
Dokter Robby merasa sangat kasihan sekali melihat Melinda yang di abaikan begitu saja oleh suaminya, di saat setatus nya yang masih bersuami istri.
Dokter Robby ingin sekali membawa Melinda ke rumah orang tua nya saja, di sini dia yang selalu saja mengingat tentang Putri Belinda.
"Suster Diana saya ingin sekali membawa Melinda ke rumah orang tua nya, karena jika di rumah ini Melinda yang selalu saja mengingat tentang Putri Belinda."
Suster Diana pun berpikiran ke arah sana tapi dia juga tidak memutuskan hal tersebut.
"Lebih baik Dokter Robby bicarakan saja dengan Pak Ronny, karena kita pergi harus dengan ijin Pak Ronny."
Dokter Robby pun berniat untuk bertemu dengan Ronny.
"Baiklah nanti saya bicarakan dengan Pak Ronny, semoga saja dia mengerti dan mau mengijinkan Melinda untuk di bawa ke rumah orang tua nya."
Melihat Melinda yang sudah tidur dengan pulas, Dokter Ronny pun memilih untuk pergi dari rumah Melinda.
"Saya pulang dulu yaa, dia hari sekali saya pasti akan datang untuk melihat perkembangan Melinda."
Suster Diana mengantarkan Dokter Robby keluar dari kamar Melinda dan mereka berdua pun berjalan di depan kamar Putri Belinda.
__ADS_1
Begitu sangat terdengar jelas suara anak kecil yang sedang menangis di dalam kamar tersebut.
Dokter Robby dan Suster Diana pun saling bertatapan dan Suster Diana memilih untuk berjalan lebih cepat.
Dokter Robby ingin sekali membuka pintu kamar tersebut tapi dia tidak berani karena tidak ada Suster Diana.
"Apakah hanya aku yang mendengar suara tangisan itu, dan apakah Suster Diana juga mendengar nya."
Suster Diana menunggu Dokter Robby di depan rumah dia kelihatan sangat gelisah sekali.
"Begitu sangat jelas sekali suara tangisan itu, dan apakah Dokter Robby juga mendengar nya."
Dokter Robby pun akhirnya keluar dari rumah dia langsung menghampiri Suster Diana.
Suster Diana menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Astaga, apa maksud nya ini semua yaa. Kenapa terdengar begitu menyeramkan sekali yaa."
Dokter Robby pun segera masuk ke dalam mobil nya.
__ADS_1
"Jaga baik-baik Melinda, jika bisa hindari dulu kamar Putri Belinda."
Suster Diana menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati Dokter Robby."
Suster Diana pun berjalan kembali menuju ke dalam dia begitu sangat penasaran sekali sebenarnya siapa yang menagis di dalam kamar Putri Belinda.
"Apakah itu adalah suara tangisan Putri Belinda, jika iya apakah benar jika arwah nya yang belum tenang. Padahal dia di kuburan dengan sangat layak sekali."
Suster Diana memilih untuk duduk di sofa sambil menyenderkan tubuhnya yang begitu sangat lelah sekali.
"Apakah Putri Belinda ingin memberitahu kepada kita dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan nya, apakah itu adalah sebuah kecelakaan atau sebuah pembunuhan berencana."
Seketika Suster Diana merasa sangat merinding sekali ketika mengatakan hal tersebut.
"Jika Putri Belinda di bunuh lalu siapa yang melakukan nya,? tidak mungkin Pak Ronny yang melakukan nya karena dia adalah Papa nya Putri Belinda."
Suster Diana selalu saja berpikiran negatif terhadap Ronny, dia juga sempat mendengar perkataan Melinda yang sangat membenci Ronny sampai merobek-robek foto wajah suaminya.
__ADS_1
"Semoga saja apa yang terjadi segera terungkap karena aku merasa sangat kasihan sekali dengan Putri Belinda, arwah nya yang tidak tenang seperti ini."
Suster Diana yang merasa sangat lelah sekali dia sampai ke tiduran di sofa ruang tamu.