
Sesuai dengan apa yang sudah dikatakan oleh Sandi, pria itu selepas sarapan langsung menjemput Ayana untuk pergi ke rumah ayah kandungnya.
Pria itu terlihat tidak sabar sekali untuk meminta restu kepada Sam, dia juga sudah tidak sabar untuk segera menikahi Ayana.
Namun, dia juga merasa senang karena masih memiliki waktu satu bulan untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Ayana.
Walaupun semua biaya pernikahan di tanggung oleh Satria, tetapi tetap saja Sandi ingin mempersiapkan gaun pengantin terindah untuk Ayana.
Dia cuma ingin menyiapkan mahar yang cukup besar untuk calon istrinya, karena walau bagaimanapun juga dia ingin memberikan yang terbaik untuk Ayana.
"Rumahnya di sini?" tanya Sandi ketika Ayana meminta dirinya untuk memberhentikan mobil miliknya tepat di kediaman sederhana milik Sam.
Ayana dengan cepat menganggukkan kepalanya, dia menatap rumah milik ayahnya yang nampak sederhana. Pria itu hidup dalam kesederhanaan selama bertahun-tahun, karena itu dirasa lebih nyaman oleh Sam.
"Yes, ayah tinggal di sini." Ayana tersenyum hangat setelah mengatakan hal itu.
Sandi ikut tersenyum lalu segera turun dari dalam mobilnya, pria itu dengan cepat membukakan pintu mobilnya untuk Ayana.
"Terima kasih, ayo kita masuk. Kita kejutkan ayah sama Aya," ujar Ayana.
"Eh? Jadi Aya tinggal sama ayah kamu?" tanya Sandi yang semakin kebingungan.
Ya, Sandi sangat tahu jika Ayaka adalah adik dari Ayana. Karena selama mereka tinggal di luar negeri, Ayaka memang beberapa kali ikut menjenguk Ayana bersama dengan keluarga Sigit.
Maka dari itu Sandi sempat mengira jika Ayaka adalah bagian dari keluarga Dinata juga, tetapi nyatanya Ayaka ternyata tinggal bersama dengan ayah kandung Ayana. Duh, babang Sandi masih belum mudeng.
"Jangan bingung, nanti aku ceritakan." Ayana terkekeh melihat kebingungan di wajah Sandi.
Jika dulu Ayana mungkin akan marah ketika teringat akan perselingkuhan Sam dengan Angel, apalagi pernikahannya dengan wanita itu sampai melahirkan anak yang usianya tidak jauh dari dirinya.
Namun, kini dia sudah dewasa dan sudah paham. Hal buruk yang terjadi di masa lalu harus dijadikan cerminan hidup, dia harus berkaca dari kesalahan yang pernah dilakukan oleh ayahnya.
Ayana sudah berdamai dengan masa lalu, dia tidak ingin mengungkit hal buruk itu lagi. Pastinya, dia juga akan menceritakan semuanya kepada Sandi. Agar pria itu tidak kebingungan dengan silsilah keluarganya.
"Iya, Moo." Sandi menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.
__ADS_1
Apalagi setelah memperhatikan nama lengkap dari Ayana, Sandi sebenarnya merasa sangat bingung. Karena nama marga yang Ayana pakai adalah Rahardi, sama seperti Ayaka.
Nyatanya marga Sigit adalah Siregar, marga Aruna adalah Dinata. Jika memikirkan akan hal itu, kepala Sandi menjadi tambah pusing.
Ayana terkekeh, dia menautkan tangannya dengan tangan Sandi. Lalu, dia mengajak pria yang dia cinta itu untuk masuk ke dalam kediaman Sam.
Sesaat sebelum masuk Sandi sempat memperhatikan rumah sederhana tersebut, dia tidak menyangka jika ayah dari Ayana tinggal di kediaman sederhana seperti itu.
Namun, tidak lama kemudian dia tersenyum dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah sederhana tersebut.
"Ayah! Ay datang!" teriak Ayana ketika wanita itu membuka pintu utama.
Sandi sempat mengernyitkan dahinya mendengar teriakan dari Ayana, padahal apa salahnya mengucapkan salam saat bertamu ke rumah ayah kandung dari kekasihnya tersebut, pikirnya.
"Moo! Kok masuk ke rumah ayah nggak pakai salam dulu?" tanya Sandi.
Ayana tersenyum mendengar pertanyaan dari calon suaminya tersebut, dia melepaskan tautan tangannya dan mengelus lembut lengan Sandi.
"Ayah non muslim," jawab Ayana.
Jika dipikirkan, Sandi merasa keheranan karena ternyata Ayana memiliki ayah yang berbeda keyakinan dengan dirinya, padahal Ayaka saja memiliki agama yang sama dengan Ayana.
Lalu, bagaimana bisa Sam memiliki agama yang berbeda dengan kedua putrinya, pikir Sandi. Namun, terlepas dari agama apa pun yang dianut oleh semua orang, tentunya itu adalah pilihan terbaik bagi mereka. Agama yang baik untuk penganutnya.
"Dek! Kakak dateng loh, ngga ada penyambutan?" teriak Ayana lagi.
Tidak ada sahutan, Ayana menjadi heran dibuatnya. Lalu, wanita itu menuntun Sandi untuk duduk di atas sofa dan dia berkata.
"Kamu duduk yang anteng, aku cari ayah sama Aya dulu," pamit Ayana.
"Yes, Moo," jawab Sandi.
Sandi nampak duduk anteng di atas sofa yang ada di ruang tamu, sedangkan Ayana melangkahkan kakinya menuju taman belakang.
Biasanya kalau libur seperti ini ayahnya akan berkebun, tentunya Ayaka akan menemani kegiatan dari ayahnya tersebut.
__ADS_1
Benar saja, saat Ayana tiba di taman belakang, ternyata Sam sedang menanam sayuran organik. Ayana tersenyum lalu menghampiri pria itu
"Ayah, Ay dateng. Sibuk banget ya?" tanya Ayana seraya memeluk ayahnya.
Sam melebarkan senyum yang mendapatkan sapaan dari putrinya, dia merasa bahagia karena di hari libur ini Ayana datang untuk mengunjungi dirinya.
"Ya, Sayang. Pagi-pagi kamu sudah datang di sini, datang dengan siapa?" tanya Sam.
"Sama calon suami," jawab Ayana malu-malu.
Sam merasa begitu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, karena awalnya dia sempat khawatir jika Ayaka akan menikah tetapi Ayana belum memiliki kekasih sama sekali.
Walaupun Ayana tidak akan pernah keberatan Ayaka menikah terlebih dahulu, tetapi tetap saja saya merasa tidak enak hati terhadap putri sulungnya tersebut.
"Ya ampun! Anak Ayah sudah punya calon suami? Siapa, Sayang?" tanya Sam.
"Temen kuliah Ay dulu waktu di luar negri, Yah. Ayo Ay kenalkan," ajak Ayana malu-malu.
"Ayah cuci tangan dulu," ujar Sam seraya melerai pelukannya dengan putrinya.
"Hem! Oiya, dedek mana, Yah? Kok ngga ada?" tanya Ayana.
Sam yang baru saja mencuci tangannya langsung mengelap tangannya tersebut, lalu dia menonton putrinya untuk masuk ke dalam ruang keluarga.
"Aya sedang pergi ke rumah bunda Angel dengan Fano, mau minta izin untuk menikah." Sam terkekeh karena mengingat Stefano yang tadi malam melamar putrinya dengan sangat resmi.
Stefano terlihat tidak sabar sekali untuk menikahi Ayaka, dia berkata sangat mencintai Ayaka sejak lama. Dia juga sudah tidak sabar ingin menikahi Ayaka, karena Stefano beralasan jika pria itu sudah tua.
Usia Stefano sudah menginjak dua puluh delapan tahun, jika ditunda-tunda lagi maka nanti yang ada rambut Stefano akan keburu beruban.
Ayana yang mendengarkan penjelasan dari Sam benar-benar tidak menyangka, karena ternyata asisten pribadinya itu benar-benar gerak cepat untuk menikahi adiknya.
"Aih! Ternyata Fano ngebet juga," ujar Ayana disertai tawa.
Sam ikut tertawa, dia menggelengkan kepalanya seraya mengusap puncak kepala putrinya. Sungguh dia merasa bahagia dengan kehidupannya saat ini, sungguh dia merasa bersyukur karena Tuhan memberikan kesempatan kepada dirinya untuk merasakan kembali kebahagiaan.
__ADS_1