Belinda Sayang Belinda Malang

Belinda Sayang Belinda Malang
Episode (164)


__ADS_3

Ronny benar-benar bertanggung jawab dia yang membiayai administrasi dan pemakaman juga, Ronny juga memberikan uang 30 juta untuk keluarga Veronica.


Setelah selesai Ronny memilih untuk tidak kembali ke toko nya dia dan Rizal memilih untuk menenangkan pikiran nya ke cafe.


"Sampai kapan aku bisa mendapatkan kembali Putri Belinda, aku benar-benar menginginkan Putri Belinda. Jika aku mendapatkan Putri Belinda aku sudah tidak akan mempedulikan tentang bisnis Parfume ku ini."


Rasa penyesalan terlihat sangat jelas di wajah Ronny, dia ingin sekali bisa menebus perbuatan yang pernah dia lakukan kepada Putri Belinda.


"Apakah mungkin Putri Belinda masih hidup,? yakinlah itu terjadi? sedangkan Putri Belinda yang harus selalu berurusan dengan pihak kedokteran setiap bulan dan sekarang sudah beberapa bulan ini Putri Belinda pasti tidak akan mendapatkan penanganan medis."


Ronny pun mulai memikirkan ke arah sana, tapi Ronny yang mencoba untuk yakin jika Putri Belinda yang masih hidup.


"Aku yakin Putri Belinda kuat, dan sekarang apa saja informasi yang kamu dapatkan dari Melinda selama kamu mengikuti nya."


Ronny mengharapkan Rizal yang bisa memberikan informasi kepada dirinya.


"Melinda yang pergi ke panti asuhan mungkin hanya itu garis besar nya, karena Melinda yang ingin mengadopsi anak perempuan yang mungkin mempunyai kesamaan dengan Putri Belinda."


Ronny pun seketika berniat untuk mencari Putri Belinda di setiap pantai asuhan.


"Bagaimana jika kita mencari Putri Belinda di pantai asuhan, siapa tahu saja kita bisa menemukan Putri Belinda di pantai asuhan."


Rizal pun merasa setuju dengan keinginan Ronny, karena mereka yang sudah terlalu lelah untuk mencari Putri Belinda di jalanan.


"Baiklah besok kita akan mencari Putri Belinda di setiap pantai asuhan, semoga saja Putri Belinda bisa segera kita temukan."

__ADS_1


Rizal dan Ronny memilih untuk menghabiskan waktu malam nya di cafe tersebut dan memilih hotel untuk tempat mereka berdua beristirahat.


...*Keesokan harinya*...


Elisa terbangun dari tidurnya dia begitu sangat terkejut sekali ketika melihat ada yang memeluknya dari belakang, Elisa menyalakan lampu kamar nya dan dia melihat Melinda yang sedang memeluk nya.


"Mommy Melinda, apakah dia yang masih mengira jika aku ini adalah Putri Belinda."


Elisa dengan perlahan dia turun dari kasur nya, dia berjalan menuju ke kamar mandi karena dia yang tidak mau telat untuk bisa sekolah.


"Aku tidak boleh telat karena hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah."


Suster Diana membuka pintu kamar Elisa, tapi dia tidak melihat keberadaan Elisa.


Suster Diana pun mencoba untuk mencari Elisa dan ternyata Elisa yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kamu sudah mandi,? yasudah ayo kita pakai segaram sekolah kamu."


Suster Diana memakai baju seragam dan dia melihat Melinda yang masih tidur sangat pulas.


"Kita pergi ke sekolah berdua saja yaa, tidak usah membangunkan Mommy Melinda. Suster hawatir dia akan histeris kembali dan kamu pasti akan merasa ketakutan."


Elisa menjadi penurut dia merasa memang lebih aman bersama dengan Suster Diana, mereka berdua pun keluar dari kamar dan menuju ke tempat sarapan.


"Suster Diana, di mana Melinda?. Apakah Melinda masih tidur?."

__ADS_1


Tanya Regina yang begitu sangat menghawatirkan kondisi Melinda.


"Bu Melinda masih tidur dan saya harus mengantar Elisa ke sekolah karena hari ini adalah hari pertama nya sekolah."


Suster Diana memasukkan bekal makanan ke tas Elisa dan Elisa pun bersalaman dengan Regina.


"Jadilah anak yang pintar yaa, jangan pernah kecewakan Mama mu yang sudah memilih mu untuk menjadi anak nya."


Elisa pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dan mereka berdua pun langsung pergi masuk ke dalam mobil.


Suster Diana masih melihat wajah Elisa yang gelisah dan ketakutan.


"Kamu tidak usah hawatir mulai sekarang Bu Melinda tidak akan lagi menganggap kamu sebagai Putri Belinda, dia akan tetap melihat kamu sebagai Elisabeth."


Elisa pun mulai merasa tenang ketika dia mendengar perkataan tersebut dari Suster Diana. Di perjalanan pun Elisa terlihat lebih santai tidak seperti sebelumnya, Suster Diana memang harus bisa belajar untuk menyayangi Elisa seperti Putri Belinda.


Mereka berdua pun akhirnya sampai di depan sekolah Elisa, Suster Diana yang hanya bisa menunggu Elisa di luar gerbang.


"Akhirnya aku bisa merasakan bagaimana rasanya menuggu sekolah, walaupun pikiran ku yang masih saja memikirkan Putri Belinda."


Suster Diana mengeluarkan handphone nya dia melihat kenangan kebersamaan bersama dengan Putri Belinda.


"Tapi kenapa aku yang masih sangat penasaran sekali dengan Merry, aku seperti ingin sekali bertemu dengan nya. Mengobrol dengan nya dan aku juga yang belum pernah melihat wajah nya dengan jelas."


Suster Diana berencana untuk bisa kembali ke panti asuhan, dia benar-benar ingin sekali bisa bertemu dengan Merry, mendengar suara nya yang sangat lembut sekali membuat Suster Diana seperti mendengar suara Putri Belinda.

__ADS_1


__ADS_2