
Melinda dan juga Febrian merasa pun sampai di Bali, Melinda memesan satu kamar saja seakan sebuah kode agar mereka berdua bisa bersama selalu.
Melinda pun tidak lupa untuk memberikan kabar kepada ibu nya jika dia sudah sampai.
"Ini sudah malam lebih baik kamu beristirahat saja yaa, aku ingin keluar sebentar."
Melinda memegang tangan Febrian dia tidak ingin Febrian meninggalkan nya dan Febrian pun duduk di samping Melinda.
"Jika aku ingin berpisah dengan Ronny, apakah kamu akan ada di samping ku. Apakah kamu akan menjadi pendamping ku di saat persidangan nanti."
Febrian dia tidak bisa membohongi perasaannya jika dia sangat mencintai Melinda tapi Febrian mengetahui apa alasan Melinda yang ingin berpisah dengan Ronny karena dia menyangka Ronny yang membuat Putri Belinda meninggal dunia tapi kenyataannya Putri Belinda masih hidup dan tinggal bersama dengan Ronny.
"Apakah kamu benar-benar menginginkan perpisahan ini,? bukan karena kamu melihat Putri Belinda yang sudah tidak ada. Jangan sampai kamu menghilangkan rasa cinta mu itu hanya karena kamu yang berpikir jika Putri Belinda meninggal karena perbuatan Ronny tanpa kamu mempunyai bukti yang jelas."
Melinda terdiam dan genggam tangan nya semakin erat dia pun langsung memandangi wajah Febrian.
"Aku mencintaimu Febrian, aku ingin bisa membuka lembaran baru bersama dengan mu. Aku ingin melupakan semua nya, aku ingin bisa bahagia bersama dengan mu."
Febrian belum bisa menjawab perkataan Cinta dari Melinda karena belum melihat bagaimana Melinda ketika sudah bertemu dengan Putri Belinda.
"Kita simpan dulu perasaan kita berdua ini yaa, sekarang lebih baik kita fokus pada pekerjaan ini dan semoga saja bisa membuat kesuksesan."
Febrian pun langsung pergi meninggalkan Melinda sendirian di kamar hotel.
"Kenapa semakin hari aku selalu saja mengingat Putri Belinda yang sudah tidak ada. Kenapa aku merasa jika dia itu ada di sekitar ku tapi mungkin aku yang tidak bisa melihat nya."
__ADS_1
Handphone Melinda pun berdering dan ternyata itu adalah panggilan video call dari Elisabeth.
Melinda bisa tersenyum kembali ketika Elisabeth menghubungi nya.
*Mommy*
*Iya sayang*
*Mommy sudah sampai hotel yaa*
*Iya sayang Mommy baru saja sampai hotel sayang*
*Aku merasa sangat menghawatirkan Mommy, syukurlah jika Mommy sudah sampai dengan selamat. Sekarang lebih baik Mommy istrirahat yaa, Selamat tidur Mommy mimpi yang indah*
Melinda pun kembali bisa tersenyum kembali ketika bisa video call bersama dengan Elisabeth.
"Terimakasih sayaaaaang, kamu membuat Mama kembali tersenyum."
Melinda memilih untuk mandi karena dia merasa tidak nyaman berkeringat, dia pun sampai memasang lilin aromaterapi agar pikiran lebih tenang.
Melinda memejamkan mata nya dia pun seperti melihat anak perempuan yang melambaikan tangan nya sambil berteriak memanggil nama nya.
Hati-hati Mama di sana, pulang dengan selamat yaa nanti. Aku cinta Mama.
Begitu sangat jelas sekali wajah anak perempuan tersebut dan membuat Melinda pun langsung membuka mata nya.
__ADS_1
"Putri Belinda anak ku, dia yang mengatakan itu semua kepada ku. Ini seperti sangat nyata sekali Putri Belinda berteriak di depan jendela yang terbuka dan jendela itu sangat besar sekali."
Melinda pun langsung terdiam dia yang seperti mengenal jendela besar tersebut dia seperti tidak asing dan selalu melihat nya.
"Aku pernah melihat jendela besar itu tapi di mana yaa, tempat seperti tidak asing dan aku selalu melihat nya."
Melinda pun memilih untuk menyelesaikan mandi nya karena dia terus saja memikirkan bayangan tersebut.
"Ini seperti sebuah mimpi tapi aku merasa ini seperti kenyataan."
Melinda pun langsung memakai pakaian tidur nya dia duduk dan masih saja terdiam sampai akhirnya Febrian pun kembali ke kamar.
Melihat Melinda yang duduk dengan tatapan mata yang kosong, Febrian segera menghampiri Melinda dia tidak mau Melinda yang kembali despresi.
"Melinda kamu baik-baik saja kan,? kenapa kamu melamun seperti itu."
Melinda begitu sangat terkejut sekali ketika Febrian yang tiba-tiba saja memeluk nya.
"Aku bermimpi Putri Belinda tapi aku merasa mimpi itu seperti sangat nyata sekali."
Febrian pun memberikan minuman untuk Melinda sampai Melinda menghabiskan nya.
"Sekarang lebih baik kamu langsung tidur yaa, kosong kan pikiran mu yaa. Jangan memikirkan apapun supaya kamu bisa tidur nyenyak."
Febrian menarik selimut dan dia pun mematikan lampu kamar nya, Febrian lebih memilih untuk tidur di sofa.
__ADS_1