
Suster Diana menghampiri kamar Melinda dia yang ingin menanyakan tentang rencana besok udah datang ke pantai asuhan, Suster Diana mengetuk pintu kamar Melinda dan Melinda pun membukakan pintu kamar nya.
"Suster Diana silahkan masuk ke dalam."
Suster Diana pun masuk ke dalam dia melihat wajah Melinda yang seperti sangat lelah sekali.
"Bu, saya ingin bertanya apakah besok kita jadi untuk pergi ke pantai asuhan. Karena kita sudah mempunyai niat untuk pergi ke sana di hari Minggu untuk membagikan produk Parfume terbaru kita Elisabeth Parfume."
Melinda pun lupa dengan rencana tersebut, dia yang belum menyiapkan Parfume tersebut.
"Aku belum menyiapkan Parfume tersebut dalam bentuk dus seperti sebelumnya, mungkin nanti pagi aku akan menghubungi Febrian untuk menyiapkan semuanya."
Suster Diana pun memilih untuk pergi dari kamar Melinda karena dia merasa sudah menyampaikan semua nya.
"Baiklah Bu, saya permisi pergi untuk beristirahat."
Suster Diana menutup rapat pintu kamar Melinda dan Melinda pun merasa sangat pusing sekali ketika dia melihat penurunan pendapatan nya.
"Kenapa penjualan ku menjadi menurun drastis seperti ini yaa, aku merasa ketika nama Parfume yang berganti menjadi Elisabeth Parfume."
Melinda sampai menghelakan nafas panjang nya dia pun membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Melinda tidak boleh sampai mempunyai pikiran yang negatif terhadap nama Elisabeth Parfume, ini adalah sebuah bisnis yang ada kalanya turun naik."
Melinda pun mencoba untuk memejamkan mata nya dia benar-benar merasa sangat capek sekali dia ingin bisa tidur dengan nyenyak.
Di sisi lain ketika Melinda yang memikirkan nama produk Parfume nya, Merry dia merasa sangat terharu sekali ketika dia melihat di televisi Papa nya yang menganti nama Parfume nya dengan Putri Belinda Parfume.
"Dulu aku selalu saja berpikir jika Papa itu sangat jahat sekali, dia yang ingin melenyapkan nyawa ku. Tapi ternyata aku sekarang mendapatkan rasa kecewa dari Mama, Mama mengganti nama Parfume Belinda menjadi Elisabeth Parfume. Sekarang Mama benar-benar sudah melupakannya aku, mungkin aku akan tinggal selama nya di pantai asuhan ini."
Merry menarik selimut nya, dia membayangkan dulu setiap dia tidur selalu di bacakan dongeng oleh Suster Diana.
"Apa kabar yaa buku merah itu, apakah masih ada di rumah. Aku sangat merindukan nya, aku ingin sekali Suster Diana bisa membacakan kembali buku merah tersebut."
Merry pun mulai memejamkan mata nya, tapi tiba-tiba membuka nya kembali. Dia mengingat jika besok adalah hari Minggu dan Om Rizal akan membawa nya ke suatu tempat.
"Aku melupakan nya, aku harus segera tidur nih dan besok bangun pagi agar Om Rizal datang aku sudah siap."
__ADS_1
Merry begitu sangat bersemangat sekali dia pun langsung mematikan lampu kamar nya.
***Keesokan harinya***
Pagi-pagi sekali Suster Diana yang sudah mengetuk pintu kamar Elisabeth, dia masuk ke dalam dan melihat Elisabeth yang masih tidur.
"Seperti dia melupakan hari ini dia akan pamer ke teman-teman yang ada di pantai asuhan, Elisabeth kamu masih kecil tapi permasalahan mu sudah sangat banyak sekali."
Suster Diana membuka gorden jendela kamar nya, agar matahari dan udara segar masuk ke dalam kamar dan Elisabeth pun akhirnya terbangun dari tidurnya.
"Hmmmm, ini kah hari libur. Kenapa harus bangun sepagi ini sih. Menyebalkan sekali."
Elisabeth merasa tidak terima dia yang di bangunkan sepagi ini di hari libur.
"Bukan kah hari minggu itu waktu nya kita pergi ke pantai asuhan, untuk bisa pamer produk Parfume terbaru dengan nama Elisabeth Parfume."
Elisabeth pun langsung terbangun dan dia berlari menuju ke kamar mandi.
"Astaga cepat sekali dia bersemangat kalau sudah dengan yang namanya pamer."
Suster Diana menyiapkan baju yang akan di pakai oleh Elisabeth, dia pun memilih untuk pergi menyiapkan sarapan pagi nya.
"Suster Diana, selesai sarapan pagi kita berdua langsung pergi ke Bogor. Tolong sampaikan kepada Melinda yaa."
Suster Diana pun menganggukkan kepalanya sambil pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan Elisabeth.
Elisabeth yang sudah siap dia melihat di ruangan makan yang hanya ada Omah dan Opah nya saja.
"Tidak ada Mommy, itu sangat menyeramkan sekali. Lebih baik aku ke kamar Mommy saja."
Elisabeth membuka pintu kamar dia melihat Mommy Melinda yang sudah tidak ada di tempat tidur nya, Elisabeth merasa jika Mommy nya yang sedang mandi.
"Oke lebih baik aku menunggu di sini saja."
Elisabeth pun duduk dan dia mendengar suara handphone yang berdering kencang sekali, Elisabeth melihat handphone Mommy yang di simpan di atas bantal.
"Lebih baik biarkan saja, itu seperti sangat penting sekali untuk Mommy."
__ADS_1
Melinda pun akhirnya selesai mandi dan dia pun langsung mengambil handphone nya yang berdering kencang.
*Hallo Febrian*
*Bu Melinda saya ingin menitipkan sesuatu untuk bisa di bawakan ke pantai asuhan, saya ingin memberikan sedikit yang saya punya*
*Baiklah Febrian, tapi Febrian saya lupa belum menyiapkan Parfume tersebut dalam bentuk box. Kamu bisa membantu saya kan*
*Bisa Bu, kebetulan sekarang toko yang lumayan sepi jadi saya yang tidak punya banyak pekerjaan*
*Hari libur toko sepi yaa, yasudah sebelum saya pergi ke pantai asuhan saya pasti akan di toko*
Elisabeth melihat ekspresi wajah Melinda yang merasa sangat sedih ketika mengetahui toko yang sepi di hari libur.
"Mommy kenapa Mommy sedih seperti itu."
Elisabeth menghampiri Melinda dia memeluk erat tubuh Melinda.
"Tidak sayaaaaang, Mommy tidak sedih kok sayaaaaang. Sekarang ayo kita sarapan pagi dan setelah itu kita pergi ke pantai asuhan, kamu pasti sudah sangat merindukan teman-teman kamu di sana."
Elisabeth hanya terdiam saja dia tidak sama sekali merindukan teman-teman nya, Elisabeth yang ingin memberitahu kepada teman-teman jika dia yang begitu sangat bahagia sekali bisa menjadi anak adopsi yang kaya raya.
Melinda pun memilih untuk merias wajah nya terlebih dahulu, dan Elisabeth berada di samping nya.
"Mommy cantik sekali."
Elisabeth memuji kecantikan Mommy nya.
"Terimakasih sayaaaaang, tapi anak Mom jauh lebih cantik."
Selesai makeup mereka berdua pun keluar dari kamar dan Elisabeth, merasa sangat senang sekali karena dia tidak melihat Omah dan Opah nya.
"Ayah dan ibu kenapa sudah tidak ada yaa."
Melihat Melinda bersama dengan Elisabeth, Suster Diana pun langsung menghampiri mereka berdua.
"Ibu Regina dan Pak Arief mereka berdua pergi ke Bogor, tapi mereka berdua sarapan pagi terlebih dahulu."
__ADS_1
Melinda merasa jika orang tua nya lebih memilih untuk tidak diam di rumah, mereka memilih untuk selalu pergi.
'