
Ayana sempat mengira jika dirinya dan juga Stefano akan bekerja sampai larut malam, karena pekerjaan hari ini benar-benar sangat banyak sekali.
Karena memang Sigit hari ini tidak masuk bekerja, ada kepentingan lain yang harus dia kerjakan di luaran sana. Tentunya hal itu membuat semua pekerjaan dilimpahkan kepada Ayana dan juga Stefan.
Namun, Ayana dan juga Stefano merasa bersyukur. Karena selepas magrib keduanya bisa mengerjakan semua pekerjaan dengan baik.
"Alhamdulillah, akhirnya semuanya sudah beres. Ayo kita pulang," ajak Ayana kepada Stefano.
"Baik, Nona," jawab Stefano seraya membereskan berkas yang sudah mereka kerjakan dan segera mengajak Ayana untuk keluar dari ruangan tersebut.
Keduanya berjalan beriringan sampai parkiran, lalu mereka menaiki mobil Stefano dan keduanya terlihat hendak pulang untuk beristirahat.
Namun, saat di pertengahan jalan Ayana melihat tukang soto yang biasa dia beli bersama dengan Ayaka. Ayana yang sedang merindukan Ayaka langsung tersenyum, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Stefano.
"Berhenti sebentar, Fano. Sepertinya kalau beli soto untuk makan malam akan terasa lebih enak," ujar Ayana.
Stefano langsung mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, karena biasanya gadis itu tidak pernah membeli makanan di luaran kalau untuk makan malam.
Jika Ayana berada di rumah, wanita itu akan memilih untuk memasak. Walaupun hanya memasak makanan sederhana saja.
"Kok tumbenan mau makan soto, biasanya Nona lebih suka makan rumahan," ujar Stefano seraya menepikan mobilnya.
"Aku sedang merindukan adikku, itu adalah makanan kesukaannya. Bagaimana kalau aku traktir kamu juga? Kita makan bersama di rumah ayah," tawar Ayana.
Stefano merasa begitu senang mendapatkan tawaran dari Ayana, tentu saja dia langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Boleh, Nona. Saya juga ingin mencicipinya," ujar Stefano.
Rasanya memakan soto yang hangat di malam yang begitu dingin akan terasa lebih enak, terlebih lagi jika memakan sotonya bersama dengan Ayana, pikir Stefano.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membeli 3 porsi soto," ujar Ayana seraya turun dari mobil Stefano dan langsung memesan 3 porsi soto untuk mereka nikmati di rumah Sam.
__ADS_1
Stefano terdiam seraya menunggu Ayana di dalam mobil, dia begitu anteng duduk seraya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Ayana.
Ayana terlihat begitu cantik walaupun dengan wajah lelahnya, wanita itu terlihat begitu ceria setelah berkata mengingat adiknya. Padahal, wanita itu sempat galau ketika sedang bekerja.
Stefano bisa menyimpulkan jika Ayana sepertinya galau setelah bertemu dengan Sandi, jika mengingat akan hal itu Stefano langsung tersenyum kecut.
Belasan tahun dia teringat terus akan gadis kecilnya, sayangnya setelah bertemu dengan gadis kecil itu Stefano malah merasa kecewa.
Akan tetapi, Stefano kembali berpikir jika ini adalah jalan dari Tuhan. Jika memang gadis kecilnya bukan jodohnya, Stefano pasti akan diberikan jodoh yang terbaik dari Tuhan, pikirnya.
"Sadar, Stefano. Sekarang dia bukan gadis kecil lagi, dia sudah punya pemikiran sendiri dan pilihan sendiri." Stefano tersenyum kecut setelah mengatakan hal itu.
Tidak perlu waktu yang lama untuk membeli soto tersebut, karena setelah lima belas menit berlalu Ayana kembali masuk ke dalam mobil Stefano dan langsung duduk tepat di samping pria itu.
"Wah, sepertinya sotonya sangat enak karena tercium begitu wangi," ujar Stefano ketika mengendus aroma soto yang Ayana bawa.
"Ya, sotonya memang sangat enak. Nanti kamu kalau sudah mencobanya pasti akan ketagihan," ujar Ayana seraya terkekeh.
Selama perjalanan menuju rumah Sam, Ayana terus saja tersenyum. Dia bahkan mengambil ponselnya, lalu dia mengetikkan pesan kepada Ayaka.
"Kakak udah rindu banget loh sama kamu, katanya di Luar kotanya hanya sebulan aja. Kok nggak pulang-pulang sih De?"
Cukup lama dia menunggu pesan balasan dari adiknya, sayangnya Ayana tidak mendapatkan pesan balasan dari adiknya tersebut. Dia tersenyum kecut lalu menghela napasnya dengan begitu berat.
'Nyebelin banget sih kamu, dek. Kakak kirim pesan aja ngga dibales, emangnya kamu sibuk banget apa?!' gerutu Ayana di dalam hati.
Stefano sempat menolehkan wajahnya ke arah Ayana yang sedang terlihat kesal, tidak lama kemudian dia kembali fokus dalam mengemudi. Dia merasa lucu dengan tingkah Ayana yang sebentar terlihat bahagia, sebentar terlihat galau, lalu sebentar lagi terlihat begitu kesal.
"Alhamdulillah, kita sudah sampai," ujar Stefano seraya memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Sam.
Stefano terlihat hendak turun, tetapi Ayana langsung mencekal pergelangan lengan Stefano. Tentu saja hal itu membuat Stefano tidak melanjutkan apa yang akan ia lakukan, dia menolehkan wajahnya ke arah Ayana dengan dahi yang berkerut dalam.
__ADS_1
"Ada apa, Nona?" tanya Stefano dengan bingung.
"Itu loh, kamu coba lihat ke rumah ayah. Kenapa gelap begitu? Apa mungkin ayah pergi makanya lampunya belum dinyalain?" tanya Ayana.
Stefano langsung menolehkan wajahnya ke arah rumah Sam, lalu dia memperhatikan kediaman dari ayah Ayana tersebut.
"Mungkin listriknya padam, kalau tuan Sam pergi pasti dia akan memberitahukan kepergiannya kepada Nona," jawab Stefano.
Ayana langsung menganggukkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, tetapi satu hal yang dia anehkan, jika Sam ada di rumah, kenapa listriknya padam seperti itu, pikirnya. Jika kehabisan token rasanya itu tidak akan mungkin.
"Kamu benar, tapi aku kok jadi khawatir. Ayo cepat turun," ajak Ayana seraya turun dengan cepat dari mobil Stefano.
Tiba-tiba saja Ayana teringat akan Sam yang pernah sakit, Ayana takut jika Sam ternyata saat ini sedang sakit dan pingsan tanpa ada yang menolong di dalam rumahnya.
Stefano menyusul Ayana dan berjalan lebih dulu dari atasannya tersebut, karena dia takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Biar aku yang berjalan terlebih dahulu, Nona. Anda berjalan di belakangku saja," ujar Stefano seraya melangkahkan kakinya dengan begitu hati-hati.
"Iya," jawab Ayana dengan patuh.
Keduanya berjalan dengan beriringan, tentunya dengan langkah yang begitu perlahan dan juga hati-hati. Hingga tepat di depan pintu, stefano membuka pintu tersebut dengan begitu cepat.
Dahi Stefano kembali mengernyit ketika dia mendapati pintu rumah Sam yang tidak dikunci, pikiran Stefano jadi melayang ke mana-mana.
Setelah pintu terbuka dengan lebar, tanpa Stefano duga tiba-tiba saja dia merasakan ada yang memeluk dirinya dengan begitu erat. Bahkan, orang itu langsung menggoyang-goyangkan tubuh Stefano.
Stefano yang merasa bingung hanya terdiam seraya menunduk untuk memperhatikan siapa yang memeluk dirinya, tetapi karena suasananya begitu gelap dia tidak bisa melihat siapa yang memeluk dirinya tersebut.
"Kakak, Aya RINDU!"
Deg!
__ADS_1
Jantung Stefano seakan berdebar dengan begitu cepat ketika mendengar suara teriakan yang begitu kencang di telinganya, tentunya bukan hanya suara teriakannya saja yang membuat Stefano terdiam. Namun, kata 'Aya' yang membuat otaknya seakan berhenti untuk berpikir.