
Melinda masuk ke dalam kamar Elisabet, dia pun melihat Elisa yang sedang cemberut sambil memegang boneka yang pernah dia beli bersama dengan Regina.
"Elisa sayaang, kenapa cemberut seperti itu Nak. Ayo sini kita mewarnai bersama-sama dengan teman-teman kamu di taman yuu."
Melinda memegang tangan Elisa tapi Elisa menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Kenapa sayang tidak mau mewarnai bersama-sama, seru loh pasti nya sayaaaaang kamu bisa mewarnai sambil melihat keindahan alam bersamaan dengan teman-teman."
Elisa tetap saja terdiam dia seperti mengabaikan ucapan Melinda.
"Kamu kenapa sayaaaaang,? kamu sedih ?."
Melinda memegang tangan mungil Elisa dan memandangi wajah cantik nya yang seperti boneka.
"Apakah Ibu Melinda akan mengadopsi ku sebagai anak ibu Melinda,? aku ingin sekali bisa mendengar jawaban langsung dari Ibu Melinda."
Melinda pun seketika langsung terdiam ketika mendengar pertanyaan dari Elisa, dia binggung harus menjawab apa sedangkan posisi nya sekarang dia yang masih mengidap penyakit despresi.
"Elisa, kamu sudah mengetahui semuanya kan ? kamu pernah melihat ibu yang menyeramkan sehingga membuat Elisa lari ketakutan pergi ke luar. Sekarang ibu harus menyembuhkan nya dulu karena pihak panitia asuhan tidak mungkin mengijinkan Ibu untuk bisa mengadopsi kamu yaa, tapi ibu sayaaaaang sekali dengan Elisa setiap ibu melihat Elisa ibu seperti melihat Putri Belinda anak ibu yang sudah meninggal dunia."
__ADS_1
Elisa merasa sangat yakin sekali jika dia bisa menjadi anak yang akan di adopsi oleh Melinda karena dia melihat Melinda yang begitu sangat sayang kepada nya.
Elisa pun mulai bisa tersenyum manis kepada Melinda dan Melinda pun mencium kening Elisa.
"Ayo sayang sekarang kita keluar yaa, berkumpul bersama dengan teman-teman kamu yaa."
Elisa pun akhirnya mau mereka berdua pun bergandengan tangan ketika keluar dari kamar sampai di taman.
Melihat keakraban Melinda dan juga Elisa, Putri Belinda sampai tidak kuasa menahan air mata nya dia menteskan air mata nya.
"Merry kamu kenapa menagis seperti itu,? kamu pasti ingat dengan almarhum Mama kamu yaa."
"Iyaa aku sangat merindukan Mama aku, aku rindu sekali. Aku ingin memeluk Mama ku sekarang."
Merry pun terus saja memandangi Melinda dan juga Elisa, dan dia pun langsung menundukkan kepalanya ketika melihat Suster Diana yang menghampiri nya.
"Merry, kamu sedang mewarnai apa sayaang."
Suster Diana melihat ternyata Merry yang tidak mewarnai melainkan menggambar, Suster Diana melihat gambar Merry yang sangat bagus sekali.
__ADS_1
"Merry kamu menggambar yaa sayaaaaang, bagus sekali sayaaaaang."
Merry hanya terdiam saja ketika mendengar pujian dari Suster Diana.
"Boleh kah gambar nya buat Suster Diana,? Suster ingin membawa nya ke rumah."
Merry pun begitu sangat terkejut sekali ketika mendengar perkataan Suster Diana, dia pun hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil memberikan gambar tersebut.
"Terimakasih banyak yaa sayaaaaang, Suster Diana bahagia sekali."
Melinda melihat jam di tangan nya dia merasa sudah waktunya dia untuk pergi dari pantai asuhan ini.
"Anak-anak, seperti nya Mommy Melinda dan juga Suster Diana harus pulang yaa. Kalian bisa melanjutkan mewarnai gambar di temani oleh ibu-ibu panti asuhan yaa."
Merry melambaikan tangan nya kepada Melinda, dan Melinda pun tersenyum sambil membalas lambaian tangan Merry.
"Hati-hati Mommy Melinda dan Suster Diana."
Lagi-lagi suara Merry yang hanya terdengar oleh dirinya saja.
__ADS_1