
Suster Diana ingin sekali bisa bertemu dengan Melinda, dia ingin melihat kondisi Melinda.
"Dok, aku merasa sudah sangat membaik. Aku ingin bertemu dengan Bu Melinda dia pasti sangat sedih sekali dengan kepergian Putri Belinda."
Suster Diana pun di antar oleh suster yang lain dengan menggunakan kursi roda dia menuju kamar Melinda.
Terdengar suara teriakan Melinda yang terus-menerus memangil nama Putri Belinda, Suster Diana tidak kuasa menahan air mata nya ketika melihat Melinda yang berteriak-teriak histeris memanggil nama Putri Belinda.
Suster Diana mencoba untuk mendekati Melinda dia bangun dari kursi roda nya, dan berjalan pelan-pelan menuju ke dekat Melinda.
"Buuuu, saya juga sangat sedih dan juga tidak percaya kenapa Belinda harus seperti ini."
Suster Diana memegang erat tangan Melinda yang sangat dingin yang.
"Kenapa di saat aku yang ingin bersama dengan nya, hanya satu hari saja aku bisa tidur bersama dengan nya. Aku bisa memeluk erat tubuh mungil nya dan aku merasa sangat menyesal sekali."
Air mata Melinda yang terus-menerus mengalir deras di kedua pipinya.
__ADS_1
"Sekarang, Putri Belinda sudah bahagia. Dia sudah tidak sakit lagi dia bisa berlari-lari tanpa harus merasakan rasa sakit."
Melinda pun semakin menangis histeris ketika dia mendengar perkataan Suster Diana.
"Aku ingin Putri Belinda kembali, terlalu cepat dia pergi dari ku. Hidup ku akan hampa jika tidak ada putri Belinda di hari-hari ku."
Suster Diana memeluk erat tubuh Melinda dan tiba-tiba saja ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan.
"Mohon maaf Ibu, saya ingin memberi tahu kan jika proses pemakaman akan segera di mulai sekarang juga. Jika Ibu Melinda ingin hadir dan menyaksikan sekarang kita bisa segera pergi."
Melinda semakin merasa lemas badan nya, dia pun mencoba untuk menguatkan diri nya sendiri.
Melinda dan Suster Diana pun ikut dengan bapak-bapak tersebut, Melinda mencoba untuk menguatkan diri nya sendiri.
Melinda harus kuat walaupun dia merasa jika Belinda yang masih hidup di hati nya.
"Bu, yang kuat yaa. Kita harus bisa kuat yaa Buu."
__ADS_1
Suster Diana memegang erat tangan Melinda untuk bisa saling menguatkan satu sama lain nya.
"Iyaaa aku akan mencoba untuk bisa kuat."
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan di perjalanan Melinda terus saja mengingat masa-masa indah bersama dengan Belinda.
Sampai di mereka berdua sampai di pemakaman, begitu banyak sekali wartawan yang menghambat Melinda.
Tapi Melinda yang lebih memilih untuk diam dia tidak mau menyampaikan sepatah kata pun.
"Mohon maaf yaa Mbak/Mas, Bu Melinda sangat berduka cita sekali dia tidak bisa untuk di wawancara yaa. Mohon pengertiannya."
Ronny menghampiri Melinda dan Suster Diana, Ronny menjulurkan tangan untuk memegang tangan Melinda tapi Melinda langsung menepis tangan Ronny.
Melinda sangat menyalakan suami nya, karena jika suami nya yang tidak mengajak untuk pergi tidak akan pernah terjadi seperti ini.
"Aku tidak mau memegang tangan yang kotor, aku tidak mau menyentuh nya dan setelah pemakaman ini berakhir aku ingin bicara dengan mu."
__ADS_1
Ronny seketika langsung terdiam ketika mendengar perkataan dari istri nya tersebut dan Suster Diana pun merasa sangat kesal melihat wajah Ronny di hadapan nya.