Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 58


__ADS_3

Aruna menatap bola mata Sigit dengan begitu lekat, dia memang bisa melihat dengan begitu jelas besarnya cinta pria itu kepada dirinya. Bahkan, dia bisa merasakan dari bagaimana cara Sigit bersikap kepada dirinya.


Namun, dia seakan enggan untuk mengomentari hal itu. Karena dia masih memikirkan luka yang telah ditorehkan oleh Sam di dalam hatinya.


"Apa yang kamu lihat? Cinta atau hanya sekedar rayuan belaka?" tanya Sigit.


Aruna melepaskan tangannya dari genggaman tangan Sigit, dia menepuk bangku kosong tepat di sampingnya. Sigit yang paham langsung bangun dan duduk tempat di samping wanita itu.


"Kamu mau bilang apa?" tanya Sigit.


"Aku tahu kalau kamu cinta aku, tapi kamu juga tahu kalau aku baru bercerai. Luka yang Sam torehkan di hati aku sangat dalam, jadi... maukah kamu bersabar?" tanya Aruna.


Sigit menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu tipis saat mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, Aruna bahkan sampai tidak menyadari senyuman itu.


"Bersabar untuk apa?" tanya Sigit pura-pura tidak paham.


"Bersabar untuk menunggu luka di hati aku sembuh," jawab Aruna.


Sigit langsung menganggukkan kepalanya, menurut Sigit menyembuhkan luka di hati Aruna itu tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena setelah mendapatkan hati Ayana, dia sudah memikirkan cara untuk menyembuhkan luka di hati Aruna.


"Tentu saja aku mau, tapi untuk menikahi kamu, jangan suruh aku menunggu terlalu lama. Karena saat aku bertanya kepada Ay, dia mau memiliki ayah seperti aku." Sigit berbicara dengan serius, pria itu bahkan kembali menggenggam tangan Aruna.


Aruna terlihat begitu kaget dengan apa yang dia dengar, mungkinkah Ayana terlalu terluka dengan apa yang sudah menimpa dirinya, maka dari itu dia berbicara seperti itu kepada Sigit, pikirnya.


''Iya, kah? Ay bilang begitu?" tanya Aruna.


''Hem! Katanya dia akan sangat senang kalau aku mau menjadi ayahnya, karena ayah Ay sudah direbut anak lain." Sigit berkata dengan raut wajah kesedihan, karena dia merasa sedih ketika pagi tadi Ay menangis karena sedih ayahnya direbut anak lain.


"Kamu serius?" tanya Aruna.


"Sangat serius, jadi... kapan kamu siap aku nikahi? Apa pas habis masa Iddah atau mau kapan?" tanya Sigit.


Jika Aruna tidak mau menikah setelah masa iddahnya habis pun, sungguh dia akan menunggu. Yang terpenting Aruna tidak memberikan harapan palsu kepada dirinya.


"Masa Iddah? Apa itu masa Iddah?" tanya Aruna.


"Di dalam Islam, wanita yang baru saja bercerai itu memiliki masa iddah selama 3 bulan 10 hari. Itu adalah masa tunggu bagi perempuan yang berpisah dengan suaminya, baik karena ditalak maupun karena bercerai mati," jawab Sigit.


"Oh! Jadi kalau misalkan aku mau nikah sama kamu, kamu harus nunggu aku selama 3 bulan sepuluh hari dong?" tanya Aruna.

__ADS_1


"Ya, kalau kamu siap selepas mas Iddah aku akan menjadikan kamu sebagai istri aku." Sigit tersenyum hangat setelah mengatakan hal itu.


"Hem, begitu ya. Lumayan lama juga waktu kamu untuk dekat sama Ay, selamat berjuang." Aruna melepaskan genggaman tangan Sigit lalu mengepalkan tangan kanannya ke udara.


"Aih! Senengnya dapet support dari Ayang," ujar Sigit bahagia.


Akhirnya Sigit bisa kembali melihat senyum di bibir Aruna, senang dan juga lega saya. Karena melihat Aruna bersedih, sungguh dia juga merasa tidak bersemangat.


"Oh iya, Sigit. Aku mau mengajak Ay ke rumah sakit untuk menjenguk mom Almira, kamu kalau mau menemui Ay nanti sore saja. Sekalian jemput aku di rumah sakit," ujar Aruna.


"Oke," jawab Sigit.


Setelah terjadi obrolan yang lumayan panjang antara Aruna dan juga Sigit, akhirnya mereka menemui Ayana yang baru saja keluar dari sekolahnya. Ayana yang melihat kedatangan Sigit langsung menagih janji dari pria itu, tetapi setelah Aruna menjelaskan, Ayana bisa paham.


"Kita jenguk oma dulu, nanti sore baru kita pergi ke toko buku bareng Om Sigit. Oke?" bujuk Aruna.


"Oke, Buna!" jawab Ayana.


Ayana lalu merentangkan kedua tangannya, Sigit yang paham langsung mengangkat tubuh mungil Ayana dan menggendongnya.


"Tapi Om ngga bakal ingkar janji, kan? Om bakal jemput Ay, kan?" tanya Ayana.


Justru dengan seperti itu Sigit akan merasa lebih senang, karena dia juga bisa pergi dengan Aruna bukan hanya dengan Ayana.


"Pokoknya jam 4 sore harus sudah datang, kalau ngga Ay akan benci Om!" ancam Ayana.


Ayana menatap Sigit dengan penuh ancaman, pria muda berusia dua puluh dua tahun itu sampai tertawa dibuatnya.


"Jangan benci Om, Sayang. Om pasti dateng," ucap Sigit meyakinkan.


Setelah Ayana yakin dengan apa yang dikatakan oleh Sigit, akhirnya Ayana ikut ke rumah sakit bersama dengan Aruna. Sedangkan Sigit langsung melajukan mobilnya menuju perusahaan Siregar.


Almira yang melihat kedatangan cucunya terlihat begitu bahagia, senyum di bibirnya mengembang dengan sempurna. Namun, air matanya juga ikut turun membasahi kedua pipinya.


Sedih sekali rasanya jika mengingat perpisahan Aruna dan juga Sam, apalagi ketika melihat wajah Ayana yang begitu mirip dengan putranya.


Ayana bersikap seperti biasanya kepada Almira, tidak ada yang berubah sedikit pun dari gadis kecil itu. Ayana nampak perhatian kepada neneknya tersebut.


Ayana bahkan menceritakan tentang sekolahnya dengan begitu riang kepada Almira, dia bahkan berkata mempunyai teman baru yang sangat tampan dan perhatian.

__ADS_1


Almira sampai tertawa dibuatnya, karena Almira mengira jika Ayana sedang menceritakan teman sekolahnya yang berparas tampan. Padahal, teman yang sangat tampan dan perhatian yang diceritakan oleh Ayana adalah Sigit.


"Seneng banget kayaknya dapet temen baru, terus bagaimana sama nenek, kakek dan juga om kamu, apa mereka baik?" tanya Almira.


Ayana menganggukan kepalanya dengan senyum yang begitu lebar di bibirnya, tentu saja menurutnya keluarga barunya begitu baik terhadap dirinya.


Bahkan, perlakuan Rachel, Satria, Sagara dan juga Sayaka memperlakukan dirinya dan juga Aruna dengan begitu baik. Mereka berusaha memberikan hal yang baik dan juga hal yang nyaman untuk mereka berdua.


"Sangat baik, mereka memperlakukan Ay seperti princess." Ayana tersenyum dengan begitu lebar ketika mengingat-ingat perlakuan dari Satria, Sagara, Sayaka dan juga Rachel.


Ada perasaan bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, ada juga perasaan sedih karena sepertinya Ayana begitu nyaman setelah tinggal bersama dengan kakek dan neneknya. Wajahnya lebih ceria.


"Syukurlah, oiya, Sayang. Oma mau makan buah, mau dong disuapi sama Ay," ujar Almira.


"Bolehlah, boleh," jawab Ayana seraya mengambil sepiring buah yang sudah dikupas dan dipotong-potong di atas piring lalu menyuapi Almira.


Siang ini terasa begitu menyenangkan bagi Almira, dia bahkan merasa jika penyakitnya akan cepat sembuh jika Aruna dan juga Ayana terus mengurusi dirinya.


Karena kebersamaan mereka begitu menyenangkan, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aruna memandikan Ayana, dia juga ikut mandi dan langsung berganti baju.


Hal itu dia lakukan karena memang waktu ashar akan datang, tentunya dia mendapatkan baju ganti dan juga mukena yang diantarkan oleh pak sopir. Aruna juga meminta sekalian pekerja di rumah ayahnya untuk membawa mobil miliknya, karena dia akan pergi bersama dengan Sigit.


"Mau ke mana?" tanya Almira ketika melihat Aruna dan juga Ayana ingin keluar dari ruangan tersebut dengan membawa mukena.


"Mau shalat ashar berjamaah di mushola rumah sakit," jawab Aruna.


Jika saja dia sudah pandai melakukan shalat, dia akan memilih untuk melaksanakan salat bersama dengan Ayana di ruangan tersebut. Namun, karena dia belum begitu pandai, Aruna memilih untuk salat berjamaah di mushola rumah sakit.


"Shalat? Bukankah kamu---''


"Ay dan Aruna sudah masuk Islam, Mom." Aruna tersenyum hangat setelah mengatakan hal itu.


"Oh!"


Hanya kata itu yang keluar dari bibir Almira, dia tidak bisa berkata apa pun lagi. Karena setahunya Satria memang beragama Islam, sudah dapat dipastikan jika Aruna dan juga Ayana akan memeluk agama yang dianut oleh Satria.


"Ay shalat dulu ya, Oma. Biar bisa mendoakan Oma," ujar Ayana.


"Hem," jawab Almira dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


__ADS_2