
Anisa sudah mandi dan sudah berpakaian dengan lengkap, wanita itu bahkan sudah sarapan walaupun hanya sedikit. Tentunya hal itu dia lakukan agar Aruna percaya jika dirinya kini sedang terluka karena perbuatan Kenzo.
Satria yang tidak mau masalah ini melebar meminta seluruh keluarga Dinata dan juga keluarga Siregar untuk pulang ke kediaman masing-masing, Satria berkata jika mereka harus kembali beraktivitas seperti biasanya.
Nanti jika Kenzo akan pergi ke Papua untuk bekerja, maka Satria akan mengumpulkan kedua keluarga besar itu kembali untuk makan bersama.
"Bagaimana? Apakah Ken sudah bangun?" tanya Aruna yang keadaannya kini sudah mulai membaik.
Wanita itu masih terlihat pucat wajahnya, Sigit bahkan tidak berani jauh-jauh dari istrinya. Dia terus saja mendekap istrinya dan berusaha untuk menenangkan hati istrinya tersebut.
"Belum, aku sudah panggil dokter sesuai dengan apa yang dikatakan oleh ayah. Kita tunggu saja ada apa dengan anak itu," jawab Sigit seraya menolehkan kepalanya ke arah Satria.
Satria memang sengaja meminta dokter pribadi dari keluarga Dinata untuk datang, hal itu dia lakukan karena merasa khawatir melihat keadaan cucunya yang tidak kunjung bangun.
Anisa yang mendengar obrolan antara Aruna dan juga Sigit nampak ketar-ketir, dia takut jika nanti malah akan ketahuan jika dirinya sudah memberikan obat tidur dan juga obat perangsang kepada Kenzo.
Satria dan juga Rachel berada di dalam ruangan yang sama dengan Sigit, Aruna dan juga Anisa. Dia sengaja ingin menangani masalah ini, dia juga ingin memastikan agar kabar apa yang dilakukan oleh Kenzo kepada Anisa tidak keluar ke ranah publik.
Dokter sudah datang dan masuk ke dalam kamar Kenzo, Satria dengan cepat ikut masuk karena ingin melihat keadaan cucu kesayangannya itu. Cucu yang dia rasa sangat menyedihkan dalam kisah percintaannya.
"Bagaimana keadaan cucuku?" tanya Satria.
Dokter yang sudah memeriksa kondisi Kenzo langsung menghampiri Satria, lalu dia memberitahukan keadaan dari pria muda itu dengan begitu pelan.
"Apa? Rasanya itu tidak mungkin," ujar Satria.
Dia merasa apa yang dikatakan oleh dokter sangat tidak mungkin, terlebih lagi mengingat wajah Anisa yang terlihat begitu polos.
"Tapi itulah kenyataannya, Tuan. Apa perlu kita melakukan tes keperawanan kepada nona Anisa?" tanya Dokter seraya menyuntikan obat pada Kenzo.
Satria langsung menggelengkan kepalanya seraya menatap wajah Kenzo dengan iba, dia merasa tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi kepada cucunya.
"Tidak usah, kita tunggu Kenzo sadar dulu."
__ADS_1
Satria tidak mau gegabah, dia harus bermain dengan cantik. Jika memang selama ini Anisa mempunyai niat buruk pada keluarganya, Satria akan membalas apa yang dilakukan oleh anak ingusan itu dengan caranya.
"Tidak akan lama lagi tuan Kenzo akan bangun, apa perlu saya menunggu atau bagaimana?" tanya Dokter.
"Tidak perlu, pergilah! Jika sudah mendapatkan keputusan dari Kenzo, aku akan mengabarimu kembali." Satria tersenyum hangat setelah mengatakan hal itu.
Dokter nampak berpamitan setelah mendengar keputusan dari Satria, tidak lupa sebelum dia pergi, dokter itu meninggalkan obat yang harus diminum oleh Kenzo.
Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dokter, tidak lama kemudian Kenzo nampak tersadar. Dia berusaha untuk duduk seraya memegangi kepalanya yang dirasa begitu berat, Satria mengambilkan air minum dan memberikannya kepada Kenzo.
"Minumlah dulu," ujar Satria.
"Terima kasih, Kek," jawab Kenzo seraya menerima air yang diberikan oleh Satria.
Setelah meminum air yang diberikan oleh Satria, Kenzo nampak kaget karena ternyata kini dirinya dalam keadaan polos. Bahkan, ada cairan putih yang sudah mengering pada miliknya.
Bahkan, dia juga melihat ada bercak darah pada tempat tidurnya. Tidak lama kemudian, Kenzo nampak mengingat-ingat apa yang sudah terjadi.
"Astagfirullah! Apa yang sudah terjadi kepadaku, Kek?" tanya Kenzo.
"Apa yang tadi malam kamu minum?" tanya Satria.
Bukannya menjawab pertanyaan dari cucunya, justru Satria malah kembali bertanya kepada cucunya tersebut.
"Hanya jus buah yang diberikan oleh Alice, setelah itu kepalaku terasa pusing dan aku diantarkan ke dalam kamar oleh Anisa," jawab Kenzo.
"Tapi, Anisa berkata jika dia sudah diperkosa sama kamu. Apakah itu benar?" tanya Satria.
Kenzo benar-benar merasa kaget dengan apa yang dikatakan oleh kakeknya tersebut, jangankan untuk memerkosa wanita itu, untuk sekedar berdekatan dengan Anisa saja dia benar-benar begitu enggan.
"Mana mungkin seperti itu, aku tidak pernah menyentuh Anisa. Aku sangat yakin," ujar Kenzo.
Kenzo hanya mengingat jika tadi malam dia diantarkan oleh Anisa menuju kamarnya, lalu dia mencium bibir Anisa dengan penuh hasrat. Namun, Kenzo yakin jika dia tidak mengambil kesucian dari wanita itu.
__ADS_1
"Tunggu sebentar," ujar Satria.
Satria nampak mengambil ponselnya, lalu dia menelpon Alice dan meminta gadis itu untuk masuk ke dalam kamar Kenzo. Tidak lama kemudian Alice datang dan langsung duduk di samping Satria.
"Ada apa, Kek?" tanya Alice yang sebenarnya merasa bingung.
Alice merasa bingung kenapa Kenzo tidak bangun-bangun, Kenzo baru bangun justru setelah mendapatkan pemeriksaan dari dokter. Satu hal lagi yang membuat Alice semakin bingung, Kenzo terlihat bertelanjang dada.
"Dari mana kamu mendapatkan jus buah yang kamu berikan kepada Ken?" tanya Satria.
"Dari Kak Nisa," jawab Alice.
Mendengar jawaban dari Alice, Satria dan juga Kenzo nampak saling pandang. Lalu, mereka nampak menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Sayang. Sekarang kamu boleh keluar," ujar Satria.
"Aih! Kalian nampak aneh," ujar Alice yang merasa diusir.
Walaupun mengatakan hal seperti itu, tetapi Alice menurut. Dia dengan cepat keluar dari dalam kamar Kenzo, berbeda dengan Satria, pria itu langsung menghampiri Kenzo dan duduk tepat di samping cucu kesayangannya itu.
"Kata dokter kamu overdosis, kamu kebanyakan meminum obat tidur dan juga meminum obat perangsang. Jadi--"
"Anisa pasti yang memberikan obat tidur dan juga obat perangsang pada minuman yang diberikan kepada Alice," pungkas Kenzo.
Kenzo sudah sejak lama tidak menyukai Anisa, karena tatapan wanita itu terlihat berbeda saat menatap dirinya. Tidak seperti Arin dan juga Surya, mereka memiliki tatapan yang begitu tulus saat menatap dirinya.
Namun, Kenzo tidak pernah mengatakan apa pun. Karena dia tahu jika Anisa adalah putri dari sahabat terbaik ibunya, dia tidak mau membuat Aruna bersedih hati.
Akan tetapi, kini perbuatan dari Anisa sudah dirasa sangat berani. Kenzo jadi berpikir untuk mengerjai wanita itu, tidak ada salahnya bukan jika Kenzo ingin membuat wanita itu merasa jera.
"Hem! Kakek juga berpikir sama seperti apa yang kamu pikirkan, jadi... apa yang akan kamu lakukan saat ini?" tanya Satria.
Kenzo tersenyum penuh arti seraya menatap kakeknya tersebut, lalu dia menggenggam kedua tangan kakeknya itu.
__ADS_1
"Untuk urusan ini, biarkan Ken yang akan melakukannya," ujar Kenzo. "Kakek percaya kan' pada Ken?" tanya Kenzo.
"Sangat percaya," jawab Satria.