
Pagi-pagi sekali Ayana sudah terbangun dari tidurnya, dia tersenyum ketika dia kini berada di dalam dekapan hangat ibunya. Selama ini dia hampir tidak pernah tidur bersama dengan ibunya, karena memang Aruna selalu lebih mementingkan Sam.
Ayana terbangun karena merasakan perutnya keroncongan, gadis kecil itu tertidur sejak sore hari. Bahkan, Ayana melewatkan makan malamnya.
"Bun, Ay laper. Ay mau makan," ucap Ayana seraya mengusap wajah ibunya.
Aruna berusaha untuk membuka matanya, dia tersenyum ketika melihat Ayana yang sedang menatap dirinya seraya mengusap-usap pipinya.
"Ay sudah bangun?" tanya Aruna.
"Sudah, Bun. Ay laper," jawab Ayana seraya mengusap perutnya yang terus saja berbunyi.
Aruna langsung tertawa, lalu dia segera bangun dan merapikan rambutnya. Dia turun dari tempat tidur lalu menggendong Ayana, tentu saja dia ingin mengajak Ayana untuk pergi ke dapur.
"Bunda akan masakin makanan kesukaan Ay," ujar Aruna seraya melangkahkan kakinya menuju dapur.
Namun, langkah Aruna langsung terhenti ketika melewati mushala yang ada di dekat ruang keluarga. Satria, Rachel dan juga Sagara sedang melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Satria yang menjadi imam terdengar sedang melantunkan surat alfatihah, suara Satria terdengar indah sekali dan langsung membuat hati Aruna bergetar. Begitupun dengan Ayana.
Bukan hanya itu saja, mereka berdua tidak tahu dengan suara apa yang mereka dengar. Namun, suara yang keluar dari bibir Satria mampu membuat hati keduanya merasa tenang.
"Bun, apa yang sedang mereka lakukan? Kenapa suara kakek terdengar sangat indah dan membuat hati Ay berdebar dengan begitu kencang?" tanya Ayana.
Aruna yang tidak tahu harus menjawab apa hanya terdiam dengan pertanyaan dari putrinya tersebut, tidak lama kemudian Aruna tersenyum dan berkata.
"Kita ke dapur dulu ya, Sayang. Ay harus cepat makan, nanti kita tanyakan bareng-bareng sama kakek," jawab Aruna.
"Hem!" jawab Ayana yang memang sudah begitu lapar.
Aruna akhirnya mengajak Ayana ke dapur, lalu dia membuatkan makanan kesukaan putrinya. Setelah masakan yang Aruna buat matang, Ayana memakan masakan yang dibuatkan oleh Aruna dengan begitu lahap.
"Terima kasih, Bun. Masakan Bunda memang selalu enak," puji Ayana ketika makanan di piring Ayana sudah habis tersisa.
Di saat Ayana selesai makan, Satria datang menghampiri keduanya. Begitupun dengan Rachel dan juga Sagara, mereka ikut bergabung dengan Ayana dan juga Aruna.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang kelaparan nih!" goda Satria.
"Iya, Kek. Aku laper banget, oiya, Kek. Boleh Ay bertanya?"
Ayana langsung merentangkan kedua tangannya, Satria yang paham langsung menggendong cucunya tersebut. Lalu, Satria mengajak cucunya itu untuk duduk di ruang keluarga. Semuanya mengikuti langkah Satria, mereka semua pada akhirnya berkumpul di sana.
"Ay mau tanya apa?" tanya Satria setelah mereka duduk.
"Apa yang tadi kakak lakukan? Olah raga pagi sambil nyanyi?" tanya Ayana polos.
Mendengar pertanyaan dari cucunya, Satria langsung mencubit hidung Ayana dengan begitu gemas. Gadis kecil itu bertanya kepada dirinya dengan begitu menggemaskan.
"Kakek baru saja melaksanakan shalat subuh, Sayang. Sebagai umat muslim, Kakek wajib menjalankan ibadah sesuai ketentuan agama yang Kakek anut," jawab Satria.
Ayana langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Satria, tidak lama kemudian Ayana tersenyum dengan sangat manis dan berkata.
"Ay sangat senang saat mendengar Kakek itu, emmm. Apa itu namanya? Baca apa tadi Kakek? Ay sangat suka, hati Ay jadi berdebar dengan kencang. Terus, pikiran Ay juga jadi tenang. Apakah Ay juga boleh belajar?" tanya Ayana.
Satria begitu terharu mendengar apa yang dikatakan oleh cucunya tersebut, padahal dia sudah berniat untuk mengislamkan Ayana dan juga Aruna. Namun, dia sedikit kesusahan untuk menjelaskan hal tersebut kepada Ayana.
"Siang nanti kita akan belajar, kita akan bertemu dengan pak ustadz di masjid agung. Sekarang Ay mandi dulu, mau dimandiin sama Bunda atau sama Nenek?" tanya Satria.
"Sama Nenek, tapi ke sekolahnya mau diantarkan sama Kakek. Sama Nenek juga," jawab Ayana.
Satria langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh cucunya tersebut, Satria begitu senang karena Ayana bisa langsung dekat dengan dirinya, dengan istrinya dan juga dengan putranya.
"Boleh, Sayang. Kakek akan mengantarkan kamu untuk bersekolah, tapi nanti Ay akan pindah sekolah di tempat yang paling bagus."
Satria sengaja ingin memindahkan sekolah Ayana ke sekolah pilihannya, karena tempat sekolah Ayana sekarang tidak memiliki ajaran agama yang dia anut.
"Pindah kenapa?" tanya Ayana penasaran.
"Karena sekolah Ay yang lama tidak ada ajaran agama Islamnya," jawab Satria.
"Oh!" jawab Ayana yang tidak begitu paham.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana hanya bisa menertawakan tingkah dari Ayana, karena anak berusia 5 tahun itu terlihat begitu menggemaskan.
Di saat Ayana sedang asik berbicara dengan Satria, Aruna memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Dia harus segera pergi ke kediaman Almira, dia ingin memberikan akta cerai milik Sam dan juga ingin meminta maaf kepada Almira.
"Sudah siap?" tanya Rachel ketika Aruna sudah bersiap untuk pergi.
"Sudah," jawab Aruna seraya tersenyum.
"Perlu diantar atau tidak?" tanya Sagara yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.
"Tidak perlu, kamu harus bekerja. Ayah dan Bunda juga harus mengurusi kepindahan sekolah Ay ke tempat yang baru, aku bisa berangkat sendiri," jawab Aruna.
"Pergilah! Selesaikan masalah kamu dengan Sam, Ay ada ayah dan juga Bunda yang mengurus. Kalau pria itu berulah, cepat bilang Bunda," ucap Rachel.
"Yes, Bunda!" jawab Aruna.
Setelah berpamitan kepada Rachel dan juga Sagara, Aruna langsung pergi menuju kediaman Rahardi. Sepanjang perjalanan menuju kediaman Rahardi, hati Aruna merasa tidak karuan.
Walaupun dia merasa benci dengan apa yang dilakukan oleh Sam, tetapi tidak dia pungkiri jika di dasar hatinya yang paling dalam masih ada rasa cinta untuk Sam.
"Kuatkan aku, Tuhan. Jangan buat aku lemah dan tidak berdaya saat bertemu dengan Sam," ujar Aruna berusaha untuk menguatkan dirinya.
Tidak lama kemudian, mobil yang Aruna kendarai berhenti tepat di depan rumah milik Almira. Dia langsung turun dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
"Mom, aku datang. Mom di mana?" ujar Aruna ketika dia masuk lewat pintu utama.
Sam yang baru saja keluar dari dalam kamarnya langsung melebarkan senyumnya mendengar suara Aruna, dengan cepat Sam berlari untuk menghampiri Aruna dan langsung memeluk wanita itu dengan erat.
Bahagia sekali rasanya melihat Aruna yang kini berada di dalam pelukannya, dia berjanji akan mempertahankan Aruna dan meninggalkan Angel. Karena dia sangat sadar jika dirinya selamat membutuhkan Aruna.
Tidur tidak bisa lena karena tidak ada istrinya tersebut, makanan yang disediakan di atas meja makan pun terasa tidak enak, karena Sam sudah terbiasa memakan makanan yang Aruna masak.
Mau memakai baju di saat hendak bekerja pun dia merasa kesusahan, karena biasanya ada Aruna yang membantu dirinya. Bahkan, Sam merasa kesusahan ketika memasangkan dasinya.
''Akhirnya kamu pulang, Sayang. Aku rindu kamu, kenapa kamu tidak pulang dari dua hari yang lalu, hem? Aku sangat khawatir," ujar Sam seraya mengeratkan pelukannya.
__ADS_1