Belinda Sayang Belinda Malang

Belinda Sayang Belinda Malang
Episode (123)


__ADS_3

Suster Diana memegang lukisan hasil karya Merry dia merasa sangat senang sekali dan Melinda pun memperhatikan nya.


"Kamu memegang apa itu,? boleh aku melihat nya ?."


Suster Diana pun langsung memberikan hasil lukisan Merry kepada Melinda.


"Lukisan yang indah sekali yaa, dia yang masih kecil tapi sudah bisa melukis sangat rapih sekali."


Suster Diana membuka pintu mobil dan Melinda pun masuk ke dalam mobil tersebut.


"Tapi ntah mengapa Merry itu begitu sangat pemalu sekali dia sampai tidak pernah mau menunjukkan wajah nya kepada ku, dan aku merasa jika dia memilih trauma atau phobia terhadap seseorang."


Melinda pun memberikan lukisan tersebut kepada Suster Diana kembali.


"Tadi Elisa menyendiri di dalam kamar nya, dan dia bertanya apakah aku akan mengadopsi nya sebagai anak."


Suster Diana pun langsung terdiam dan merasa tidak mau mendengar jika Melinda membicarakan tentang Elisa kepada nya.

__ADS_1


"Aku pun merasa binggung untuk menjawab apa pertanyaan tersebut, aku takut memberikan harapan palsu kepada Elisa dengan kondisi ku yang seperti ini."


Suster Diana merasa jika Melinda yang benar-benar menginginkan Elisa sebagai anak nya, Melinda yang kelihatan sedih sampai meneteskan air mata nya.


"Bu, menurut saya terlalu cepat untuk ibu mengadopsi anak. Apalagi semua ini hanya karena Putri Belinda, ingat yaa Buu Elisa itu bukan Putri Belinda dan Elisa itu tidak akan seperti Putri Belinda yaa."


Melinda merasa jika perkataan Suster Diana itu ada benarnya, jika Elisa memang bukan Putri Belinda dan tidak akan pernah menjadi Putri Belinda.


Melinda pun sampai menyenderkan tubuhnya sambil memegang kepalanya.


Melinda kembali mengingat Putri Belinda, dia pun membuka handphone dan melihat potret kebersamaan bersama dengan Putri Belinda.


"Nak, Mama sangat merindukan mu sayang. Hati Mama selalu saja berkata jika kamu itu masih hidup Nak, jika memang kamu masih hidup segera pulang temui Mama dan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."


Melinda terus saja memandangi foto Putri Belinda, dan Suster Diana pun ikut menangis karena dia pun sebenarnya tidak menginginkan Putri Belinda meninggal dunia.


Mereka berdua akhirnya sampai di rumah dan Melinda yang lebih memilih untuk duduk di teras depan rumah nya.

__ADS_1


"Aku ingin di sini, aku tidak mau masuk ke dalam pikiran ku sangat berat sekali. Aku yang sedang memikirkan Putri Belinda."


Suster Diana pun membiarkan Melinda duduk di depan teras depan memejamkan nya, udara di depan rumah yang sangat sejuk membuat Melinda merasa lebih tenang pikiran nya.


Suster Diana pun memilih untuk membuatkan teh hijau untuk Melinda, agar Melinda yang jauh lebih tenang.


Tapi Suster Diana yang masih memegang lukisan hasil Karya Merry, dan dia pun memilih untuk masuk ke dalam kamar nya untuk menyimpan lukisan tersebut.


"Aku menyimpan nya di dekat buku merah saja."


Suster Diana menyimpan lukisan tersebut di atas buku merah dan ketika Suster Diana mau keluar membuka pintu buku merah itu tiba-tiba saja jatuh dengan membuka lembaran yang baru.


Suster Diana pun langsung mengambil buku tersebut dan membaca halaman yang terbuka.


*Aku akan selalu mengambil teman untuk bermain bersama dengan ku, jika dia belum bisa menemukan tubuh ku*


Suster Diana pun langsung menutup kembali buku merah tersebut dan menyimpan nya.

__ADS_1


__ADS_2