Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 86


__ADS_3

Malam ini Aruna sedang duduk di depan meja rias, tangannya terus saja menyisir rambutnya yang panjang dan lurus itu. Akan tetapi, pikirannya berkelana entah ke mana.


Bukan hanya baru sebentar Aruna duduk di depan meja rias, tetapi wanita itu sudah lebih dari satu jam duduk di sana. Sigit yang sejak tadi memperhatikan istrinya langsung turun dari tempat tidur dan menghampiri istrinya tersebut.


Sigit terlihat memeluk istrinya dari belakang, lalu dia menyandarkan kepalanya pada pundak istrinya tersebut. Tidak lupa sebuah kecupan mesra dia labuhan pada bibir istrinya itu.


Sontak saja hal itu membuat Aruna kaget, bahkan dia langsung menolehkan wajahnya ke arah Sigit. Dia tersenyum seraya mengusap wajah suaminya itu dengan begitu lembut.


"Ada apa, hem?" tanya Aruna seakan tidak ada apa-apa.


Sigit langsung mengerucutkan bibirnya, dia merasa miris karena Aruna malah menanyakan ada apa kepada dirinya. Padahal, justru Aruna yang sejak tadi melamun dengan begitu dalam.


"Aku sudah menunggu kamu di atas tempat tidur selama satu jam, tetapi kamu terus saja duduk di depan meja rias sambil nyisir. Padahal tadi bilangnya cuma mau skin care-an loh!" keluh Sigit.


Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah jam digital yang ada di atas nakas. Dia langsung tersenyum kecut karena ternyata dia memang sudah lebih dari 1 jam duduk di sana.


"Maafkan aku, suamiku, Sayang." Aruna langsung membalikkan tubuhnya, dia menanggung wajah suaminya dan memberikan ciuman yang begitu mesra.


Awalnya ciuman itu hanya sekedar ciuman mesra saja, tetapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi sebuah ciuman yang begitu menuntut penuh hasrat dan seakan ada yang ingin dituntaskan.


"Jangan terlalu banyak pikiran, kalau kamu memang tidak sanggup untuk mengelola Resto tersebut. Kamu bisa meminta orang kepercayaan kamu untuk mengelolanya," ujar Sigit setelah pagutan bibir mereka terlepas.


"Kamu benar, aku merasa tidak berhak untuk mengelola Resto tersebut. Walaupun memang ada hal Ay di sana," jawab Aruna.


"Hem! Jadi, lebih baik kita main kuda-kudaan aja. Ngga usah musingin hal itu, nanti kamu malah nggak hamil-hamil anak aku kalau terlalu banyak pikiran." Sigit kembali memagut bibir istrinya.


Pria itu bahkan langsung menggendong tubuh istrinya, lalu dia melangkahkan kakinya untuk merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.


"Aku mau segera punya baby," ujar Sigit seraya melucuti baju yang dipakai oleh istrinya.


Aruna hanya diam dengan begitu pasrah, karena dia tidak akan bisa menolak keinginan dari suami brondongnya tersebut. Lagi pula, dia selalu suka dengan apa yang dilakukan oleh suaminya di atas tubuhnya.

__ADS_1


"Lakukan, Sayang!" ujar Aruna ketika Sigit menatap dadanya dengan tatapan lapar.


"Tentu," jawab Sigit bersemangat.


Beberapa bulan kemudian.


Malam ini Ayaka dan juga Ayana sudah tertidur pulas di dalam kamarnya, Aruna dan Sigit sedang berada di dalam bioskop pribadi. Mereka berdua sedang menonton film horor, Sigit sampai tidak percaya dibuatnya.


Istrinya itu sudah satu minggu ini bertingkah aneh, setiap malam Aruna akan mengajak dirinya untuk menonton film yang diinginkan oleh wanita itu. Bahkan, setiap Sigit pulang bekerja, Aruna sudah menyiapkan kue untuknya.


Sigit harus memakan kue tersebut, kalau tidak Aruna akan menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya.


Padahal, baik Aruna ataupun Sigit memang tidak menyukai makanan manis. Keduanya penyuka makanan pedas dan juga gurih, tetapi Sigit tidak bisa menolak keinginan dari istrinya tersebut.


Karena istrinya yang selalu meminta dirinya untuk memakan makanan manis, alhasil Sigit selalu meluangkan waktu selepas subuh untuk berolahraga.


Dia takut tubuhnya menjadi bengkak dengan perut yang membuncit, rasanya itu tidak keren. Selain itu, Sigit juga takut jika Aruna akan berpaling ke lain hati jika bentuk tubuhnya tidak ideal.


"Yang, itu ada toples loh." Aruna menunjuk toples berisi kacang yang ada di atas meja dengan ekor matanya.


"Hem! Aku tahu," jawab Sigit tanpa menolehkan wajahnya ke arah istrinya.


Mendengar jawaban dari suaminya, Aruna langsung melerai pelukannya. Dia mengerucutkan bibirnya seraya memukul pundak Sigit.


Sigit terlihat begitu kaget mendapatkan reaksi dari istrinya, padahal biasanya Aruna selalu bersikap lembut sekali terhadap dirinya.


"Eh? Kok akunya dipukul? Apa aku sudah melakukan kesalahan?" tanya Sigit was-was.


Terlebih lagi saat melihat wajah Aruna yang memandang dirinya dengan tatapan yang begitu kesal, Sigit takut jika Aruna akan melakukan hal aneh.


"Kamu tuh ngga paham, toplesnya ngga bisa terbuka. Aku mau kacangnya!" ujar Aruna seraya menghentak-hentakkan kakinya.

__ADS_1


"Jangan marah, Sayang. Aku akan membuka toplesnya," ujar Sigit yang baru paham jika istrinya minta dia membukakan tutup toplesnya.


Sigit mengambil toples berisi kacang tersebut, lalu dia membukakannya dan memberikannya kepada Aruna. Namun, Aruna hanya diam seraya memandangi toples berisi kacang tersebut.


Sigit terlihat kebingungan, karena istrinya tidak mengambil toples yang dia sodorkan. Aruna malah menatap dirinya dengan mata yang membulat, tentu saja hal itu membuat Sigit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kenapa lagi?" tanya Sigit dengan begitu lembut.


"Kacangnya tidak bisa masuk ke dalam mulut aku," jawab Aruna.


Sigit menghela napas panjang, dia tidak menyangka jika kelakuan istrinya kali ini benar-benar begitu menyebalkan. Sigit mengelus dadanya, dia tersenyum dengan begitu manis ke arah istrinya dan berkata.


"Kamu ambil kacangnya, Sayang. Setelah itu masukan ke dalam mulut kamu, terus kunyah deh." Sigit nyengir kuda setelah mengatakan hal itu, Aruna malah kembali memukul pundak suaminya.


"Suapin, Ayang. Kamu tuh ngga paham sekali," keluh Aruna dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Ya ampun, Sayang. Kalau kamu memang mau disuapin, bilang aja. Ngga usah pake kode-kode, aku ngga paham." Sigit menyuapi Aruna, wanita itu langsung tersenyum dengan sangat lebar.


Tidak lama kemudian, Aruna mengambil sendiri kacang itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri. Aruna mengunyah kacang itu seperti makanan yang begitu enak sekali, Sigit sampai menelan salivanya dengan sangat susah saat melihat tingkah istrinya tersebut.


"Kamu mau?" tanya Aruna.


"Mau, Yang," jawab Sigit.


Dengan cepat Aruna mengambil toples berisi kacang itu dari tangan Sigit, lalu dia menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


"Jangan minta, ini punya aku. Lagian kamu tuh udah punya kacang yang lain," ujar Aruna.


Setelah mengatakan hal itu, Aruna langsung keluar dari dalam ruangan tersebut. Sigit hanya bisa melongo tidak percaya dengan kelakuan istrinya itu.


"Katanya aku punya kacang yang lain? kacang apa?" tanya Sigit seraya mengerutkan dahinya.

__ADS_1


__ADS_2