Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Ba 103


__ADS_3

Setelah setengah jam bergoyang dengan begitu hot di atas tubuh suaminya, Aruna terlihat mencengkeram pundak Sigit dengan begitu kencang.


Tidak lama kemudian, wanita itu terlihat memeluk Sigit dengan begitu erat. Sigit paham jika istrinya sudah mendapatkan pelepasannya, karena dia bisa merasakan miliknya terjepit dalam begitu kuat. Milik istrinya juga terasa berkedut dengan begitu kencang, hangat dan becek.


"Sudah puas, hem?" tanya Sigit.


"Sudah, aku sangat puas. Tapi punya kamunya belum, masih keras aja." Aruna tertawa dengan napas yang terengah-engah.


"Ngga apa-apa, biarkan saja dia seperti itu. Nanti juga tidur lagi, sekarang kamu pulang aja. Aku mau meeting sebentar, atau kamu pulangnya nanti aja. Tunggu aku," ujar Sigit.


"Ck! Aku akan pergi ke rumah bunda, mau bilang kalau aku hamil lagi. Tapi, sebelum itu aku mau puasin suami aku dulu."


Aruna langsung bangun, lalu dia membalikkan tubuhnya. Dia membungkuk dan menempelkan tubuhnya pada meja kerja yang ada di hadapan Sigit, bokong bulatnya terlihat begitu menggoda di mata Sigit.


Sontak saja Sigit yang melihat akan hal itu langsung paham, terlebih lagi ketika Aruna menggoyang-goyangkan bokongnya.


Pria itu langsung bangun dan menghentak milik istrinya dari belakang, Aruna tersenyum dengan penuh kesenangan. Karena dia akan mendapatkan puncaknya dua kali pada siang Ini.


Keduanya terlihat begitu asik berpeluh, Sigit bahkan sampai lupa waktu. Ketika keduanya sudah mendapatkan pelepasannya, mereka berdua tersenyum puas lalu segera pergi ke kamar mandi.


Sigit benar-benar merasa konyol dengan tingkah Aruna kali ini, tetapi walaupun seperti itu Sigit merasa sangat bahagia.


"Terima kasih, suamiku, Sayang."


Itulah kata yang Aruna katakan kepada suaminya, Aruna berkata dengan penuh kepuasan. Sigit hanya bisa tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


*


Sudah 1 jam setengah Aruna dan juga Sigit berada di dalam ruangan tersebut, Ben benar-benar gelisah dibuatnya. Pasalnya tuan Matiew sudah datang dari 1 jam yang lalu, pria itu terlihat lelah menunggu.


Bahkan, pria itu sudah menghabiskan satu cangkir kopi yang dibuatkan oleh Ban. Akan tetapi, atasannya itu tidak kunjung muncul.


Ben tahu jika sepasang suami istri sudah berada dalam ruangan yang sama dan tidak keluar-keluar itu artinya mereka sedang apa, tetapi tetap saja Ben merutuki kegiatan apa yang sedang dilakukan oleh atasan dan istrinya tersebut.


Pasalnya, ini adalah di kantor. Bahkan, Sigit akan ada meeting. Lalu, kenapa mereka malah bersenang-senang dan bermain kuda-kudaan, pikirnya.


Bukan tanpa alasan Ben menyebut keduanya sedang main kuda-kudaan, pasalnya Ben sudah mencoba untuk menelpon atasannya itu. Sigit menerima panggilan telpon dari Ben, tapi suara pria itu terdengar seperti orang yang sedang menahan erangan.


"Ya ampun! Kenapa lama sekali? Tidak seperti biasanya loh tuan Sigit telat seperti ini," keluh Tuan Matiew seraya menatap jam yang melingkar di tangan kirinya.


Ben membungkukkan badannya dengan hormat, dia bahkan terlihat tersenyum dengan tidak enak hati ke arah pria itu. Jika saja bisa diwakilkan, sudah dari tadi Ben akan memulai meeting kali ini.


Pasalnya, tuan Matiew selalu saja ingin melakukan meeting dengan sang pemilik perusahaan. Sehingga hal itu tentunya membuat Ben sangat kesulitan.


"Maaf atas ketidaknyamanan anda sudah menunggu lama, tetapi tuan Sigit memang tidak bisa menunda hal penting yang sedang dilakukan. Sekali lagi saya minta maaf, tolong minta waktunya sebentar lagi," ujar Ben dengan tidak enak hati.


Tuan Matiew terlihat menghela napas panjang mendengar apa yang dikatakan oleh Ben, jika saja bukan project besar yang sedang mereka lakukan, rasanya tuan Matiew ingin segera pergi saja dari sana.


Namun, mereka sedang menjalani project besar dan menguntungkan kedua belah pihak. Tentunya tuan Matiew merasa harus bersabar dan harus menahan diri dengan amarah yang sudah membuncah di dalam dada.


"Kalau begitu saya mau ke toilet dulu," pamit Tuan Matiew.

__ADS_1


"Silakan, Tuan. Toiletnya ada di sebelah kanan ruangan ini, atau mau saya antar?" tawar Ben.


"Terima kasih, saya bisa pergi sendiri," ucap Tuan Matiew seraya bangun dan keluar dari dalam ruangan tersebut.


Pria itu masuk ke dalam toilet dan mencuci mukanya, dia menatap dirinya di pantulan cermin sebentar. Lalu, dia berusaha untuk menenangkan dirinya.


Setelah merasa selesai, dia keluar dari dalam toilet tersebut. Saat dia hendak kembali masuk ke dalam ruang meeting, langkahnya terhenti ketika dia melihat Sigit yang keluar dari dalam ruangannya bersama dengan Aruna.


Aruna terlihat sedang berpamitan kepada Sigit untuk pulang, wanita itu bahkan tanpa ragu memeluk suaminya dengan posesif dan mencium bibir pria itu di depan pintu ruangan Sigit dengan begitu mesra.


Tuan Matiew sampai membelalakkan matanya, tidak lama kemudian dia terkekeh ketika melihat rambut Sigit yang setengah basah.


"Oh ya ampun, pantas saja lama!" ucap pria itu, lalu dengan cepat dia masuk ke dalam ruang meeting dengan senyum di bibirnya.


Pria itu kembali duduk anteng, tidak lama kemudian Sigit masuk ke dalam ruang meeting. Dia tersenyum lalu membungkukkan badannya beberapa kali di depan tuan Matiew.


"Maaf saya telat, maaf karena membuat anda menunggu lama." Sigit langsung duduk setelah mengatakan hal itu.


Dia benar-benar merasa tidak enak hati terhadap tuan Matiew, karena pastinya pria itu menunggu dengan sangat lama. Padahal, dia adalah orang yang selalu tepat waktu.


Ini semua tentunya karena Aruna, wanita hamil itu tidak mau menghentikan aktivitasnya sampai mencapai puncaknya. Sigit yang merasa khawatir bahkan langsung menelpon Satria agar mengantarkan istrinya untuk diperiksa ke rumah sakit.


Dia tidak mau ada hal yang tidak diinginkan terjadi terhadap calon buah hatinya, karena wanita hamil itu tentunya berbeda dengan wanita lain pada umumnya.


"Tidak masalah, sekarang lebih baik kita mulai saja meetingnya," jawab Tuan Matiew santai.


Sigit tersenyum lalu menganggukan kepalanya kepada Ben, Ben yang paham langsung memulai acara meeting tersebut.


Angel sedang mencari putri tercintanya, dia berjalan menyusuri tempat-tempat yang tidak jauh dari tempat di mana Ayaka dulu tertabrak mobil.


Sesekali dia akan bertanya kepada orang yang ada di sana, tetapi sayang, dia tidak pernah menemukan putrinya.


Setiap hari hidupnya diliputi rasa penyesalan karena sudah menyia-nyiakan putrinya, andai saja waktu bisa terulang kembali, pastinya Angel tidak akan pergi meninggalkan putrinya kala itu.


"Maafkan aku, Tuhan. Maaf karena aku sudah menyia-nyiakan anugerah terindah yang engkau berikan," ujar Angel penuh sesal.


Wanita itu terlihat duduk di atas bangku yang ada di pinggir jalan, dia mengambil air minum untuk menghilangkan dahaganya. Sesekali dia menyeka keringat di dahinya, karena panas yang terasa menyengat.


Sudah enam bulan wanita itu melakukan hal yang sama, berkeliling untuk mencari putrinya. Namun, selalu saja nihil dan tidak membuahkan hasil.


Tidak jauh dari sana ada Sam, Ayana dan juga Ayaka. Mereka bertiga sedang membeli jajanan yang katanya sedang viral di tempat tersebut, mereka merasa lapar setelah berbenah barang-barang milik Ayaka.


Tempat tersebut terlihat begitu ramai dengan pengunjung, ketiganya bahkan harus rela mengantri untuk mendapatkan jajanan viral tersebut.


"Yakin kamu cabenya 3?" tanya Ayana kepada Ayaka.


Cabe yang disediakan ternyata adalah cabe setan, terlihat begitu merah, besar-besar dan pastinya rasanya akan sangat pedas.


"Yakin, Kak. Namanya juga seblak, harus pedes." Ayaka menjawab pertanyaan dari kakaknya dengan begitu antusias.


Ya, mereka bertiga ingin mencoba seblak ala Korea. Seblak yang sedang viral dan diminati banyak orang, pedas, manis dan juga gurih. Sesuai dengan lidah pribumi.

__ADS_1


"Aih! Tapi kata buna ngga boleh makan pedas, takut sakit perut," ujar Ayana.


"Terus cabenya berapa? Masa ngga pake cabe?" keluh Ayaka.


"Satu aja, yang penting ada rasa pedes-pedesnya," jawab Ayana.


"Iya, iya," jawab Ayaka menurut.


Sam yang melihat perdebatan di antara keduanya langsung tersenyum, dia merasa senang karena keduanya terlihat begitu akur dan juga saling menyayangi.


"Kalian duduklah dulu, biar Ayah yang memesan," ujar Sam.


"Ya, Ayah!" jawab keduanya dengan begitu kompak.


Sam masuk ke dalam kedai seblak tersebut, sedangkan Ayana dan juga Ayaka terlihat duduk di bangku yang ada di luar. Mereka memutuskan untuk makan di rumah Sam, tidak mau makan di sana.


Saat sedang menunggu Sam, Ayana tanpa sengaja melihat Angel yang sedang duduk dengan raut wajah sedihnya. Ayana paham, pasti wanita itu kembali mencari putrinya yang hilang.


"Aya, kamu lihat di sana deh. Ada ibu kamu," ujar Ayana seraya menunjuk ke arah di mana Angel berada.


Ayaka langsung menolehkan wajahnya ke arah di mana Angel berada, wajah anak itu nampak muram. Padahal, sejak tadi dia terlihat begitu bahagia karena bisa berkumpul dengan Sam dan juga Ayana.


"Ibu Aya cuma tante Aruna, dia bukan ibu Aya."


Terlihat sekali jika Ayaka masih begitu kesal terhadap ibunya tersebut, anak kecil itu belum bisa memaafkan ibunya sendiri. Dia masih merasa sakit hati, karena ibunya dengan teganya meninggalkan dirinya.


"Adik Ay yang cantiknya ngga ketulungan, walau bagaimanapun juga dia adalah ibu kamu. Wanita yang sudah melahirkan Aya ke dunia ini, lihatlah wajahnya yang penuh dengan penyesalan."


Ayana menunjuk Angel yang terlihat begitu bersedih, Ayaka langsung melihat ibunya tersebut. Ada rasa kasihan melihat wajah itu, tetapi tetap saja dia masih merasa kesal terhadap ibunya.


"Jangan terlalu lama membenci orang, nanti Allah akan marah sama kamu." Ayana tersenyum setelah mengatakan hal itu.


"Entahlah, Kak. Aku sudah tidak membenci dia lagi, tetapi tetap saja suka ada rasa sedih karena dia begitu tega ninggalin Aya," jawab Ayaka dengan jujur.


"Hem! Kak Ay paham, tapi kalau bisa jangan terlalu lama membiarkan dia seperti itu. Bukankah Aya yang bilang kalau sikap Aya yang seperti ini tidak disukai oleh Allah?" tanya Ayana.


Ayaka terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya tersebut, tidak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan senyum yang begitu tipis di bibirnya.


"Mungkin nanti Aya akan berbaikan dengan bunda, tapi ngga janji sekarang-sekarang," jawab Ayaka.


"Jangan lama-lama, kasihan dia." Ayana menunjuk Angel yang terlihat pergi dari sana dengan langkah gontai, bahkan Ayana melihat Angel yang sedang menitikan air matanya.


"Hem!" jawab Ayaka hanya dengan deheman saja.


Namun, mata anak itu tidak lepas dari wajah Angel. Dia terus saja memperhatikan wajah Angel yang begitu sedih, Ayaka bisa melihat jika Angel begitu menyesal karena sudah meninggalkan dirinya.


"Ehm! Lagi bahas apa sih? Kok kayaknya serius banget?" tanya Sam yang baru saja keluar dari kedai seblak tersebut.


"Tidak ada, ayo kita pulang. Aya sudah tidak sabar ingin mencicipi seblak koreanya," ujar Ayaka seraya memeluk lengan Sam.


"Hem!" jawab Sam dengan raut wajah bingungnya.

__ADS_1


__ADS_2