Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 162


__ADS_3

Selama tiga hari berada di puncak, Stefano dan juga Ayaka menghabiskan banyak waktu untuk bercinta, berkasih sayang dan juga mencoba untuk saling mengerti.


Stefano bahkan mengajak Ayana untuk bercinta di berbagai tempat, dari mulai di atas ranjang, di atas sofa sampai di kamar mandi ataupun di dekat jendela.


Stefano tidak merasa takut akan terlihat oleh siapa pun, karena jendela kamarnya tepat menghadap hutan pinus.


Selebihnya mereka akan pergi untuk jalan-jalan, selain untuk memanjakan mata, mereka juga mencari tempat untuk memanjakan perut.


Sebenarnya mereka belum merasa puas karena hanya tiga hari saja berada di puncak, keduanya masih ingin menghabiskan banyak waktu berduaan saja tanpa beban pekerjaan.


Namun, kemesraan yang terjalin bisa berlanjut kapan saja, di mana saja dan dengan berkegiatan yang membuat keduanya merasakan kesenangan.


"Terima kasih untuk bulan madunya," ujar Ayaka tulus ketika mereka tiba di kediaman Stefano.


"Sama-sama, Sayang. Sekarang kamu istirahat saja, karena besok sudah mulai bekerja." Stefano menuntun istrinya untuk masuk ke dalam kamar.


"Iya, Sayang," jawab Ayaka.


Beberapa hari kemudian.


POV Aruna.


Aku merasa jika terkadang kehidupan itu begitu menyenangkan, terkadang kehidupan itu membuat hati terasa luka. Terkadang dirasa tidak adil, karena kebaikan tidak berpihak kepadaku.


Namun, di balik itu semua aku yakin ada rencana Tuhan yang begitu indah. Akan tetapi, terkadang kita merasa tidak yakin akan kuasa Tuhan, karena terlalu banyak rasa duka yang datang.


Dulu aku tertipu oleh ucapan manis yang terlontar dari mulut manis seorang pria, atau mungkin lebih tepatnya aku yang terlalu mudah percaya kepada orang itu.


Aku mengenal Sam sebagai pria yang dingin tetapi begitu tegas, di saat dia mabuk, pria itu mengungkapkan rasa cintanya. Aku kira itu nyata, karena kami memang selalu pergi bersama.


Namun, nyatanya ucapan yang keluar dari bibir Sam saat itu bukan untukku. Akan tetapi, untuk wanita yang bernama Angel.


Aku tahu jika dari awal kedekatanku dengan Sam sudah salah, sampai kami menikah pun dirasa salah. Karena nyatanya aku menikahi pria yang hatinya sudah diisi oleh wanita lain.


Namun, terlepas dari apa pun yang menimpa diriku, aku yakin itu semua adalah takdir yang terbaik dari Tuhan.


Aku tetap bersyukur dengan apa pun yang terjadi terhadap diriku, terlebih lagi setelah aku bertemu dengan keluarga kandungku, aku sangat bahagia.


Aku juga begitu bahagia ketika bisa menikah kembali dengan Sigit, brondong tampan yang begitu mencintai aku. Terlebih lagi setelah kini aku memiliki tiga anak, kebahagiaanku terasa semakin lengkap.


Salah, empat anak. Karena bagiku Ayaka juga merupakan putriku, walaupun dia terlahir dari rahim Angel, tetapi aku sangat menyayanginya.


"Sayang! Sudah siap menikah?" tanyaku kepada putri cantikku.


Ya, hari ini akan dilaksanakan pernikahan putri pertamaku dengan kekasih hatinya, Sandi. Pernikahan yang akan dilaksanakan di ballroom hotel termegah di pusat kota.


Kini, putriku, Ayana sudah terlihat begitu cantik dengan gaun pengantin yang dia kenakan. Bahkan, riasan yang menempel di wajahnya semakin mempercantik putri pertamaku dengan Sam.

__ADS_1


"Siap, Bun. Tapi aku gugup," jawab Ayana.


Aku langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh putriku, aku elus punggungnya. Lalu aku usap kedua pundaknya dengan begitu lembut.


"Jangan gugup, ayo kita keluar. Sandi sudah menunggu," ucapku.


Ayana tersenyum mendengar perkataanku, pipinya bahkan tiba-tiba saja merona. Dia seperti orang yang sedang melamunkan sesuatu, tetapi aku tidak tahu apa yang dia lamunkan.


Namun, jika mengingat putriku akan menikah sebentar lagi, sepertinya Ayana sudah membayangkan malam pertamanya dengan Sandi setelah sah.


"Iya, Bun," jawab putriku.


Aku dengan cepat membantu putriku untuk bangun, lalu aku menuntun Ayana agar keluar dari dalam kamar hotelnya. Baru saja aku menutup pintu kamar hotel itu, Sam datang menghampiriku dan juga Ayana.


''Bolehkah Ayah menuntun kamu sampai pelaminan?" tanya Sam dengan ragu.


Padahal kami sudah berpisah sejak lama, tetapi Sam masih terlihat canggung jika bertemu denganku. Padahal, aku sudah memaafkan semua kesalahannya.


Karena menurutku, apa yang sudah terjadi di masa lalu bukan sepenuhnya salah Sam. Aku juga bersalah karena memercayai ucapan orang mabuk yang pada akhirnya membuat aku hamil di luar nikah.


Sam menatap Ayana dan juga aku secara bergantian, tatapannya terlihat begitu penuh dengan permohonan. Aku tersenyum lalu menganggukkan kepalaku.


"Boleh dong, Sam. Ay adalah putri kita," jawabku.


Sam langsung tersenyum mendengar jawaban dariku, dengan cepat dia menghampiriku dan juga Ayana. Lalu, dia berdiri tepat di samping kiri putriku dan mengapit lengannya.


"Aamiin," ucap Ayana mengamini.


Akhirnya aku, Sam dan juga Ayana kompak melangkahkan kaki kami menuju ballroom hotel. Tempat di mana akan diadakannya pernikahan Ayana dan juga Sandi.


Saat tiba di pelaminan, aku dan Sam membantu Ayana untuk duduk tepat di samping Sandi. Pria itu nampak tersenyum dengan begitu lebar saat menatap wajah putriku, tatapan matanya bahkan menyiratkan cinta yang begitu besar.


Bahagia sekali rasanya melihat pemandangan seperti itu, aku berharap jika Sandi merupakan pria terbaik untuk putriku. Pria yang akan membimbing putriku menjadi istri yang sholeha.


Di saat aku sedang memperhatikan Ayana dan juga Sandi, Sam nampak menghampiri pak penghulu. Lalu, dia berkata dengan begitu pelan tapi aku masih bisa mendengarnya.


"Ehm! Tolong nikahkan putriku dengan pria yang dia cintai, karena aku---"


Sam menghentikan ucapannya, dia seolah tidak sanggup untuk berkata-kata. Akan tetapi, tidak lama kemudian Sam terlihat menunduk lalu tempat di telinga pak penghulu.


Setelah berbicara dengan pak penghulu, Sam langsung duduk tepat di sampingku. Sigit sempat menolehkan wajahnya ke arah Sam, lalu dia memintaku untuk bertukar tempat.


Aku dan Sam sampai tertawa dibuatnya, karena suamiku itu terlihat begitu cemburu ketika aku berdekatan dengan Sam. Pria yang menjadi suamiku itu selalu menunjukkan cintanya yang besar itu kepadaku.


"Jangan cemburu, Sayang. Kisah kami sudah berakhir, jika kami masih saling berhubungan, itu bukan karena cinta. Namun, karena anak," ucapku seraya mengusap lengan Sigit.


"Aku tahu," ucapnya seraya merangkul pundakku.

__ADS_1


Mulutnya boleh saja berkata seperti itu, tetapi saat Sigit menatap wajah Sam, suamiku itu seolah berkata jika aku adalah miliknya seutuhnya. Sam tidak akan berkesempatan untuk mendapatkan aku kembali.


"Tenang saja, aku tidak akan menjadi perusak di dalam rumah tangga kalian,'' ujar Sam.


''Hem!" jawab Sigit.


Tidak lama kemudian, pak penghulu nampak tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Setelah itu, pak penghulu nampak menolehkan wajahnya ke arah Sandi.


"Bagaimana Nak Sandi? Apakah sudah siap untuk menikah?" tanya Pak penghulu.


"Sangat siap!" jawab Sandi mantap.


"Baiklah! Kalau begitu kita akan segera melaksanakan acara pernikahannya," ucap Pak penghulu lagi.


Pak penghulu nampak membuka acara pernikahan tersebut, lalu dia juga membaca alfatihah, istighfar dan juga syahadat.


"Setelah saya melafalkan kalimat ijabnya, Nak Sandi dengan cepat harus melafalkan kalimat kabulnya."


"Iya, Pak," jawab Sandi.


Pak penghulu nampak tersenyum ke arahku, lalu dia mengulurkan tangannya ke arah Sandi. Sandi menerima uluran tangan itu, lalu pak penghulu mulai mengucapkan kalimat ijabnya.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Sandi Triatmojo bin Sutan Triatmojo kepada putri saya yang bernama adinda Ayana Shihab Rahardi bin Samuel Rizal Rahardi dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar Rp 20.082.023 dibayar tunai."


Pak penghulu nampak menghentakkan tangannya, Sandi yang paham langsung mengucapkan kalimat kabulnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ayana Shihab Rahardi bin Samuel Rizal Rahardi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ujar Sandi.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah!" jawab semua yang datang.


Sandi yang merasa senang sampai melompat kegirangan, aku dan semua orang yang ada di sana langsung tertawa melihat tingkah dari menantu baru di keluarga kami.


"Selamat ya, Sayang." Aku mendekati putriku dan mengecup keningnya.


Bahagia sekali saat aku melihat kebahagiaan di wajah putriku, walaupun ada sisi di hati ini yang membuat diri ini merasa sedih karena Ay-ku akan tinggal bersama dengan suamimya.


Namun, aku berharap dan selalu mendoakan agar putriku bisa bahagia dengan pilihannya. Sandi nampak menolehkan wajahnya ke arahku, lalu dia tersenyum dengan begitu manis dan berkata.


"Bun, apa aku udah boleh kecup kening istriku?" tanyanya dengan penuh harap.


"Belum dong, tunggu aba-aba dari pak penghulu," jawabku.


"Yah!" ucapnya dengan wajah kecewa.


Aku langsung tertawa melihat Sandi yang lemas dan kecewa, bahkan Ayana dan juga semua tamu yang hadir nampak itu tertawa.

__ADS_1


__ADS_2