
~Keesokan harinya ~
Melinda dengan sangat anggun dan cantik dia hadir di pembukaan toko parfume baru milik nya.
Dia terlihat begitu sangat cantik dan anggun sekali dan menggunting pita.
"Saya merasa sangat bahagia sekali ketika saya di percaya untuk bisa membuka produk Parfume milik saya ini yang saya beri nama
Belinda Parfume."
Melinda memakai nama Belinda karena dia merasa jika nama Belinda adalah nama keberuntungan untuk usaha nya.
Ronny dan Melinda memulai bisnis nya dan berharap akan banyak lagi cabang produk Parfume nya tersebut.
Melinda merasa sudah sangat cukup sekali dirinya berada di tempat tersebut, Melinda ingin sekali secara pulang.
"Papa, tugas Mama sudah selesai bagaimana jika Papa saja yang berada di sini sampai satu Minggu sedangkan Mama pulang yaa Pap."
Ronny merasa sangat kasihan sekali melihat istrinya yang memang tidak bisa membongkar perasaan nya.
Akhirnya Ronny pun luluh dia membiarkan istrinya untuk pulang duluan.
"Pulang lah, jika kamu memang ingin bertemu dengan Belinda."
Mendengar hal tersebut Melinda pun langsung bersiap-siap pulang dia merasa sangat senang sekali.
"Semoga saja kondisi Belinda membaik sehingga Melinda tidak terlalu hawatir dengan Belinda."
Ronny pun melanjutkan pembicaraan nya agar dia bisa banyak konsumen yang datang ke bisnis Parfume nya.
Melinda masih bisa sempat untuk membelikan oleh-oleh untuk Belinda dan juga semua asisten rumah tangga nya yang ada di rumah.
Melinda begitu sangat bersemangat sekali padahal Belinda yang sedang di rawat di Rumah Sakit.
"Ayo Pak, jalan yaa saya sudah selesai belanja nya. Saya juga sudah tidak sabar sekali ingin bertemu dengan Belinda sayaaaaang."
Di perjalanan rasa hawatir Melinda menjadi kebahagiaan, dia pun akhirnya sampai di rumah dan dia tidak melihat kehadiran Suster Diana.
__ADS_1
Melinda pun langsung melemparkan barang-barang yang dia beli dia berlari ke kamar Belinda.
Melinda tidak melihat Suster Diana dan juga Putri Belinda.
"Di mana mereka berdua, kenapa tidak ada di dalam rumah mau pun di lingkungan rumah."
Melinda mulai merasa panik kembali dan lagi-lagi Melinda berpikiran negatif terhadap Suster Diana.
"Astaga bagaimana jika Putri Belinda di bawa pergi oleh Suster Diana, Astaga ini tidak boleh terjadi Tidaaaaaak aku tidak akan membiarkan nya."
Dengan kondisi yang masih sangat panik sekali, Melinda keluar dari kamar tersebut dan menanyakan tentang Suster Diana bersama dengan Putri Belinda.
"Kamu melihat Suster Diana dan juga Putri Belinda, kenapa mereka berdua tidak ada di kamar atau pun di lingkungan rumah."
Melinda kelihatan sangat panik sekali sehingga menjadi pegawai nya merasa sangat ketakutan sekali.
"Hmmmm, begini Buu saya mendapatkan kabar dari Pak Denies yang merupakan supir yang mengantarkan Suster Diana dan Putri Belinda ke Rumah Sakit Bunda. Di saat Putri Belinda sudah selesai dari Dokter Specialis Anak tiba-tiba Putri Belinda panas dan kembali di bawa ke dalam dan ternyata Putri Belinda harus di rawat."
Seketika Melinda merasa sangat lemas sekali ketika dia mendengar jika Putri Belinda yang sedang di rawat, dan ternyata apa yang dia rasakan di luar kota itu benar adanya dia merasa tidak enak dan selalu memikirkan Putri Belinda.
Melinda merasa sangat kecewa sekali dengan Suster Diana, tanpa pikir panjang dia langsung menuju ke Rumah Sakit tanpa supir pribadi.
Pegawai pun melihat barang-barang bawaan yang berantakan di lantai.
"Kenapa Suster Diana tidak memberitahu Bu Melinda, ini hanya akan membuat Bu Melinda marah besar semoga saja Suster Diana tidak di pecat."
Pegawai tersebut memilih untuk membereskan barang-barang yang di bawa oleh Miranda.
Sedangkan Melinda dia mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali, dia menyetir mobil mobil dalam keadaan menagis histeris.
"Aku merasa sangat kecewa sekali dengan Suster Diana, aku ingin sekali segera sampai dan mendengarkan penjelasan apa yang dia berikan untuk kuu."
Melinda pun akhirnya sampai di depan Rumah Sakit tersebut, dia langsung berlari dan mencari tahu nomor kamar Putri Belinda.
Setelah mendapatkan kamar nya, Melinda memilih untuk memperhatikan Suster Diana dari balik pintu kaca.
Melinda melihat Suster Diana yang sedang memberikan makanan kesukaan Putri Belinda dan terlihat sangat tulus dan penuh cinta.
__ADS_1
Melinda pun langsung membuka pintu tersebut dan Suster Diana begitu sangat terkejut sekali ketika melihat Melinda yang ada di hadapan.
"Ada apa dengan Belinda, kenapa kamu tidak memberitahu saya jika Putri Belinda sakit dan sampai di rawat seperti ini."
Suster Diana yang tidak mau berdebat dengan Melinda dia langsung memberikan handphone nya kepada Melinda.
"Saya memang tidak memberitahu ibu Melinda tapi saya mengirimkan pesan kepada suami ibu dan itu bukti percakapan kita berdua yang membahas tentang Putri Belinda."
Melinda pun dengan cepat dia langsung mengambil handphone tersebut dan membaca isi percakapan mereka berdua.
Melinda pun merasa marah dan kecewa sekali dengan suami nya, yang menyembunyikan kabar jika Putri Belinda yang sedang di rawat.
"Saya minta maaf, sekarang bagaimana dengan kondisi Putri Belinda."
Melinda menghampiri Putri nya tapi tiba-tiba saja Putri Belinda menangis kencang ketika melihat wajah Mama nya.
"Sayaaaaang kamu kenapa menangis, ini Mama sayaaaaang. Kenapa menangis Nak, kamu marah sama Mama yaa sayang Mama yang sibuk berkerja tidak peduli dengan kesehatan kamu yaa. Maafkan Mama yaa sayang."
Melinda mencoba untuk menenangkan Belinda dia mengendong nya, Melinda merasa sangat sedih sekali ketika melihat infusan di tangan nya.
Belinda yang belum bisa berbicara dia menunjuk tangan yang sedang di infus.
"Sabar yaa sayaaaaang, biar cepat sembuh yaa Nak. Biar bisa main-main lagi yaa sayang."
Melinda merasa sangat kecewa sekali dengan sikap suaminya dia seakan ingin meluapkan emosi nya di telephone dengan suami nya.
"Hasil pemeriksaan nya keluar besok, semoga Putri Belinda sehat tidak ada penyakit serius karena Putri Belinda yang harus fokus dengan terapi agar bisa cepat berjalan dan berkembang sesuai dengan usianya."
Melinda merasa sangat sedih sekali ketika melihat di usia yang baru satu tahun Belinda sudah harus seperti ini.
"Aku ingin Belinda seperti anak-anak seusianya, aku tidak Belinda sampai berbeda karena Belinda adalah penerus perusahaan kami dan aku dan suami ku berkerja keras seperti ini untuk masa depan Putri Belinda."
Suster Diana pun berharap yang terbaik untuk Putri Belinda, dia yakin jika Putri Belinda bisa seperti anak normal yang lain nya.
"Kita sama-sama menjaga Putri Belinda, kita sama-sama menyemangati Putri Belinda. Jangan pernah ada kata membandingkan dengan anak yang lain karena itu hanya akan membuat sedih Putri Belinda."
Terlihat sekali Putri Belinda yang sampai tertidur di pangkuan Mama nya, wajah polos cantik yang tidak berdosa yang merindukan kehadiran Mama.
__ADS_1