Belinda Sayang Belinda Malang

Belinda Sayang Belinda Malang
Episode *215*


__ADS_3

Regina dan suaminya melihat perkembangan bisnis Melinda yang semakin menurun mereka berdua merasa sangat sedih melihat nya.


"Bagaimana ini, kenapa Melinda bisa kalah saing dengan Ronny."


Regina begitu sangat menghawatirkan kebangkrutan pada bisnis Melinda dan mereka pun mencoba untuk mencari letak kesalahannya.


"Bagaimana jika besok kita datang ke kantor Melinda kita bicarakan ini dengan Melinda dan Asisten pribadi jangan kita bahas di meja makan."


Jam makan malam pun tiba Elisabeth sebenarnya merasa sangat malas sekali dia tidak suka dengan Omah Regina yang selalu saja membicarakan nya.


"Ayo Elisa, kita makan sekarang juga yaa."


Elisabeth pun dengan wajah kesalnya dia pun berjalan menuju ke meja makan, dia menundukkan kepalanya dia seperti tidak mau menatap Omah Regina.


Tidak lama kemudian Melinda pun datang dan Elisabeth langsung berteriak kencang menyambut kedatangan Mama nya.


"Yeahhhh, Mommy Melinda pulang.'


Mereka berdua pun saling berpelukan.


"Bagaimana tadi di sekolah,? semua nya baik-baik saja kan?."


Elisabeth tersenyum lebar kepada Melinda.


"Semuanya baik-baik saja Mam, tapi Veronica dia seperti masih tidak mau menyapa ku."


Melinda menggendong Elisa sampai ke tempat makan dan mendudukkan nya.


"Yasudah tidak apa-apa yang penting Elisa yang selalu baik dengan Veronica."


Regina dan Arief tersenyum pada Melinda yang terlihat bahagia ketika bersama dengan Elisabeth.


"Melinda, kamu kelihatan sangat lelah sekali. Kamu jangan terlalu banyak pikiran Melinda kamu harus mengatasi permasalah dengan tenang karena setiap masalah pasti akan ada jalan keluar nya."

__ADS_1


Melinda merasa ke dua orang tuanya yang sudah mengetahui kondisi bisnis Parfume nya. Melinda mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka dengan membahas tentang Elisabeth.


"Elisa, kamu tahu tidak jika sekarang Elisa sudah resmi menjadi anak Mama secara hukum sayaaaaang. Jadi Erika sekarang adalah anak Mommy seutuhnya."


Semua yang ada di ruangan tersebut pun merasa sangat terkejut sekali dan Suster Diana tidak menyangka jika Melinda sampai melakukan hal tersebut.


"Itu tandanya Elisabeth adalah penerus Mama dalam hal apapun, makanya Elisabeth harus rajin sekolah nya yaa jadi anak yang pintar yaa sayaaaaang. Karena sekarang kamu yang Mama andalkan."


Elisabeth pun seketika dia langsung tersenyum dia pun langsung berpikir jika dia juga yang akan mendapatkan harta kekayaan yang di miliki oleh Melinda.


"Terimakasih banyak Mommy, aku sayang Mommy."


Suasana makan malam mendadak menjadi berubah setelah mendapat perkataan Melinda dan lebih memilih untuk menyudahi makan malam nya dia pergi ke kamar nya.


Regina merasa apa di lakukan Melinda yang terlalu berlebih-lebihan kepada anak yang bukan dari keluarga nya. Setelah ini Melinda pasti akan menyerahkan harta kekayaan kepada Elisabet.


"Jika umur tidak panjang lebih baik aku berikan harga kekayaan ku kepada orang-orang yang membuat, atau dia buat panti asuhan dengan pasilitas yang bagus. Aku tidak akan pernah mau memberikan harta kekayaan ku untuk anak perempuan itu jika bukan untuk Putri Belinda cucu ku."


Suster Diana memperhatikan makan Melinda yang tidak terlalu banyak seperti biasanya, Suster Diana pun mencoba untuk mendekati Melinda.


"Bu, apakah ibu sekarang sedang dalam masalah besar? aku melihat ibu yang kelihatan seperti lesu dan sangat lemas sekali."


Melinda pun tersenyum kepada Suster Diana.


"Aku baik-baik saja kok Suster Diana, kamu tidak usah hawatir yaa."


Melinda pun memilih untuk masuk ke dalam kamar nya dan Suster Diana hanya bisa terdiam saja karena Melinda yang tidak mau bercerita kepada dirinya.


Di saat Melinda yang merasa lesu dan lemas di sisi lain Merry, dia yang sedang memikirkan bagaimana jika dirinya berhasil tinggal bersama dengan Papa nya.


"Aku pasti sangat bahagia sekali, karena aku nanti akan tinggal bersama dengan Papa dan aku juga bisa sekolah punya banyak teman-teman yang baru."


Merry memeluk boneka yang pernah di berikan oleh Suster Diana dan dia juga memakai baju yang di berikan oleh Suster Diana.

__ADS_1


"Bagaimana yaa nanti, aku yang bisa bertemu dengan Suster Diana. Tapi bukan sebagai Putri Belinda tapi sebagai Merry dan bagaimana juga yaa dengan perasaan Mama ketika mengetahui jika aku yang masih hidup."


Bayang indah Merry pun tiba-tiba saja menghilang dia karena dia yang mengingat kehadiran Elisabeth.


"Mama tidak akan mungkin bahagia ketika dia mengetahui jika aku yang masih hidup, karena Mama sekarang yang sudah mempunyai Elisabeth. Aku benci Elisabeth, dia yang telah mengambilnya kebahagiaan ku."


Merry pun memilih untuk berinteraksi dia memejamkan mata nya dia berharap bermimpi indah bersama dengan Mama nya karena Merry yang begitu sangat merindukan Mama nya.


Merry berjalan melewati anak tangga dia terus saja berjalan dan dia melihat ada anak kecil yang dia lihat seperti di gedung milik Papa nya, anak perempuan itu melambaikan tangan nya kepada Merry sambil tersenyum manis.


"Siap yaa dia kenapa sampai melambaikan tangan nya kepada ku yaa, ihhhh aku takut sekali melihat nya."


Merry pun memilih untuk diam dia tidak melangkah kan kaki nya, Merry yang kelihatan sangat ketakutan sekali tapi ternyata jarak mereka berdua yang semakin mendekat membuat Merry menutup mata nya dengan kedua tangan nya.


"Kamu tidak perlu takut kepada ku, aku ingin menjadi teman mu. Aku akan menunggu mu di gedung merah yang merupakan tempat tinggal ku bersama dengan teman-teman ku."


Merry pun memberanikan diri untuk bisa melihat wajah anak perempuan tersebut, wajah yang penuh dengan darah berubah menjadi pucat Pasih dan berubah menjadi anak perempuan yang sangat cantik.


"Aku adalah Merry, Merry yang tidak mau kesepian."


Seketika Merry pun mengingat kata-kata tersebut yang seperti dia ingat seperti pernah dia dengar.


"Aku Putri Belinda, tapi aku Menganti nama ku menjadi Merry. Tapi kenapa nama kita berdua bisa sama yaa."


Merry hantu kecil berbaju merah pun langsung meninggalkan Putri Belinda begitu saja dan Putri Belinda pun mencari keberadaan Merry.


"Merry kenapa kamu pergi begitu saja, dan apa maksud dengan gedung merah itu yaa. Aku yang tidak tahu di mana itu gedung merah berada."


Merry pun tiba-tiba langsung terbangun dari tidurnya dia yang merasa jika itu adalah nyata bukan sebuah mimpi.


"Merry kenapa nama kita bisa sama seperti ini yaa, astaga aku menjadi sangat takut sekali."


Merry pun menyalakan lampu kamar nya, dia memilih untuk menyenderkan tubuhnya dan memeluk boneka kesayangan nya.

__ADS_1


__ADS_2