
Ketika Putri Belinda yang sedang berbahagia dengan Papa nya begitu juga dengan Melinda yang ingin memberikan kebahagiaan dengan Elisabeth.
Mereka berdua yang berniat untuk melakukan pemotretan dan juga syuting iklan untuk produk mereka berdua.
Mereka bertiga pun datang ke Restoran yang sangat mewah sekali, Melinda ingin membuat bahagia Suster Diana dan juga Elisabeth.
"Mommy pokoknya aku ingin memakai gaun yang indah yaa, tema nya seperti princess. Wah pasti aku sangat cantik sekali dan teman-teman pasti akan iri melihat ku. Apalagi yang di panti asuhan termasuk Merry."
Suster Diana merasa tidak terima ketika Elisabeth yang menyebutkan nama Merry.
"Kenapa harus Merry, dia akan yang baik tidak mungkin dia mempunyai sikap seperti itu. Elisabeth sebenarnya apa yang membuat kamu seperti tidak suka dengan Merry."
Melinda pun juga ingin mengetahui alasan kenapa Elisabeth yang begitu sangat benci kepada Merry.
"Merry itu awal-awal di panti asuhan sikap dia seperti anak orang kaya, padahal aku yakin dia dari keluarga bisa saja. Hanya karena Merry yang berkulit putih seperti salju."
Suster Diana semakin penasaran terhadap Merry.
"Aku semakin penasaran sekali dengan Merry, aku ingin bisa mengobrol dengan dia."
Suster Diana pun bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana wajah nya Merry.
"Apakah Suster Diana ingin mengadopsi Merry,? seperti Suster Diana sangat suka dengan Merry."
Melinda pun langsung mengalihkan pembicaraan mereka berdua, dia langsung mengajak untuk pulang.
"Ayo lebih kita pulang yaa, kita yang harus mempersiapkan bekal untuk satu kelas dan juga besok nya kita akan melakukan proses syuting iklan dan juga pemotretan."
Mereka pun langsung pergi dari Restoran tersebut, tapi Suster Diana yang terus saja memikirkan perkataan Elisabeth tentang adopsi Merry.
"Suster Diana, kenapa seperti melamun seperti itu yaa? apakah sedang memikirkan sesuatu?."
Suster Diana menggelengkan kepalanya berkali-kali dia pun langsung membuka pintu mobil dan masuk bersama dengan Elisabeth.
"Suster Diana, apakah mau ikut dengan aku dan Mommy di saat proses syuting dan iklan?."
Suster Diana pun tiba-tiba langsung terdiam, dia memikirkan Merry. Di saat Elisabeth dan Melinda sibuk dengan pekerjaan Suster Diana memilih untuk pergi ke panti asuhan.
"Aku seperti ingin pergi ke panti asuhan saja, aku ingin lebih mengenal Merry."
__ADS_1
Melinda pun hanya tersenyum saja ketika mendengar keputusan Suster Diana, sedangkan Elisabeth dia semakin yakin jika Suster Diana yang akan menjadi Ibu nya Merry.
Mereka pun akhirnya sampai di depan gerbang rumah, dan Elisabeth pun langsung berlari menuju ke kamar nya.
Suster Diana masuk ke dalam kamar nya dia pun memilih buku merah yang membuka sendiri seperti ada yang membuka nya.
"Kenapa lagi yaa dengan buku ini, sangat membuat aku resa dengan isi tulisan nya."
Suster Diana mengambil buku tersebut dan membaca tulisan yang ada di buku.
*Kembalikan aku kepada merah, aku ingin merah yang membaca ku*
"Merah itu siapa yaa, dan aku harus mengembalikan kepada siapa."
Suster Diana menyimpan kembali buku tersebut, dia pun langsung memikirkan semua yang terjadi dengan buku tersebut.
"Setiap tulisan nya itu seperti petunjuk, tapi aku yang tidak bisa mengartikan nya."
Suster Diana mengambil kembali buku tersebut dia pun mencoba untuk membuka kembali lembar demi lembar tapi tiba-tiba saja buku merah itu kosong tidak ada tulisan nya.
"Kenapa buku ini tiba-tiba tidak ada tulisan nya yaa, kenapa buku ini menjadi kosong seperti yaa."
Suster Diana merasa tidak percaya dan dia pun kembali untuk membuka buku tersebut, Suster Diana terlihat sangat kebingungan sekali.
Elisabeth tiba-tiba saja membuka pintu kamar dia pun langsung masuk karena melihat Suster Diana yang sedang memegang buku yang sangat besar sekali.
"Buku apa itu yaaa, Kenapa sangat besar sekali yaaa. Seperti nya aku menyukai nya."
Elisabeth merebut buku tersebut dengan paksa dan dia pun membuka lembaran buku tersebut yang kosong tidak ada tulisan nya.
"Kenapa kosong yaa, tidak ada apa-apa di dalam nya."
Elisabeth pun membuka terus lembaran dari buku tersebut dan tiba-tiba saja Elisabeth seperti melihat lukisan anak perempuan dengan wajah yang penuh darah dan sedang memegang boneka Barbie.
"Ahhhhhh Tidak."
Elisabeth berteriak kencang sambil melemparkan buku tersebut.
"Buang buku itu buang, buku yang sangat menakutkan sekali aku sangat takut."
__ADS_1
Tangan Elisabeth yang tiba-tiba saja bergetar hebat dan Suster Diana mencoba untuk menenangkan pikiran Elisabeth.
"Kenapa kamu harus melemparkan buku tersebut, itu adalah buku kesayangan Putri Belinda."
Mendengar suara teriakan dari kamar Suster Diana, Melinda pun langsung menghampiri nya.
"Ada apa ini,? kenapa kamu berteriak-teriak seperti itu Nak."
Melinda menghampiri Elisabeth dan Elisabeth memeluk erat tubuh Mommy nya.
"Aku tidak suka buku besar itu sangat serem sekali, lebih baik buang saja buku merah itu."
Suster membawa langsung mengambil buku merah tersebut.
"Tidak akan pernah aku buang karena hanya ini saja peninggalan Putri Belinda, dia yang begitu sangat suka dengan buku merah ini."
Melinda pun mengetahui jika buku tersebut adalah buku kesayangan Putri Belinda.
"Buang saja Mommy aku tidak suka Mommy, aku tidak mau melihat buku itu lagi."
Suster Diana merasa sangat emosional sekali dan dia pun berbicara di hadapan Elisabeth.
"Lebih kamu jangan pernah masuk ke dalam kamar ini, karena sampai kapan pun buku ini tidak mungkin akan di buang."
Suster Diana memeluk buku tersebut dan Melinda memaksa Elisabeth untuk keluar dari kamar Suster Diana.
"Lebih baik kita keluar kamar saja yaa sayang, jangan lagi masuk ke dalam kamar Suster Diana."
Seketika Elisabeth pun langsung marah besar kepada Melinda.
"Kenapa Mommy tidak mau membuang buku tersebut, bukan kah Putri Belinda yang sudah meninggal dunia yang tidak akan pernah kembali bangkit. Aku ingin buku itu di buang dan di bakar Mom."
Melinda pun langsung menyeret Elisabeth keluar dari kamar Suster Diana, dan ketika mereka berdua sudah keluar dari kamar nya Suster Diana langsung mengunci pintu kamar nya.
"Ihhhhh, Mommy jahat. Apa yang aku inginkan tidak pernah Mommy lakukan aku benci Mommy."
Regina baru saja pulang dari toko parfume milik Melinda dan dia mendengar perkataan Elisabeth kepada Melinda.
"Kamu tidak bilang apa hah,? Mommy Melinda yang tidak pernah memberikan apa yang kamu inginkan. Apakah kamu hilang ingatan sudah berapa banyak uang yang di keluarkan hanya untuk kamu seorang."
__ADS_1
Regina pun memilih untuk langsung pergi begitu saja dan Elisabeth merasa sangat ketakutan sekali jika mendengar perkataan Regina.
Elisabeth pun memilih untuk pergi ke kamar nya dan Melinda pun sampai menghelakan nafas panjang dengan sikap Elisabeth yang tidak pernah berubah menjadi lebih baik lagi.