
Walaupun Almira berkata tidak ingin pergi satu mobil bersama dengan Sam, tetapi Sam memaksa agar mereka pergi bersama. Dia sangat tahu jika ibunya itu begitu marah kepada dirinya.
Namun, dia berusaha untuk meluluhkan hati ibunya. Dia tidak boleh membiarkan ibunya membenci dirinya, karena walau bagaimanapun juga Sam begitu mencintai ibunya.
Kini perasaan Sam benar-benar terasa campur aduk, jika benar Aruna mengetahui perselingkuhannya, kenapa wanita itu hanya diam saja. Hal ini benar-benar membuat perasaannya tidak enak.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Sam berhenti tepat di depan lobi rumah sakit. Dengan cepat dia memberikan kunci mobilnya kepada security yang ada di sana dan meminta tolong untuk memarkirkan mobilnya.
Berbeda dengan Almira dan juga dirinya, mereka berjalan dengan tergesa menuju meja resepsionis. Lalu, dengan tidak sabarnya Almira bertanya kepada pegawai resepsionis itu.
"Permisi, Nona. Saya mau menanyakan pasien yang bernama Ayana Shihab Rahardi, kemarin malam dia dibawa ke sini karena demam. Boleh saya tahu di mana ruang perawatannya?" tanya Almira.
"Tunggu sebentar, ya, Nyonya," ucap petugas resepsionis itu.
Wanita yang bekerja di balik meja resepsionis itu langsung memeriksa komputer yang ada di hadapannya, tidak lama kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Almira dan berkata.
"Pasien atas nama Ayana Shihab Rahardi sudah diperbolehkan pulang dua jam yang lalu," jawab resepsionis tersebut.
"Dua jam yang lalu? Tapi kenapa dia belum sampai rumah, Mom?" tanya Sam dengan rasa khawatir.
Almira ikut khawatir mendengar pertanyaan dari Sam, lalu dengan begitu kesal Almira memukul lengan putranya dengan begitu kencang.
"Cari Aruna dan juga cucuku dengan cepat, jika kamu tidak bisa membawa pulang Aruna dan juga Ayana, jangan pernah pulang ke rumah. Apalagi pulang ke rumah dengan membawa selingkuhanmu dan anak haram kamu itu!" kesal Almira.
Setelah mengatakan hal itu Almira langsung pergi dari rumah sakit tersebut, Sam yang syok dengan perkataan ibunya hanya berdiri seraya menatap kepergian ibunya dari sana.
"Ya Tuhan! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Sam seraya menyugar rambutnya dengan kasar.
Tidak lama kemudian, dia mengambil ponselnya dan dengan cepat menelpon Aruna. Sayangnya, sudah berkali-kali dia menelepon istrinya tersebut, tetapi panggilannya tidak pernah diangkat.
"Kamu ke mana, Sayang?" tanya Sam dengan gelisah.
Karena tidak juga mendapatkan jawaban di mana adanya Aruna, akhirnya Sam memutuskan untuk pergi dari rumah sakit tersebut. Dia sangat ingat jika Aruna begitu dekat dengan Arin, pria itu memutuskan untuk segera pergi dari sana menuju kostan wanita itu.
Jika Sam sedang pergi untuk mencari Aruna, berbeda dengan Aruna yang kini sedang berada di dalam ruang perawatan milik Sayaka. Dia sedang duduk di atas sofa tunggu seraya memangku Ayana.
Dia merasa sangat bahagia karena ternyata putrinya hanya mengalami gejala tifus saja, kini Aruna sudah dinyatakan sembuh tetapi harus apik dengan makanan yang masuk ke tubuhnya.
__ADS_1
Selain itu, Aruna juga merasa senang karena operasi yang dilaksanakan berjalan dengan lancar. Kini Sayaka terlihat lebih sehat, wajahnya tidak sepucat sebelum melaksanakan operasi transplantasi sumsum tulang.
"Terima kasih, Sayang. Berkat kamu keadaan Sayaka sudah lebih baik," ucap Satria seraya duduk tepat di samping Aruna dan memeluknya.
"Sama-sama, Ayah. Aku hanya ditakdirkan sebagai jalan, tetap Tuhan yang memberikan kesehatan kepada Sayaka," jawab Aruna.
Satria merasa sangat senang sekali karena Aruna berbicara dengan begitu bijak, padahal dia benar-benar merasa tidak enak hati kepada putrinya tersebut. Karena mereka baru saja bertemu dan Aruna harus melakukan operasi transplantasi sumsum tulang demi adiknya.
"Oiya, Sayang. Ayah perhatikan kamu tidak pernah shalat, kenapa?" tanya Satria.
"Aku diajarkan agama yang sama dengan Ibu, lalu, aku harus apa sekarang?" tanya Aruna.
"Semua anggota keluarga kita adalah orang muslim, jika kamu bersedia kembalilah kepada agama kami, Sayang. Karena ketika kamu dilahirkan, Ayah sudah mengislamkan kamu." Satria mengelus puncak kepala putrinya.
"Aku akan belajar dengan putriku, tolong carikan aku guru agama agar kami bisa belajar dengan cepat," pinta Aruna.
"Pasti, Sayang. Setelah kita pulang akan Ayah carikan, tapi, Sayang. Ayah lihat dari tadi ponsel kamu berdering terus, kenapa tidak diangkat?" tanya Satria.
"Males, Yah," jawab Aruna.
Satria seolah paham dia pun akhirnya tidak membahas hal itu lagi, Satria malah mengambil alih Ayana dari pangkuan Aruna dan menggendongnya.
"Boleh, Kakek. Tapi kenapa harus ke rumah Kakek pulangnya? Kenapa tidak pulang ke rumah oma saja?" tanya Ayana polos.
"Karena mulai saat ini Ay dan juga Bunda akan tinggal di rumah Kakek, jadi pulangnya nanti ke rumah Kakek," jawab Satria.
"Lalu, bagaimana dengan oma dan juga ayah?" tanya Ayana.
"Mereka akan menyusul Ay dan datang ke rumah Kakek," jawab Satria.
"Baiklah, kalau begitu kita jalan-jalan. Ay mau ke taman beli gula kapas yang besar," pinta Ayana.
"Boleh, Sayang. Kita akan pergi sekarang," ujar Satria.
Pada akhirnya Satria mengajak Ayana untuk pergi ke taman, karena Satria khawatir jika Ayana terlalu lama di rumah sakit malah tidak baik untuk kesehatan tubuhnya.
Tentunya dia pergi bersama dengan Rachel, sedangkan Aruna dan juga Sagara tetap berada di sana karena harus menjaga Sayaka.
__ADS_1
Saat tiba di taman, Satria dan juga Rachel langsung mengajak Ayana berkeliling untuk mencari pedagang gula kapas yang diinginkan oleh cucunya tersebut.
"Itu, Kek. Itu permen gula kapasnya!" tunjuk Ayana setelah beberapa saat mereka berkeliling.
Ayana dengan tidak sabar meminta Satria untuk segera membeli permen gula kapas yang diinginkan oleh dirinya, dia bahkan berlari agar cepat sampai.
Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika dia melihat Sam yang sedang menggendong Ayaka. Sam sedang mengecupi pipi Ayaka seraya mendiamkan Ayaka yang sedang menangis, rasa cemburu langsung menguasai hati Ayana.
Sam yang baru saja keluar dari rumah Arin hendak mencari Aruna di tempat lain, tetapi dia malah bertemu dengan Angel dan juga Ayaka yang sedang bermain di dekat taman.
Ayaka yang masih merindukan ayahnya, tidak memperbolehkan Sam untuk pergi. Dia menangis sejadi-jadinya karena tidak mau ditinggalkan sama sekali oleh ayahnya tersebut.
Dengan terpaksa dan karena merasa kasihan terhadap putrinya, akhirnya Sam menggendong Ayaka dan mencoba untuk mendiamkan putrinya tersebut.
"Ayah Sam!" jerit Ayana ketika melihat Sam malah memeluk Ayaka dan mengecup keningnya.
Sam langsung menolehkan wajahnya ke arah Ayana, matanya langsung membulat dengan sempurna ketika dia melihat putrinya ada di sana. Dia bahkan dengan cepat menurunkan Ayaka, lalu dia menghampiri Ayana.
"Sayang, kamu sudah sembuh? Kamu dari mana saja? Kenapa kamu ngga pulang ke rumah? Bunda mana?" tanya Sam dengan tidak sabar.
"Ayah, siapa dia?" tanya Ayana seraya menatap wajah Ayaka dengan tajam.
Ayaka merasa tidak terima mendapatkan tatapan seperti itu dari Ayana, terlebih lagi ketika mendengar Ayana memanggil Sam dengan sebutan ayah. Dengan cepat Ayaka berlari dan mendorong Ayana hingga terjungkal.
"Ini adalah Ayahku! Ayah Sam, kamu jangan berani-berani memanggil ayahku dengan sebutan Ayah!" bentak Ayaka.
Sam begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Ayaka, dia juga benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan oleh Ayaka. Kini kedua telapak tangan Ayana bahkan terlihat berdarah, karena saat terjatuh dia menahan berat badannya dengan kedua tangannya.
Melihat akan hal itu, Sam benar-benar merasa bersalah terhadap Ayana, Sam terlihat hendak membantu putrinya untuk bangun.
"Ayo bangun, Sayang. Sini Ayah li--"
"Jangan sentuh cucuku!" ujar Satria dengan tegas. Satria bahkan langsung menggendong Ayana, sedangkan Rachel langsung mengambil tisu basah dan membersihkan luka di tangan cucunya tersebut.
Sam terlihat marah, karena tiba-tiba saja ada seorang pria paruh baya yang berkata jika Ayana adalah cucunya.
"Siapa anda? Kenapa anda malah ikut campur dalam urusanku?" tanya Sam seraya memerhatikan wajah Satria dengan lekat.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan ikut campur, karena aku adalah--"