
Aruna terlihat kebingungan, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa pertanyaan dari mantan mertuanya tersebut. Apakah di harus berkata jujur atau harus berkata bohong, pikirnya.
Jika dia berkata jujur, takutnya mertuanya tersebut akan meninggal karena kaget. Karena dokter berkata jika mertuanya itu terkena serangan jantung yang sudah parah.
Jika tidak berkata jujur, Aruna juga merasa kasihan terhadap Almira. Karena seharusnya perempuan itu mengetahui apa yang terjadi kepada putranya, dia harus tahu putranya sedang kesusahan saat ini.
Namun, setelah dia menimang-nimang, akhirnya Aruna memutuskan untuk tidak berkata jujur kepada Almira. Sungguh dia takut jika tiba-tiba saja mertuanya itu meninggal saat itu juga.
"Tidak apa-apa, Mom. Hanya pesan biasa dari adik tercintaku," jawab Aruna seraya memaksakan senyumnya.
Almira tersenyum ke arah Aruna, penampilan Aruna kini terlihat lebih baik, pastinya dia mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun, tetap saja mulutnya gatal untuk bertanya.
"Oh! Apakah mereka baik?" tanya Almira.
Walaupun Almira tidak menyebutkan siapa yang baik kepada dirinya, tetapi Aruna bisa menebak jika Almira sedang menanyakan ayah, ibu dan juga adiknya. Orang-orang terkasih yang kini tinggal bersama dengan dirinya.
"Ayah dan bunda sangat baik, kedua adikku juga baik. Mereka sangat menyayangi dan memanjakanku," jawab Aruna.
Terlebih lagi Satria dan juga Rachel, keduanya memperlakukan Aruna seperti putri kecil mereka. Tidak pernah sekalipun Rachel dan juga Satria memperlakukan dirinya seperti seorang ibu yang memiliki satu putri.
"Syukurlah, semoga kamu bahagia dengan kehidupan barumu," ujar Almira tulus. Dia bahkan sampai menitikan air matanya, air mata kebahagiaan.
Walaupun dia tidak bisa hidup satu atap lagi dengan Aruna, setidaknya dia bisa melihat Aruna dan cucunya bahagia. Tidak merasa tertekan lagi seperti saat berumah tangga dengan putranya.
Jika dulu Almira berani meminta Aruna untuk kembali kepada putranya, saat ini rasanya Almira tidak berani meminta Aruna untuk kembali kepada putranya.
Karena Almira merasa jika Aruna terlalu baik jika kembali dengan Sam, terlebih lagi ketika dia mendengar sendiri obrolan antara Angel dan juga Sam. Dia merasa jika putranya itu benar-benar merupakan pria yang begitu bejat, lima tahun berselingkuh dengan wanita lain sampai memiliki anak.
Dia merasa syok karena ternyata putranya adalah seorang pezinah, padahal selama ini Almira begitu mengagumi sosok putranya tersebut. Akan tetapi, nyatanya Almira benar-benar kecewa dengan apa yang dilakukan oleh putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
Padahal, suaminya dulu merupakan suami yang begitu setia. Dia tidak pernah berselingkuh sama sekali, makanya Almira tidak pernah menikah kembali walaupun pria itu sudah meninggal terlebih dahulu.
Dia berpikir jika Sam juga pasti menuruni ayahnya, setia hanya pada satu perempuan saja. Nyatanya, Sam mampu menduakan cinta Aruna.
"Aamiin," ucap Aruna mengamini.
Almira memandang wajah menantunya dengan penuh kekaguman, karena walaupun putranya sudah menyakiti hati Aruna, tetapi Aruna tetap mau menjaga dirinya, bahkan merawat dirinya dengan penuh perhatian.
"Oiya, Mom. Aku mau jemput, Ay dulu. Maaf kalau Mom harus aku tinggal," ucap Aruna berpamitan.
Sebenarnya masih ada waktu satu jam untuk menjemput Ayana pulang, tetapi rasanya dia sudah tidak tahan berlama-lama tinggal bersama dengan Almira.
Bukan karena wanita itu menyebalkan, justru dia takut jika nanti bibirnya salah berucap. Dia takut jika dirinya mengatakan kalau Sam saat ini sudah ditangkap oleh polisi, bahkan Sam sudah dinyatakan bersalah dan sedang di bawah ke ibu kota.
Miris sekali rasanya karena mengetahui hal itu, terlebih lagi ketika mengetahui jika kini putrinya Ayaka sedang menangis jejeritan karena mengetahui Angel tidak ada bersama dengan mereka.
Dia memang membenci apa yang dilakukan oleh Sam bersama dengan Angel, tapi rasanya dia merasa begitu kasihan terhadap putri dari Angel dan Sam itu. Dia bahkan kini memikirkan anak yang terlahir dari rahim Angel tersebut, dia sangat cantik dan mirip sekali dengan Ayana.
"Yes, Mom," jawab Aruna.
Setelah berpamitan kepada Almira, akhirnya Aruna pergi ke taman dekat sekolahan Ayana. Dia ingin menenangkan diri terlebih dahulu di sana, dia ingin memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan ke depannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Sigit yang melihat Aruna sedang melamun di dekat sekolah Ay.
Aruna yang mendapatkan teguran dari Sigit seolah tertarik kembali ke alam nyata, dia menolehkan wajahnya ke arah pria itu lalu tersenyum.
"Aku sedang menunggu Ay," jawab Aruna.
"Bohong! Aku lihat dari tadi kamu melamun saja," ujar Sigit.
__ADS_1
Aruna terkekeh mendengar penuturan dari Sigit, karena pada kenyataannya saat ini dia sedang memikirkan Ayaka. Gadis kecil itu tidak tahu apa-apa tentang apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, gadis kecil itu hanyalah anak manusia yang tidak berdosa.
Jika Angel dengan teganya meninggalkan Ayaka, lalu Sam juga dipenjara, siapa yang akan mengurus gadis kecil itu, pikirnya. Karena setiap kali Aruna melihat wajah Ayaka, dia seakan melihat kembaran dari Ayana.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Aruna.
Aruna seakan begitu enggan untuk menanggapi ucapan Sigit, dia malah bertanya kepada pria itu untuk mengalihkan perhatian.
"Aku mau jemput Ay, terus aku juga sudah janji kepada Ay mau mengajaknya ke toko buku. Mau beli buku tuntunan shalat dan tuntunan mengaji," jawab Sigit.
"Eh? Kapan kamu ketemu Ay?" tanya Aruna.
"Ya ampun, Sayangku, Cintaku, Manisku. Tadi malam kamu menginap di rumah sakit, tentu saja tadi pagi aku yang mengantarkan Ay berangkat sekolah. Kami bicara banyak, terus--"
"Apa?" tanya Aruna dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.
"Bukankah kamu bilang kamu mau nikah sama aku kalau Ay bisa lebih sayang sama aku daripada si jelek itu? Jadi, aku sedang melakukan pendekatan dengan Ay,'' jawab Sigit.
"Kamu ngga aneh-aneh, kan?" tanya Aruna.
"Aih! Kamu nggak perlu tahu aku ngelakuin apa dengan Ay, yang penting Ay lengket sama aku. Terus, dia juga bisa sayang sama aku. Tentunya sama seperti aku yang menyayangi Ay sama kamu," jawab Sigit.
"Ck! Coba dipikirkan lagi, takutnya perasaan kamu itu bukan cinta."
Sigit merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Aruna, wanita yang ada di dekatnya itu seolah tidak percaya dengan rasa cinta yang ada di dalam hatinya untuk Aruna.
Tanpa diduga Sigit langsung meluruhkan tubuhnya, dia bahkan berdiri menggunakan kedua lututnya. Sigit tanpa ragu menggenggam kedua tangan Aruna lalu berkata.
"Lihatlah mata aku, Sayang. Kamu seorang wanita yang aku yakin sangat pandai dalam merasakan perasaan aku nyata atau tidak, rasanya tidak perlu aku mengatakan sebesar dan seluas apa cinta aku ke kamu. Karena kamu pasti sudah merasakannya, hanya saja kamu sedang berusaha menyangkalnya."
__ADS_1
Aruna menatap netra Sigit dengan begitu lekat, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh pria itu, Aruna bisa melihat cinta yang begitu besar untuk dirinya.
"Bagaimana, hem?" tanya Sigit.