Belinda Sayang Belinda Malang

Belinda Sayang Belinda Malang
Episode 80.


__ADS_3

Ketika Ronny yang menghawatirkan bisnis nya bangkrut, Melinda yang lebih bahagia karena menyiapkan hari ulang tahun nya untuk Putri Belinda di pantai asuhan.


Beruntung nya Suster Diana yang selalu menyimpan setiap uang yang di berikan Ronny kepada untuk Melinda.


"Suster Diana, kamu memiliki uang dari mana? aku sekarang yang sudah tidak memiliki uang tabungan karena habis oleh Ronny untuk di belikan gedung berhantu itu."


Melinda begitu sangat kesal sekali dengan Ronny dan akhirnya Suster Diana memberitahu total saldo rekening nya.


"Wah, sangat besar sekali. Kamu mendapatkan uang itu dari siapa?."


Melinda seperti di buat tidak percaya oleh Suster Diana.


"Ini adalah uang yang sering Pak Ronny berikan untuk saya Bu, saya simpan karena pada saat Bu Melinda di Rumah Sakit, Dokter Robby yang membayar administrasi nya."


Melinda pun terdiam ketika mengetahui Robby yang membayar semuanya.


"Kapan kita membeli pernak-pernik untuk di bawa ke pantai asuhan, aku sangat tidak sabar sekali."


Suster Diana pun mengajak Melinda untuk membelikan makanan dan juga kue ulang tahun untuk di bawa ke Pantai asuhan.


Walaupun Putri Belinda yang sudah tidak ada tapi Melinda selalu merasakan kehadiran Putri Belinda di hatinya.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil, dan Melinda seperti melihat gadis kecil yang sedang melambaikan tangan nya kepada dirinya.

__ADS_1


Melinda hanya tersenyum dan melambaikan tangan kembali, Suster Diana memperhatikan Melinda dia merasa Melinda yang sedang melihat sosok arwah gadis kecil itu.


Mereka pun melewati gedung parfume milik Ronny, Melinda terus saja memandangi nya.


"Gedung itu akan hancur, dia akan kembali seperti gedung tua yang dulu."


Tatapan mata Melinda yang begitu sangat yakin sekali jika gedung tersebut akan hancur.


"Kenapa Ibu Melinda begitu sangat yakin sekali jika gedung itu akan kembali seperti dulu, sedangkan gedung itu sangat mewah dan kuat sekali."


Melinda hanya tersenyum ketika mendengar perkataan Suster Diana.


"Semakin gedung itu bertahan lama, semakin banyak korban nya."


Melinda memandangi foto Putri Belinda, dia merasa ingin sekali bisa memimpikan Putri Belinda.


"Kenapa sekarang aku yang tidak pernah mimpi Putri Belinda, aku sangat merindukan nya."


Suster Diana pun merasakan hal yang sama dia yang tidak pernah memimpikan Putri Belinda, bahkan sudah tidak pernah.


"Seperti nya Putri Belinda sudah merasa senang di surga sana, dia sudah bahagia sekali."


Suster Diana pun merasa rindu di saat dia yang selalu memeluk Putri Belinda di saat dia tertidur malam.

__ADS_1


"Bu, bagaimana jika kita pergi ke makam Putri Belinda dulu yaa Buu. Sebelum kita membeli persiapan untuk perayaan di pantai asuhan."


Melinda pun mengikuti apa yang di katakan oleh Suster Diana, karena mereka berdua yang sangat merindukan Putri Belinda.


"Aku tidak pernah menyangka jika ketika aku memutuskan untuk tidak bekerja, itu menjadi terakhir kali nya tidur bersama dengan Putri Belinda."


Suster Diana merasa kondisi Melinda yang sudah membaik ketika bertemu dengan Elisa gadis cantik yang menurut nya mirip dengan Putri Belinda.


Mereka berdua akhirnya sampai di tempat pemakaman umum, dan membeli bunga berwarna-warni seperti Putri Belinda yang selalu ceria.


Mereka berdua pun berjalan menuju ke makam Putri Belinda, dan mereka melihat ada ibu di makam Putri Belinda dia menangis.


Suster Diana dan Melinda pun langsung menghampiri ibu tersebut.


"Maaf yaa Buu, kenapa ibu bisa berada di makam anak saya yaa. Dan ibu pun sampai menangis seperti ini?."


Suster Diana menanyakan hal tersebut dan ibu tersebut pun langsung pergi begitu saja sambil menagis.


Melinda dan Suster Diana merasa sangat aneh sekali sebenarnya siapa ibu itu.


"Ini adalah kejadian ke dua kali nya, waktu itu makam Putri Belinda yang sudah di taburi bunga melati sekarang ada seorang ibu yang menangis di depan makam Putri Belinda dan kita tidak mengenal nya."


Suster Diana pun merasa seperti ada sesuatu di balik ini semua.

__ADS_1


__ADS_2