
Dokter Robby datang ke rumah Melinda ternyata dia datang di sore hari tidak seperti janjinya.
Melinda yang mulai merasa membaik dia pun bisa menerima kehadiran Dokter Robby di samping nya.
"Melinda bagaimana dengan kondisi mu ini,? kenapa kamu tidak bisa lagi untuk menahan rasa emosi mu?."
Melinda tersenyum tipis kepada Dokter Robby.
"Aku semakin yakin jika Putri Belinda yang di bunuh oleh Ronny, walaupun aku yang tidak mempunyai bukti tapi aku begitu sangat yakin sekali."
Dokter Robby memilih untuk mendengarkan perkataan Melinda karena dia yang ingin sekali bisa mendengar curhatan hati Melinda.
"Seharusnya hari ini aku yang menjadi pemimpin bisnis Parfume ku ini, bukan Ayah dan Ibu. Sekarang Ronny pasti sudah mengetahui nya jika ke 6 toko parfume itu sudah menjadi milik ku."
Melinda semakin merasakan sesak di dada nya ketika mengingat kembali Ronny yang dengan sangat tega nya dia Menganti nama Parfume tersebut.
"Aku sudah tidak menganggap Ronny sebagai suami ku lagi tapi aku sudah menganggap Ronny itu sebagai musuh ku."
Suster Diana menyiapkan minuman untuk mereka berdua dan Melinda seperti ingin bisa pergi ke toko nya tersebut.
__ADS_1
"Robby, bisakah kamu antarkan aku ke toko ku yang baru. Aku ingin sekali melihat nya karena sekarang kondisi ku yang sudah sangat membaik."
Suster Diana yang berada di dekat Melinda dirinya merasa sangat menghawatirkan kondisi Melinda yang tiba-tiba suka berteriak histeris.
"Robby, aku mohon yaa. Antarkan aku yaa sekarang aku janji sebelum pergi aku minum obat dan aku akan mengendalikan emosi ku."
Melinda yang terus menerus memohon kepada Robby sampai akhirnya Robby pun luluh dengan rayuan Melinda.
"Baiklah kita pergi sekarang yaa, tapi Suster Diana harus ikut yaa."
Suster Diana pun langsung menyediakan obat yang harus di minum oleh Melinda sebelum pergi.
Melinda yang menyadari pun dia langsung bertanya kepada Robby.
"Robby, kenapa kita tidak melewati gedung putih itu?. Apakah kamu sengaja menghindari gedung tersebut?."
Suster Diana memegang tangan Melinda yang sudah terlihat emosional.
"Ibu tenang yaa Bu, semuanya akan baik-baik saja. Karena memang lebih baik ibu tidak perlu melihat gedung tersebut."
__ADS_1
Merasa sudah di wakilkan jawaban nya oleh Suster Diana, akhirnya mereka berdua pun sampai di depan pintu gerbang toko tersebut.
Terlihat begitu sangat jelas sekali Belinda Parfume dengan nuansa pink dan juga foto Putri Belinda yang memakai gaun putih serta mahkota di kepala nya.
"Cantik sekali sayaaaaang, anak Mama Putri Belinda sayangku."
Melinda membuka pintu mobil dia pun berjalan sambil menagis menuju ke dalam toko, para pegawai pun ikut terharu ketika melihat Melinda yang menangis sambil memandangi foto Putri Belinda.
"Sayang kamu sangat cantik sekali sayaaaaang, Mama janji akan membuat toko ini menjadi toko yang maju saja seperti dulu. Karena Mama yakin sekali jika nama kamu itu adalah nama keberuntungan untuk bisnis ini."
Regina pun meneteskan air mata nya ketika Melinda yang bisa datang ke toko ini.
"Melinda, kamu tidak usah hawatir yaa. Toko ini akan sukses bahkan lebih sukses dari sebelumnya. Kita akan bersaing sehat dengan toko Parfume milik suami mu itu."
Mendengar perkataan Ibu nya, Melinda pun memilih berjalan untuk melihat ruangan selanjutnya.
Ruangan yang masih sangat kosong sekali yang akan di penuhi oleh varian parfume Belinda yang terbaru.
"Kesuksesan Mama yang seperti sangat sia-sia sekali karena kamu yang sudah tidak bersama dengan Mama sekarang."
__ADS_1
Melinda pun semakin memikirkan kenangan indah bersama dengan Putri Belinda.