
Kenzo pulang dengan perasaan yang begitu sedih sekali, karena kini Anaya sudah pergi ke tempat yang begitu jauh dan begitu sulit untuk dijangkau.
Dia tidak menyangka jika Anaya memutuskan hal berat seperti, memutuskan untuk pergi jauh dari dirinya dengan alasan karena semakin Anaya dekat dengan dirinya maka semakin Anaya merasa sakit karena tidak bisa bersatu.
Akan tetapi, setidaknya Anaya merasa senang karena selama dua bulan ini mereka terlihat lebih dekat. Bahkan, mereka sudah melakukan hal yang seharusnya memang tidak boleh dilakukan.
"Ken, Buna perhatikan sejak kamu pulang kok ngelamun aja? Ada apa, hem? Kenapa? Bilang doanh sama Buna, apakah ada sesuatu hal yang membuat kamu sedih atau terluka?" tanya Aruna ketika melihat Kenzo yang sejak pulang hanya diam saja di taman belakang.
Pria itu hanya duduk di bangku taman seraya menekuk kedua kakinya, dia peluk kedua kakinya tersebut seraya menyandarkan dagunya pada kedua lututnya.
Kenzo yang sedang melamun seolah tertarik ke alam nyata, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Aruna. Setelah itu, Kenzo meminta ibunya untuk duduk di sampingnya.
Aruna menurut, dia duduk tepat di samping putranya. Kenzo yang memang sedang mengalami kesedihan langsung memeluk ibunya dan menyadarkan kepalanya di pundak ibunya tersebut.
Pria itu terlihat lebih tinggi dari ibunya, maka dari itu Kenzo sampai membungkuk untuk memeluk ibunya tersebut. Aruna sampai merasa lucu karena bayi tampannya kini sudah berubah menjadi pria remaja.
"Putus cinta? Atau ditolak?" tanya Aruna.
"Ngga, Bun. Ngga gitu, Naya pergi."
Ah! Rasanya Kenzo ingin sekali menangis di dalam pelukan ibunya tersebut, tetapi dia merasa malu untuk melakukan hal itu. Dia merasa jika dirinya harus kuat, dia tidak boleh cengeng walaupun ditinggalkan oleh Anaya.
Bukankah Anaya menginginkan dirinya menjadi seorang pria yang kuat, menjadi pria yang selalu baik-baik saja walaupun tanpa wanita itu. Jika dia bersedih, pasti Anaya akan sangat sedih.
"Naya tega banget ya, Bun. Dia ninggalin aku sendirian, padahal aku sayang dia," ujar Kenzo dengan jujur.
Hanya pada Aruna dia berani jujur, Aruna hanya menghela napas berat mendengar penuturan dari Kenzo. Karena pada kenyataannya Aruna sudah pernah membicarakan masalah ini dengan Angel.
__ADS_1
Bahkan, Aruna pernah mengajak Angel untuk membicarakan hal ini. Karena dia merasa kasihan kepada Kenzo, Aruna bisa melihat jika putranya itu memiliki rasa yang begitu besar untuk Anaya.
Namun, Angel berkata jika untuk urusan percintaan putrinya dia tidak mau ikut campur. Biarkan Anaya dan Kenzo yang menyelesaikan masalah percintaan mereka sendiri, akhirnya Aruna hanya bisa mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Angel.
Karena memang mereka hanya bisa mendukung keputusan yang akan diambil oleh Kenzo dan juga Anaya, mereka tidak bisa langsung memutuskan.
Bukan tanpa alasan Aruna menemui Angel, karena dia sempat mendengarkan pengajian dan ada beberapa pemuka agama yang memperbolehkan seorang pria muslim untuk menikahi wanita non muslim. Karena pada dasarnya pria muslim tidak melahirkan.
Berbeda dengan wanita muslim, mereka tidak boleh menikah dengan pria non muslim karena wanita itu akan melahirkan keturunannya kelak.
(Maafkeun kalau Mamak salah, tolong yang tahu kasih pencerahan. Soalnya yang Mamak denger saat ceramah memang kaya gitu, jangan hujat, yes.)
Namun, kembali lagi dengan apa yang dikatakan oleh Angel. Mereka memang sebaiknya tidak ikut campur untuk urusan percintaan keduanya.
"Dia itu nggak tega, dia itu sangat sayang sama kamu, Ken. Kamu nggak boleh bilang gitu," kata Aruna seraya mengelus lembut puncak kepala putranya.
"Iya, Bun," jawab Kenzo tanpa membantah apa yang dikatakan oleh Aruna.
Ya, selama dua bulan ini Anisa hanya bisa duduk di kursi roda. Karena kakinya belum sembuh, tetapi sudah bisa digerakkan walaupun memang bisa belum berjalan dengan sempurna seperti sedia kala.
"Kak Kenzo kenapa, Bun? Lagi sedih ya?" tanya Anisa.
Kenzo hanya menolehkan wajahnya sebentar ke arah Anisa, lalu dia kembali menyembunyikan wajahnya pada pundak ibunya.
Kenzo terlihat begitu enggan untuk melihat Anisa, entah kenapa setelah kedatangan Anisa di rumah itu Kenzo merasa tidak menyukainya.
Walaupun Anisa terlihat tidak berdaya dan tidak mungkin menyakiti dirinya, tetapi tetap saja Kenzo tidak menyukainya Anisa.
__ADS_1
Kenzo merasa jika di balik sikap polos wanita itu ada hal yang disembunyikan, tetapi Kenzo tidak pernah mengatakan hal apa pun, karena memang dia tidak mempunyai bukti untuk hal itu.
"Ngga, Nisa. Ken hanya sedang manja saja, dia ingin disayang sama Buna," jawab Ayana.
"Oh," ujar Anisa dengan senyum canggung karena Kenzo tidak meresponnya.
Aruna tersenyum ke arah Anisa agar tidak ada kecanggungan di antara Aruna dan juga Anisa, tidak lama kemudian Aruna terlihat menolehkan wajahnya ke arah pintu.
Dia melihat ada putri cantiknya yang sedang berjalan untuk menghampiri dirinya, wajah putri cantiknya itu terlihat begitu sedih sekali. Aruna menjadi takut dibuatnya dia takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan kepada Ayana.
"Sonoan, Ken. Gue pengen meluk Buna," ujar Ayana.
Setelah mengatakan hal itu, Ayana nampak mendorong Kenzo. Kenzo terlihat memutarkan bola matanya dengan malas, lalu dia menggeser letak duduknya.
Melihat akan hal itu Ayana langsung duduk tepat di tengah-tengah, dia duduk di antara Kenzo dan juga Aruna.
Lalu, wanita itu terlihat memeluk ibunya dengan begitu erat, tidak lama kemudian terdengar suara isak tangis dari bibir Ayana.
Tidak biasanya putri cantiknya itu terlihat menangis seperti itu, Aruna benar-benar takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap Ayana.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis?" tanya Aruna dengan khawatir.
"Itu, Buna. Tadi aku habis dari rumah sakit, aku habis periksa dari dokter kandungan. Aku pengen tahu, apakah aku bisa cepat hamil atau tidak. Tapi ternyata kata dokter aku tidak bisa cepat hamil," adu Ayana dengan wajah yang begitu sedih.
Bukan hanya Aruna yang begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, tetapi Kenzo juga terlihat ikut kaget dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya tersebut.
"Loh kok bisa gitu?" tanya Ayana dengan sedih dan juga kaget.
__ADS_1
Ayana nampak melerai pelukannya dengan ibunya, lalu dia menatap wajah ibunya dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.
"Kata dokter terjadi ketidakseimbangan hormon pada tubuh aku, jadi hal itu menyebabkan aku akan kesulitan dalam hamil. Tapi masih bisa hamil sih, Bun. Tapi kan' aku takut," jawab Ayana.