Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 1


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


Seorang pria tampan yang baru saja menyelesaikan pendidikannya turun dari pesawat, pria itu kini terlihat semakin dewasa. Tidak terlihat seperti pria remaja seperti saat lima tahun yang lalu dia meninggalkan tanah air.


Selama lima tahun menimba ilmu di luar negeri, pria itu sama sekali tidak pernah pulang. Bahkan, di hari libur pun dia tidak pernah berniat untuk pulang.


Selama kuliah di luar negeri, justru pria itu akan bekerja paruh waktu setelah kuliahnya selesai. Bukan karena tidak punya uang, tetapi karena ingin memanfaatkan waktu dengan hal yang berguna.


Dia ingin mempunyai banyak pengalaman setelah pulang nanti ke tanah air, dia ingin sudah siap dalam menjalankan usahanya. Sudah banyak pengalamannya dalam hal yang namanya pekerjaan.


Ketika keluar dari Bandara, pria tampan itu langsung disambut oleh pelukan hangat dari ibu tercintanya. Aruna bahkan sampai menitikan air matanya, karena dia begitu merindukan putranya tersebut.


Walaupun terkadang Aruna akan pergi ke luar negeri bersama dengan suami dan putrinya untuk menemui Kenzo, tetapi tetap saja saat ini dia begitu merindukanmu putranya itu.


Putranya yang baru saja menyelesaikan S2-nya, Kenzo menyelesaikan S1-nya selama tiga tahun. Lalu, dia melanjutkan kuliahnya selama dua tahun menempuh pendidikan S2-nya, kini dia pulang setelah mendapatkan nilai kelulusan yang terbaik dari tempat dia menimba ilmu.


"Ken, Buna rindu," ujar Aruna.


"Ken juga rindu," balas Kenzo.


"Papa dan Alice juga rindu, apakah kami boleh ikut berpelukan?" tanya Sigit.


"Tentu," jawab Kenzo seraya merentangkan kedua tangannya.


Sigit dan juga Alice langsung masuk ke dalam pelukanan Kenzo, keempat orang itu nampak saling memeluk dengan penuh kasih sayang.


"Kita pulang, Bun. Ken lapar, Ken mau makan masakan Buna." Kenzo i berusaha untuk melerai pelukannya.


"Ah! Iya, Sayang. Ayo kita pulang, lagi pula sudah hampir sore. Kita harus cepat pulang, di rumah sudah banyak yang menunggu," ujar Aruna.


"Ya, Buna."

__ADS_1


Sigit nampak merangkul pundak Aruna, sedangkan Alice nampak memeluk Kenzo. Gadis itu terlihat sangat merindukan kakaknya itu, Kenzo tersenyum lalu mengelus lembut puncak kepala adiknya.


Setelah pak sopir menyimpan barang-barang milik Kenzo ke dalam bagasi, pak sopir langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Sigit. Di mana di sana sudah banyak orang yang menunggu kedatangan dari Kenzo.


Saat tiba di kediaman Sigit, tentunya Kenzo langsung mendapatkan pelukan hangat dari keluarga tercintanya. Bahkan, dia juga mendapatkan pelukan hangat dari keponakan cantiknya yang terlahir dari rahim Ayaka.


Putri cantik berusia empat tahun yang diberi nama Aliandra, sangat cantik dan juga nampak menggemaskan.


Lalu, bagaimana dengan Ayana?


Sampai saat ini wanita itu belum juga mendapatkan keturunan, Ayana sempat mengeluh karena takut jika Sandi akan berselingkuh karena sudah tidak sabar ingin memiliki momongan.


Namun, Sandi selalu berkata jika dia tidak akan pernah berselingkuh. Dia tidak akan pernah meninggalkan istri cantiknya, bahkan dia tidak pernah berniat sama sekali untuk menikah kembali.


Jika Tuhan memberikan keturunan kepada dirinya dan juga Ayana, tentunya Sandi akan sangat bersyukur.


Akan tetapi, jika dia tidak diberikan keturunan, itu artinya Tuhan ingin membiarkan Sandi bahagia bersama Ayana tanpa adanya keramaian dari anak kecil di rumah mereka.


Pria tua itu nampak memeluk cucunya, lalu mengajak Kenzo untuk duduk dan membicarakan tentang rencana masa depan cucunya itu.


"Aku sih ada rencana mau beli perusahaan batu bara milik ayah dari sahabatku, Kek. Di daerah Sorong, Papua. Perusahaan itu hampir bangkrut karena ibu dari sahabatku itu sakit-sakitan terus. Bahkan, kemarin aku dengar ibunya meninggal dunia."


Aman adalah teman Kenzo saat kuliah di luar negeri, sahabatnya itu berkata ingin menjual perusahaan milik sang ayah.


Setelah itu, dia ingin memberikan semua uang hasil penjualan perusahaan itu kepada sang ayah agar memulai usaha yang baru.


Jika Kenzo mau membeli perusahaan milik ayahnya itu, Aman berkata ingin ikut bekerja di perusahaan yang dibeli oleh Kenzo jika pria itu mengizinkan.


Kenzo merasa kasihan kepada sahabatnya yang kini sedang mengalami kesulitan ekonomi itu, tentunya Kenzo ingin membeli perusahaan milik dari ayah sahabatnya itu.


Selain bertujuan untuk membantu sahabatnya, dia juga ingin mencoba mengurus usahanya sendiri. Dia ingin hidup mandiri dan menjalani kehidupannya dengan baik tanpa bantuan dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


Namun, jika dipikir-pikir tetap saja dia tidak mempunyai uang untuk membeli perusahaan tersebut. Karena uang tabungannya selama dia bekerja di luar negeri belum cukup untuk membeli perusahaan itu.


"Innalillahiwainnailaihirojiun, jadi kamu mau membeli perusahaan milik dari ayah sahabat kamu itu? Lalu, kamu ingin mengelolanya dari ulang, begitu?" tanya Satria.


Kenzo langsung menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, karena memang hal itulah yang ingin Kenzo lakukan.


"Iya, Kek. Itu sangat betul, karena sahabatku berkata ayahnya sudah tidak sanggup untuk mengelola perusahaan yang hampir bangkrut itu. Tapi, masalahnya uang tabungan aku hanya ada 30% dari harga perusahaan tersebut," ujar Kenzo.


Satria langsung tertawa karena cucu kesayangannya itu malah mengurusi masalah uang, tidak tahukah cucunya jika dirinya memiliki uang yang begitu banyak, pikirnya.


"Gampang, untuk masalah uang akan Kakek urus. Tinggal bilang saja butuh berapa," ujar Satria.


Sigit yang sejak tadi mendengar obrolan antara Satria dan juga Kenzo nampak bersuara, karena dia tidak terima jika Satria-lah yang akan memberikan modal kepada putra tampannya itu.


"Ayah, jangan menjatuhkan harga diriku. Aku juga memiliki banyak uang, Ken... kamu butuh uang berapa? Biar Papa yang kasih," ujar Sigit.


Steven langsung mencebikkan bibirnya, selama ini yang selalu mengurusi masalah yang terjadi di keluarga putranya adalah keluarga Dinata. Dirinya sebagai keluarga Siregar merasa tidak dibutuhkan sama sekali.


Rasanya ini adalah saatnya dia untuk membantu keinginan dari cucunya itu, ini adalah saatnya dia menjadi orang yang dirasa berguna untuk cucunya.


"Ck! Kalian berisik sekali, aku akan memberikan uang modal untuk cucuku. Kali ini biarkan aku yang membantu cucu tampanku," ujar Steven.


Kenzo yang mendengar penuturan dari kakeknya langsung memeluk pria tua itu, lalu dia menyandarkan kepalanya di pundak Steven.


"Baiklah!" ujar Sigit dan juga Satria disertai tawa.


Di saat para pria itu sedang asyik tertawa, tiba-tiba saja Anisa datang dan menghampiri Kenzo. Wanita itu kini terlihat sangat cantik, dia bahkan terlihat berkerudung.


Kenzo yang melihat akan hal itu sampai kaget dibuatnya, dia tidak menyangka jika wanita itu kini terlihat lebih sopan dengan penampilannya yang tertutup.


Wanita itu juga sudah terlihat bisa berjalan dengan sempurna, dia menatap Kenzo dengan senyum manisnya lalu berkata.

__ADS_1


"Kak Kenzo, kalau misalkan Kakak jadi kerja di Papua? Apakah Nisa boleh ikut? Nisa mau kerja di perusahaan Kak Kenzo," ujar Anisa.


__ADS_2