna menekan nomor sahabatnya itu, dia berusaha melakukan panggilan balik kepada sahabatnya. Namun, setelah Aruna berkali-kali melakukan panggilan telepon, panggilan teleponnya tidak diangkat.


"Ngga diangkat, Yang. Aku kok jadi khawatir," ujar Aruna yang mulai tidak enak hati.


Sigit sangat paham jika istrinya itu kini sedang khawatir, pria itu tersenyum dengan begitu manis, dia berharap jika istrinya akan merasa lebih lega lagi.


"Coba lagi aja, Yang." Sigit mengusap-usap lengan Istrinya, dia berusaha untuk menenangkan hati Aruna yang mulai terlihat gelisah.


Aruna mencoba menampilkan senyum terbaiknya kepada Sigit, walaupun hatinya saat ini benar-benar terasa gelisah. Dia merasa ada sesuatu hal yang terjadi kepada Arin, tetapi dia tidak tahu apa.


"Oke!" jawab Aruna.


Kembali wanita itu mencoba menghubungi sahabatnya, tetapi tidak juga diangkat. Aruna pada akhirnya mengirimkan pesan chat kepada sahabatnya itu.


"Rin, ada apaan sih? Gue hubungi elu kenapa ngga diangkat? Elu marah ya, sama gue?"


Itulah pesan cat yang Aruna kirimkan, sayangnya tidak juga mendapatkan balasan. Aruna kali ini benar-benar terlihat begitu khawatir.


"Kita mandi dulu aja, abis itu sarapan. Siapa tahu nanti kita akan mendapatkan pesan balasan, bisa saja Arin kini sedang dalam perjalanan dan ponselnya disilent," ujar Sigit.

__ADS_1


Awalnya Aruna merasa tidak setuju dengan usul dari Sigit, tetapi jika teringat akan dirinya yang memang belum lama ini baru selesai bercinta dengan suaminya, Aruna merasa jika dirinya memang harus segera mandi.


"Hem!" jawab Aruna lesu.


__ADS_2