
Suster Diana melihat Melinda yang menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya, dia seperti orang yang ketakutan.
"Bu, kenapa bu. Kenapa ibu seperti ini sekarang Bu, ayo Bu sadar Bu."
Suster Diana mencoba untuk menenangkan pikiran Melinda, dan membawa Melinda ke atas kasur karena Melinda yang duduk di lantai sambil menutupi wajahnya.
Suster Diana mencoba untuk melepaskan tangan Melinda yang terus-menerus menutupi wajahnya.
"Anak kecil itu lompat dari gedung dan terjatuh sampai wajahnya penuh dengan darah."
Suster Diana tidak mengerti Melinda yang sedang menceritakan anak yang kecil yang mana.
"Anak kecil siap Bu,? di rumah ini tidak ada lagi anak kecil."
Melinda langsung menatap wajah Suster Diana.
"Anak kecil perempuan berbaju merah, dia berada di gedung tua itu."
Suster Diana merasa jika apa yang di ceritakan oleh Melinda sama dengan apa yang sudah dia mimpi kan.
"Kenapa dia harus ada di pikiran kita berdua, dan apakah dia adalah Putri Belinda. Tapi Putri Belinda tidak mungkin ada di gedung tua itu."
Suster Diana pun langsung memberikan obat penenang untuk Melinda dan dia mencoba untuk menghubungi Dokter Robby.
Suster Diana menelephone di pinggir Melinda dan Melinda kelihatan sangat begitu sedih sekali.
*Hallo Dokter Robby, saya Diana suster yang mengurus Ibu Melinda*
__ADS_1
*Ada apa Suster Diana,? apa yang terjadi dengan Melinda*
*Bu Melinda sekarang seperti banyak berhalusinasi, dia seperti banyak melihat sesuatu yang sangat seram sekali*
*Saya akan pergi ke sana yaa, nanti setelah pulang praktek yaa*
*Baiklah Dokter Robby saya tunggu*
Melinda mendengar percakapan antara Suster Diana dan juga Dokter Robby.
"Apakah Robby akan ke sini, aku ingin sekali Robby membawa ku keluar dari rumah ini."
Melinda merasa sudah tidak nyaman untuk tinggal di sini, Suster Diana pun terdiam ketika mendengar Melinda yang ingin keluar dari rumah ini.
Suster Diana merasa berat jika dia harus keluar dari rumah ini karena banyak sekali kenangan indah bersama dengan Putri Belinda.
Melinda terdiam sambil meneteskan air mata nya.
"Bu, ketika kita merasakan rindu dengan Putri Belinda. Kita bisa datang ke kamar nya dan itu bisa membuat sedikit rindu kita terobati."
Melinda semakin diam ketika mendengar hal tersebut, Melinda memilih membaringkan tubuh nya dan menarik selimut tebal nya.
Suster Diana pun memilih untuk keluar dari kamar Melinda karena melihat Melinda yang ingin beristirahat.
Suster Diana menutup rapat pintu kamar Melinda dan mengambil kunci kamar nya karena tidak mau Melinda sampai mengunci diri nya sendiri di kamar nya.
"Kenapa banyak sekali hal-hal yang tidak masuk akal di sini yaa, ntah itu dalam mimpi ataupun di dalam kenyataan yang terjadi."
__ADS_1
Suster Diana duduk di kursi yang dekat dengan kamar Putri Belinda, dia seperti mendengar suara teriakan dan tertawa anak-anak di dalam kamar Putri Belinda.
"Astaga, jangan sampai aku seperti Ibu Melinda. Aku tidak mau sampai despresi."
Karena merasa penasaran Suster Diana pun membuka pintu kamar Putri Belinda, dan dia melihat mainan Putri Belinda yang berantakan di lantai.
"Kenapa mainan nya sampai berserakan di lantai seperti ini, siapa yang melakukan ini semua."
Suster Diana pun mencoba untuk membereskan kembali boneka dan mainan milik Putri Belinda.
Ketika sudah selesai tiba-tiba saja terdengar suara sesuatu yang terjatuh, Suster Diana pun langsung membalikkan badannya dan melihat buku merah yang terjatuh dengan terbuka.
Suster Diana pun memang merasa jika dia yang tidak pernah membaca kelanjutan dari buku tersebut, Suster Diana lebih memilih mengabaikan buku merah yang jatuh tersebut dan memilih untuk keluar dari kamar Putri Belinda.
"Aku sudah tidak mau membacakan buku tersebut lagi karena Putri Belinda pun sudah tidak ada di dunia ini, membaca buku merah itu hanya membuat ku semakin merindukan Putri Belinda."
Suster Diana mengunci kamar Putri Belinda dan berjalan menuju ke depan rumah untuk menunggu kedatangan Dokter Robby.
Pandangan Suster Diana tertuju pada jendela kamar Putri Belinda, Suster Diana seperti melihat jendela kamar tersebut yang bergetar seperti akan terbuka.
"Angin yang sangat kencang sekali, sampai membunuh jendela kamar seperti akan terbuka saja."
Pandangan mata Suster Diana terus saja tertuju pada gorden yang berwarna putih bersih.
Ketika angin kencang yang membuat gorden jendela tidak bisa diam, lagi-lagi Suster Diana melihat sosok anak kecil yang memakai baju merah.
"Astaga, apakah itu adalah Putri Belinda. Karena ketika dia sebelum meninggal dia memakai baju beredar merah."
__ADS_1
Suster Diana kembali berlari menuju ke kamar Putri Belinda.