
Sigit terus saja menepuk-nepuk lengan Ayana dengan begitu lembut, sesekali dia akan mengusap puncak kepala putri sambungnya itu. Tentunya di dalam hatinya dia berharap jika Ayana akan cepat tidur, karena dia sudah tidak sabar untuk bermesraan dengan ibu dari Ayana itu.
Sepertinya Ayana begitu kelelahan, karena baru sepuluh menit Sigit menepuk-nepuk tangan Ayana, gadis kecil itu sudah tertidur dengan begitu pulas.
'Yes!' sorak Sigit dalam hati.
Dia merasa senang karena sebentar lagi dia akan melepas keperjakaannya, dengan perlahan dia bangun dan turun dari tempat tidur. Dia sudah tidak sabar ingin mengajak Aruna untuk main kuda-kudaan.
Namun, Sigit langsung merasa lemas ketika melihat Aruna yang juga sudah tertidur dengan begitu pulas. Istrinya tersebut bahkan sampai terdengar mendengkur halus, pasti karena cape dan juga lelah.
Karena sebenarnya Sigit juga merasakan lelah yang luar biasa, tetapi keinginannya untuk bercinta dengan Aruna lebih besar dan sanggup mengalahkan rasa lelahnya itu.
"Ya ampun! Kenapa kamu malah tidur, Yang. Padahal, ini adalah malam pertama kita. Aku bahkan sudah menyiapkan kamar pengantin untuk kita," ujar Sigit lesu.
Ya, Sigit meminta pelayan menyulap salah satu kamar yang ada di sana menjadi kamar pengantin untuk Sigit dan juga Aruna. Dia mempersiapkan semuanya dengan matang, walaupun memang waktu yang dibutuhkan sangatlah sempit.
Aruna memang sangat keterlaluan, menurutnya. Memberikan waktu hanya satu malam saja untuk dia mempersiapkan pernikahan itu dengan Aruna, padahal dia bukan Bandung Bondowoso.
Namun, Aruna sudah seperti Roro Jonggrang yang memberikan syarat kepada Bandung Bondowoso untuk membuatkan seribu candi dalam satu malam.
Beruntung Aruna tidak seperti Roro Jonggrang yang curang, sehingga hal itu membuat Sigit bisa dengan mudah menikah dengan Aruna walaupun hanya menikah di KUA terlebih dahulu.
Namun, tanpa sepengetahuan Aruna kini Sigit dan juga kedua orang tuanya sedang mempersiapkan acara resepsi pernikahan yang sangat luar biasa megahnya.
Aruna adalah wanita yang pernah disakiti oleh suaminya terdahulu, bahkan pernikahan pertamanya dengan Sam bukan karena rasa cinta. Namun, karena sebuah keterpaksaan. Aruna sudah mengandung dan Sam tidak bisa mengelak untuk bertanggung jawab.
Maka dari itu, Sigit ingin membuat pesta resepsi pernikahan yang sangat luar biasa untuk istrinya. Dia ingin membuat sebuah pesta yang tidak bisa dilupakan dengan mudah oleh istrinya tersebut.
__ADS_1
"Malam pertama ini tidak boleh gagal," ujar Sigit seraya menyeringai.
Sigit dengan begitu perlahan mengangkat tubuh Aruna, lalu dia membawa istrinya ke kamar pengantin mereka. Dia rebahkan tubuh Aruna di atas tempat tidur yang bertaburkan kelopak bunga mawar.
Sigit tersenyum dengan begitu puas ketika melihat wajah damai istrinya, lalu dia kembali keluar dari kamar tersebut untuk menemui salah satu pelayan yang ada di sana.
Tentunya dia meminta salah satu pelayan yang ada di sana untuk tidur di dalam kamarnya, karena dia takut jika Ayana akan terbangun saat tengah malam tiba dan mencari dirinya dengan Aruna.
"Siap, Tuan," jawab Bibi.
Bibi dengan cepat membawa kasur lantai dan membawanya ke dalam kamar anak dari majikannya tersebut, dia menggelar kasur lantai tersebut tepat di samping ranjang milik Sigit. Lalu, bibi merebahkan tubuh lelahnya di sana.
Sigit tersenyum dengan puas karena putri sambungnya sudah ada yang menemani, dengan cepat dia kembali ke dalam kamar pengantinnya.
Saat dia masuk, Sigit langsung mematikan lampunya. Lalu, dia menyalakan lilin aromaterapi yang sudah dia siapkan di setiap pojok kamar tersebut.
"Kamu cantik banget, Yang. Yakin nggak mau ngambil keperjakaan aku malam ini?" bisik Sigit di telinga istrinya.
Aruna yang merasakan hembusan napas hangat dari bibir Sigit langsung menggeliatkan tubuhnya, pria itu begitu senang sekali melihat akan hal itu. Dengan cepat dia membuka kancing piyama tidur yang dipakai oleh istrinya, lalu dia menelusupkan tangannya untuk menyentuh dada istrinya tersebut.
"Punya kamu besar juga, Yang." Sigit menatap kagum pada dada istrinya yang masih terbungkus rapi dengan kain pengamannya.
Aruna yang merasa kegelian langsung membuka matanya, dia merasa kaget karena kini Sigit sudah berada di atas tubuhnya.
"Kamu ngapain di kamar aku?" tanya Aruna kaget.
Karena biasanya dia hanya satu kamar dengan Ayana, tidak pernah ada pria yang berada di dalam kamarnya itu.
__ADS_1
Sigit ingin sekali tertawa melihat reaksi dari istrinya tersebut, karena Aruna pasti menyangka jika dirinya berada di rumah Satria.
"Bukan di kamar kamu, tapi ini di dalam kamar pengantin kita." Sigit menunduk lalu mengecup bibir Aruna.
Aruna terlihat kaget dengan apa yang dilakukan oleh Sigit, terlebih lagi ketika pria itu mengusap dadanya. Aruna sempat menepis tangan nakal itu, Sigit langsung terkekeh dibuatnya.
"Aih! Kamu tuh nggak sopan banget, udah masuk ke kamar orang secara sembarangan, sekarang kamu malah kurang ajar sama aku. Nanti aku laporin polisi loh," ujar Aruna seperti orang yang amnesia.
Dia seakan lupa jika wanita itu sudah menikah dengan Sigit, wanita itu seakan sudah lupa jika gelar jandanya sudah runtuh tergantikan menjadi seorang istri dari Sigit Purnomo Siregar.
"Yang, kenapa kamu berkata seperti itu? Apakah kamu lupa jika tadi siang kita sudah resmi menjadi suami istri? Aku mau ngelakuin apa aja boleh loh, kamu itu udah menjadi istri sah aku. Aku perkosa aja udah boleh," jelas Sigit.
"Eh?" kaget Aruna.
Aruna benar-benar merasa kaget dengan apa yang dikatakan oleh Sigit, wanita itu langsung mengedarkan pandangannya. Di dalam kamar tersebut sudah seperti kamar pengantin yang ada di dalam hotel berbintang lima, dekorasinya benar-benar cantik dan terasa sangat romantis.
Apalagi ketika dia menghirup udara di dalam kamar tersebut, aroma wangi mawar langsung memenuhi rongga hidungnya. Aruna sampai mengerjapkan matanya dengan tidak percaya, karena suasana di dalam kamar tersebut benar-benar terasa sangat romantis.
"Yang, ini adalah malam pertama kita. Aku sudah sangat siap menyerahkan keperjakaanku, apa kamu tidak mau mengambil keperjakaanku?" tanya Sigit seraya membuka kain yang melekat di tubuhnya.
Dia begitu tidak sabar dalam membuka bajunya dan melemparkannya secara asal, dia juga membuka celana yang dia pakai dan melemparnya hingga teronggok mengenaskan di atas lantai.
Aruna langsung membulatkan matanya dengan sempurna ketika dia melihat Sigit yang hanya menggunakan segitiga pengaman saja, tetapi walaupun seperti itu Aruna bisa melihat dengan jelas jika milik pria itu sudah terbangun.
Bahkan, milik pria itu sudah mengintip dari balik segitiga pengaman yang dipakai oleh suaminya. Aruna bisa menebak jika ukuran milik Sigit sangatlah besar, karena mungkin Sigit memang turunan blasteran.
'Aih! Pantes aja banyak orang yang pengen punya suami bule, itunya gede banget,' ujar Aruna dalam hati.
__ADS_1
"Yang, kenapa kamu malah diem aja? Kenapa kamu malah lihatin itu aku? Udah ngga sabar ya mau ngambil keperjakaan aku?" tanya Sigit.