Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 14


__ADS_3

Anisa terlihat begitu kelelahan, wanita itu bahkan terbangun ketika waktu menunjukkan pukul sembilan pagi. Saat terbangun dari tidurnya, Anisa nampak mengeluh tubuhnya terasa begitu pegal dan juga sakit.


Dia juga merasakan kepalanya yang begitu berat, bahkan satu hal yang sangat dia rasakan saat ini, area intinya sangat perih. Anisa nampak berusaha turun dari tempat tidur, lalu dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan begitu perlahan.


"Ke mana Sofyan? Kenapa dia tidak ada?" tanya Anisa saat dia masuk ke dalam kamar mandi.


Anisa langsung menyalakan shower, lalu dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Dengan seperti itu dia berharap jika tubuhnya akan terasa lebih baik, dia berharap jika area intinya juga akan segera sembuh.


"Ck! Berapa lama tadi malam kamu bercinta? Kenapa banyak sekali bekasnya?" tanya Anisa ketika menatap pantulan dirinya dari cermin.


Terdapat banyak bekas jejak cinta pada leher dan juga dadanya, bahkan banyak sekali jejak cinta pada paha bagian dalamnya. Anisa sampai meringis karena merasa sakit dan juga ngilu.


Selesai mandi, dengan cepat Anisa memakai bathrobe yang ada di dalam kamar mandi tersebut. Setelah itu, dia langsung melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar mandi tersebut.


"Yan, kamu dari mana?" tanya Anisa saat dia melihat Sofyan yang sudah berada di dalam kamar utama.


"Abis beli baju buat kamu, sama abis laporan juga ke pihak keamanan. Soalnya tadi malam aku yakin sudah mengunci pintu, tapi tadi pagi pas aku bangun pintunya malah tidak terkunci. Walaupun tidak ada yang hilang, tetapi tetap saja aku merasa takut," jawab Sofyan.


"Oh, makasih bajunya." Anisa mengambil paper bag berisikan baju yang dibelikan oleh Sofyan.


"Aku juga sudah membelikan kamu makanan, karena tubuh kamu itu membutuhkan asupan makanan. Habis pakai baju segeralah makan agar tidak merasa lemas," ujar Sofyan penuh perhatian.


"He'em," jawab Anisa malu-malu.


Sofyan ingin sekali tertawa melihat tingkah dari Anisa, karena pada kenyataannya tadi malam mereka sudah bergulat dengan begitu panas.


Bahkan, keduanya nampak bercinta dengan penuh gairah. Baik Sofyan ataupun Anisa sangat berhasrat, mereka terus berlomba untuk mencapai puncak nirwana.


"Aku tunggu di luar, cepatlah pake bajunya. Jangan sampai aku--"


Sofyan tidak meneruskan ucapannya, dia malah mendekati Anisa lalu merapatkan tubuhnya pada wanita itu. Tanpa ragu Sofyan langsung meremat kedua dada Anisa, Anisa sampai menahan napasnya karena ulah Sofyan.


"Jangan, Yan. Aku harus segera pulang, oiya. Kapan rencana penjebakannya?" tanya Anisa.


"Besok, Nisa," jawab Sofyan dengan kurang suka karena Anisa masih saja membicarakan hal yang lain saat bersama dengan dirinya.


"Oke, kalau begitu kamu keluar dulu. Nanti aku nyusul," ujar Anisa.


"Hem!" jawab Sofyan yang langsung keluar dari dalam kamar utama.


Selepas kepergian Sofyan, Anisa jangan cepat memakai baju yang dibelikan oleh pria itu. Lalu, setelah selesai dia menghampiri Sofyan yang sudah menyiapkan makanan untuk dirinya.

__ADS_1


"Terima kasih," ujar Anisa.


"Makanlah yang banyak, setelah itu aku akan mengantarkan kamu pulang."


"Ya," jawab Anisa.


Anisa dan juga Sofyan nampak melakukan sarapan pagi bersama, setelah itu Sofyan benar-benar mengantarkan Anisa. Tentunya Sofyan menurunkan Anisa tidak jauh dari rumah kontrakannya.


"Besok aku telpon, kamu siap-siap saja," ujar Sofyan.


"Ya," jawab Anisa yang dengan cepat pergi meninggalkan Sofyan untuk segera masuk ke dalam rumah kontrakannya.


Saat Anisa hendak masuk ke dalam rumah kontrakannya, Anisa merasa aneh karena pintunya tidak terkunci. Namun, keanehan itu berubah menjadi sebuah ketakutan ketika dia melihat ternyata tidak jauh dari sana ada motor milik suaminya.


"Astagfirullah! Apakah Ken pulang?" tanya Anisa dengan was-was.


Saat Anisa membuka pintu tersebut, Anisa benar-benar merasa kaget karena ternyata Kenzo sedang duduk di sana. Dia duduk seraya bermain dengan ponselnya.


"Ken, kamu pulang?" tanya Anisa.


Kenzo yang sedang bermain ponsel nampak menolehkan wajahnya ke arah Anisa, dia tersenyum dengan begitu manis lalu menepuk sofa kosong yang berada di sampingnya.


Anisa paham jika Kenzo menyuruh dirinya untuk duduk tepat di samping pria itu, walaupun ada rasa takut tetapi Anisa tetap melakukannya. Anisa duduk tepat di samping Kenzo.


"Ehm! Anu, itu. Tadi malam aku pergi bersama teman, karena perginya kemalaman jadinya aku menginap di rumah teman," jawab Anisa yang dirasa tidak masuk akal di telinga Kenzo.


Namun, untuk saat ini Kenzo tidak ingin berdebat dengan Anisa. Apalagi harus bertengkar dengan wanita itu, karena saat ini ada hal yang lebih penting yang harus Kenzo lakukan kepada Anisa.


Besok dia akan pergi ke kota Sorong Papua, lebih baik dia menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan Anisa agar tidak meninggalkan masalah yang belum terselesaikan.


"Oh gitu, bibir kamu kenapa?" tanya Kenzo yang tiba-tiba saja merapatkan tubuhnya ke arah Anisa dan mengusap bibir wanita itu yang nampak membengkak.


Anisa terlihat begitu ketakutan, dia bakal langsung memundurkan wajahnya seraya melipat bibirnya. Anisa sadar jika bibirnya pasti membengkak karena tadi malam dia dan juga Sofyan berciuman dengan penuh gairah.


"Kamu kenapa, hem? Apa ada yang menyakiti kamu? Kenapa bibir kamu kayak yang disengat lebah gitu?" tanya Kenzo.


Anisa nampak sedang memutarkan otaknya agar Kenzo tidak curiga kalau tadi malam dia sudah menghabiskan waktu untuk bercinta dengan Sofyan, Kenzo tidak boleh tahu dengan apa yang sudah dia lakukan tadi malam dengan pria lain selain suaminya.


"Ngga apa-apa, ini--ini hanya karena lipstik yang aku beli. Aku tidak cocok dengan lipstik itu dan akhirnya bibir aku bengkak," ujar Anisa beralasan.


Kenzo hampir saja tertawa dengan terbahak-bahak mendengar alasan dari Anisa, tetapi hal itu tidak dia lakukan. Kenzo langsung mengatupkan mulutnya, dia benar-benar tidak menyangka jika Anisa akan mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


"Oh, gitu. Oiya, Nisa. Aku ingin mengajak kamu pulang ke rumah buna, mau?" tanya Kenzo.


Kenzo sudah berkata jika mereka menikah itu artinya mereka akan keluar dari rumah Aruna, mereka akan memulai kehidupan rumah tangga tanpa bantuan dari orang tua.


Lalu, kenapa saat ini justru Kenzo mengajak dirinya untuk pulang ke rumah Aruna, pikirnya. Aga aneh memang, tetapi untuk saat ini Anisa tidak ingin memikirkan hal yang berat.


"Mau, memangnya ada apa? Kok tumben?" tanya Anisa.


"Ada hal yang sangat penting, bahkan di rumah semua anggota keluarga sudah berkumpul. Katanya ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan, kamu mau ikut pulang kan' sama aku?" tanya Kenzo lagi.


Anisa tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, dia berpikir jika Kenzo mengajak dirinya pulang pasti karena Aruna akan menikahkan dirinya secara resmi dengan pria itu.


"Mau," jawab Anisa.


"Kalau begitu kamu ganti baju dulu gih, soalnya aku bawa motor. Ngga bawa mobil," ujar Kenzo.


"Oke, jawab Anisa bersemangat.


Anisa dengan cepat masuk ke dalam kamar, lalu dia mengganti baju syar'i yang dia pakai dengan kaos panjang dan juga celana kulot. Setelah itu, dia segera keluar dan menghampiri suaminya.


"Aku sudah siap," ujar Anisa.


"Hem, ayo kita berangkat." Kenzo menautkan tangannya dengan tangan istrinya, tentu saja hal itu membuat Anisa tersenyum-senyum kegirangan.


Terlebih lagi ketika Kenzo memasangkan helm di kepalanya, Anisa benar-benar merasa bahagia. Begitu pula ketika dia menaiki motor Kenzo, dia tersenyum dengan begitu lebar sambil memeluk pria itu dengan begitu erat.


"Sudah siap?" tanya Kenzo.


"Sudah," jawab Anisa bersemangat.


Kenzo tersenyum penuh arti lalu melajukan motornya menuju kediaman Aruna, selama perjalanan menuju kediaman Aruna, Anisa terus saja memeluk pria itu dengan begitu posesif.


Bahkan, Anisa menyandarkan kepalanya pada punggung pria itu. Dia merasa menjadi seorang wanita yang sudah diakui oleh Kenzo, merasa menjadi seorang istri yang sudah dianggap oleh Kenzo.


"Ayo masuk," ajak Kenzo ketika mereka tiba di kediaman Aruna.


Anisa langsung memeluk lengan pria itu dengan percaya diri, lalu keduanya melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.


Saat tiba di dalam ruang keluarga, ternyata di sana sudah terlihat begitu ramai. Kedua keluarga besar sudah berkumpul di sana, wajah mereka terlihat begitu serius.


"Duduklah, Ken. Duduklah, Nisa." Aruna menunjuk sebuah sofa kosong yang tidak jauh dari dirinya.

__ADS_1


Anisa tersenyum ke arah Aruna, lalu dia juga tersenyum ke arah Sigit dan tersenyum ke arah semua orang yang ada di sana. Dia benar-benar berpikir jika sebentar lagi dirinya akan dinikahkan secara resmi dengan Kenzo.


"Ya, Buna," jawab Anisa.


__ADS_2