Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 43


__ADS_3

Aruna mengerjapkan matanya, dia merasa jika kepalanya terasa berat dan juga sakit. Saat dia menggerakkan tangannya untuk memijat kepalanya, dia juga merasakan tangannya sakit seperti ada yang menusuk.


"Engh!" lenguh Aruna.


Dia berusaha untuk membuka matanya, karena dia merasakan silau di matanya. Saat matanya terbuka dengan sempurna, dia merasa kaget karena kini dirinya berada di ruangan yang serba putih.


Ada jarum infus di tangannya, bahkan ada selang oksigen di hidungnya. Jika seperti itu, itu artinya dirinya sedang berada di ruang perawatan. Aruna menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa dia bisa berada di rumah sakit.


Aruna mengedarkan pandangannya, dia mencari sosok keluarganya. Tidak jauh dari dirinya ada Rachel yang sedang melaksanakan salat dzuhur, Aruna tersenyum karena ternyata dia tidak sendirian.


Aruna berusaha untuk duduk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang pasien, tubuhnya terasa sakit semua.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Aruna seraya mengingat-ingat apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Tidak lama kemudian, ada kilasan ingatan yang bertebaran. Namun, terasa tidak jelas. Satu hal yang Aruna ingat, dia sedang menemui Almira dan bertemu dengan Sam.


Kepala Aruna tiba-tiba saja terasa berat, bahkan pandangan matanya terasa kabur. Dia masih ingat kala Sam menawarkan diri untuk mengantarkan Aruna pulang, setelah itu dia tidak mengingat apa pun lagi.


"Aruna, Sayang." Rachel membuka mukena yang dia pakai lalu menghampiri putrinya.


Senang sekali rasanya melihat putrinya sudah sadarkan diri, padahal tadi malam dia begitu khawatir melihat keadaan Aruna yang begitu menyedihkan.


Saat Aruna dimandikan dengan air dingin, Aruna terus saja menggeliatkan tubuhnya dengan tidak karuan. Aruna bahkan beberapa kali memukul-mukul badannya karena hasratnya merasa tidak terpenuhi.


Rachel dan kedua pelayan yang memandikan Aruna sampai kewalahan dibuatnya, tetapi mereka tidak menyerah dan berusaha untuk membuat Aruna sadar.


Namun, karena terlalu lama diguyur air dingin, tubuh Aruna langsung menggigil dan tidak lama kemudian dia malah demam. Bahkan, Aruna beberapa kali mengalami sesak napas.


Sungguh Rachel menjerit melihat keadaan putrinya yang seperti itu, dia bahkan meminta Satria untuk mengantarkan dirinya menemui Sam. Ingin sekali rasanya Rachel mencekik Sam sampai mati dengan tangannya sendiri.


"Bun, apa yang sebenarnya terjadi kepada diriku?" tanya Aruna.

__ADS_1


Rachel menatap Aruna dengan tatapan sendu, lalu dia duduk tepat di samping putrinya. Dia genggam tangan putrinya, lalu dia elus puncak kepala putrinya.


"Sam berusaha untuk memerkosa kamu, Sayang. Dia mencampurkan obat perangsang dan sedikit alkohol ke dalam jus alpukat yang kamu minum, beruntung ada Sigit yang menyelamatkan kamu. Kalau tidak, Bunda tidak tahu apa yang akan terjadi kepada kamu," jelas Rachel.


Aruna merasa sedih sekali mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, padahal dia sudah bertekad tidak akan membenci Sam walaupun pria itu sudah membuat dirinya sakit hati.


Aruna bahkan akan memberikan kesempatan untuk Sam bisa dekat dengan dirinya dan juga putrinya, tetapi sebatas dekat karena Aruna adalah ibu dari putri mereka.


Satu hal yang Aruna tidak sangka, ternyata Sigit yang menyelamatkan dirinya. Pria muda yang dia rasa sangat menyebalkan, karena selalu berusaha untuk mendekati dirinya.


"Lalu, apa yang terjadi dengan diriku? Kenapa aku sampai harus dibawa ke rumah sakit?" tanya Aruna.


"Bunda memandikan kamu dengan air dingin agar pengaruh dari obat perangsang tersebut hilang, pengaruh obat perangsang-nya memang hilang, tapi malamnya badan kamu panas, Sayang. Badan kamu drop dan asam lambung kamu juga kambuh."


Aruna melewatkan makan malamnya, dia juga hanya makan sedikit saat makan siang. Sepertinya obat perangsang dan alkohol yang masuk ke tubuh Aruna membuat tubuh Aruna langsung ambruk.


"Dia tega sekali melakukan hal itu kepadaku," ujar Aruna dengan sedih. "Lalu, di mana Sam?" tanya Aruna.


Bukan untuk kembali menikah, tetapi memberikan kesempatan kepada Sam agar tetap dekat dengan dirinya. Karena ada Ayana di antara mereka.


"Di rumah sakit juga, katanya anak buah tuan Steven memukuli pria itu. Tapi, Sayang. Itu bukan balasan yang setimpal, apakah perlu Mom melaporkan dia ke polisi?" tanya Rachel.


Rachel lebih setuju jika mantan menantunya itu membusuk di penjara, karena dia merasa kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh mantan menantunya itu.


"Jangan, Mom. Aku akan membalas perbuatan Sam dengan caraku," jawab Aruna dengan tatapan mata yang begitu sulit untuk diartikan.


Menurut Aruna membiarkan mantan suaminya itu membusuk di penjara bukanlah hal yang baik, karena Aruna sudah memiliki rencana lain untuk membalaskan dendamnya terhadap mantan suaminya itu.


Dendam?


Tentu saja Aruna merasa dendam kepada pria itu, karena pria itu benar-benar menyakitinya berkali-kali. Bukan hanya satu kali saja.

__ADS_1


"Kamu yakin, Sayang?" tanya Rachel.


Walau bagaimanapun juga Aruna adalah seorang perempuan, anaknya itu pasti membutuhkan bantuan dari dirinya atau pun Satria. Namun, dia juga tidak bisa memaksakan keinginannya terhadap putrinya tersebut.


"Hem! Aku punya cara yang lebih ampuh," ujar Aruna seraya tertawa sinis, tetapi air mata di kedua pipinya mengalir dengan deras.


Sedih sekali rasanya Rachel melihat Aruna yang seperti itu, jika saja bisa rasanya dia ingin menggantikan rasa sakit yang diderita oleh Aruna.


"Jangan menangis," ucap Rachel seraya memeluk putrinya.


Sakit sekali rasanya melihat putrinya terluka seperti itu, dia benar-benar merututi dirinya karena tidak bisa menemukan Aruna lebih cepat.


Dia benar-benar membenci Arimbi yang begitu pandai menyembunyikan putrinya, dia begitu pandai hidup dengan menggunakan identitas milik orang lain.


Rachel benar-benar merasa bersalah terhadap putrinya, sungguh dia ingin menebus masa yang telah hilang selama dua puluh delapan tahun. Dia akan menuruti apa pun keinginan dari putrinya tersebut.


"Aku janji ini adalah tangisan kesedihan terakhirku, Bun. Aku janji tidak akan menangis lagi," ucap Aruna.


Aruna sudah bertekad di dalam hatinya tidak akan menangis lagi karena Sam, dia akan berusaha untuk membahagiakan dirinya dan juga Ay. Dia akan berusaha untuk membahagiakan kedua orang tuanya dan juga seluruh keluarganya.


Satu hal yang paling penting, Aruna akan mencari kebahagiaannya. Cukup sudah selama ini dia hidup dalam kebahagiaan yang semu, dia ingin mencari kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Bunda akan mendukung apa pun yang menjadi keputusan terakhir kamu, Bunda berharap kamu dan juga Ay bisa hidup tenang dan juga senang."


Aruna masih sangat muda, perjalanan hidupnya masih sangat panjang. Rachel sungguh berharap yang terbaik untuk putrinya tersebut.


"Oiya, Bun. Kalau aku sembuh nanti, aku mau bertemu dengan Sigit. Aku mau mengucapkan terima kasih," pinta Aruna.


Pria muda itu sudah sangat berjasa di dalam hidupnya, rasanya Aruna sangat pantas untuk menemuinya dan mengucapkan terima kasih secara langsung.


"Ya, Sayang. Nanti kita akan bertemu dengannya," ujar Rachel.

__ADS_1


Walaupun Aruna selalu saja dibuat kesal ketika bertemu dengan Sigit, tetapi untuk kali ini dia ingin mengucapkan terima kasih dengan tulus. Karena jika tidak ada Sigit, Aruna tidak tahu apa yang akan terjadi kepada dirinya.


__ADS_2