Belinda Sayang Belinda Malang

Belinda Sayang Belinda Malang
Episode *288*


__ADS_3

Di perjalanan menuju ke toko Putri Belinda teringat dengan rencana Omah nya yang mau mengajak anak-anak untuk pergi ke permainan anak.


"Omah aku pulang dulu yaa, dan rasa acara untuk besok lebih baik tidak usah jadi saja Omah karena kan Elisa yang sedang di rawat di Rumah Sakit."


Omah Regina pun tersenyum melihat begitu sangat baik hati nya Putri Belinda.


"Baiklah Sayaaaaang, omah sekarang kembali ke kantor Mama Melinda yaa."


Putri Belinda pun langsung masuk ke dalam toko seperti yang sudah dia rencanakan, Putri Belinda yang tidak akan memberitahu kepada Om Rizal dan juga Papa nya.


"Papa aku sudah pulang aku langsung ke kamar yaa Papah."


Putri Belinda langsung berlari menuju ke kamar dia pun langsung menutup rapat pintu kamar nya.


Putri Belinda langsung terdiam dia pun membuka jendela kamar dan memandangi indah nya pemandangan tersebut.


Hantu Merry pun datang dia dengan wajah yang tidak seperti biasanya wajah nya terlihat bahagia pucat sekali.


"Belinda sayang Belinda malang."


Hantu Merry mengatakan hal tersebut kepada Putri Belinda.


"Sampai kapan yaa Elisabeth selalu saja seperti ini kepada ku, padahal kan aku selalu mencoba untuk baik dengan nya."


Belinda berjalan menuju ke sofa yang berada di dekat tempat tidur nya.


"Dia sangat serakah dan sifat itu selalu ingin menguasai semua nya jadi dia tidak akan pernah mempunyai sifat merasa puas dengan dirinya sendiri."


Belinda memandangi wajah hantu Merry yang pucat menjadi banyak darah, Belinda merasa sangat ketakutan sekali dia sampai menutup mata nya dan hantu Merry pun segera pergi meninggalkan Putri Belinda.


Ketika Putri Belinda mulai membuka mata nya tiba-tiba saja hantu Merry itu pergi.


***


Melinda begitu sangat sibuk sekali dengan Febrian sampai dia tidak sempat untuk membuka handphone nya.

__ADS_1


Febrian ingin membuat Melinda jauh lebih tenang ketika berada di Bali bersama dengan nya, dan sedikit melupakan Elisabeth yang selalu membuat nya hipertensi.


Febrian mengambil handphone Melinda.


"Bisakah kamu simpan dulu handphone ini sampai malam saja sekarang kamu menikmati indahnya pantai yang ada di hadapan mu ini, agar kamu bisa lebih segar kembali."


Febrian pun memasukkan handphone Melinda ke dalam jas nya dan dia melihat Melinda yang sampai berteriak-teriak di tepi pantai seperti meluapkan perasaan nya.


Febrian pun merasa senang ketika Melinda yang bisa melampiaskan semua yang ada di pikiran nya dengan sebuah teriakkan nya.


Karena di saat Melinda kembali ke Jakarta dia akan di hadapan kan dengan kasus perceraian dan juga dengan Putri Belinda.


Melinda pasti akan bertemu dengan Putri Belinda, karena di saat sidang perceraian itu. Ronny pasti menunjukkan Putri Belinda sehingga membuat Melinda merasa harus memilih.


Di saat dia berpisah dengan suaminya dia tidak akan bisa bersama dengan Putri Belinda dan di saat Melinda bisa mendapatkan Putri Belinda dia harus berhadapan dengan Elisabeth. Karena Elisabeth yang tidak mungkin mau menerima kehadiran Putri Belinda.


Handphone Melinda yang terus menerus berdering kencang dan Febrian melihat ternyata itu adalah panggilan telephone masuk dari Elisabeth.


Febrian pun memilih untuk mengabaikan panggilan telephone dari Elisabeth, Elisabeth yang bisa menggangu.


Suster Diana sampai menghelakan nafas panjang nya.


"Elisabeth, apakah setiap apa yang di katakan oleh Suster Diana tidak kamu dengar apa kamu memang tidak mendengar nya."


Suster Diana pun lebih memilih untuk keluar dari ruangan Elisabeth dia lebih memilih duduk di kursi depan ruangan.


"Hmmmm, aku kan ingin Mommy Melinda tahu jika aku yang sedang berada di rumah sakit karena Putri Belinda."


Elisabeth pun menyimpan handphone nya dan ternyata waktu nya untuk makan, Suster Diana kembali masuk ke ruangan untuk menyuapi Elisabeth dan memberikan obat.


"Setidaknya jika sudah makan dan minum obat dia akan tidur dan tidak membuat aku pusing dengan perkataan nya."


Suster Diana langsung menyuapi Elisabeth dengan sangat lahap sekali dia makan nya.


"Aku lebih suka di Rumah Sakit dari pada di sekolah harus bertemu dengan Putri Belinda yang menyebalkan."

__ADS_1


Suster Diana hanya bisa terdiam saja dengan apapun yang di katakan oleh Elisabeth, selesai makan Elisabeth pun langsung di berikan obat oleh Suster Diana.


"Sekarang dari pada kamu banyak bicara lebih baik kamu istirahat yaa, supaya luka ini cepat sembuh yaa dan kamu keluar dari rumah sakit ini."


Suster Diana menuggu Elisabeth di sebelah nya dan dia melihat Elisabeth yang sudah mulai mengantuk akhirnya Suster Diana bisa beristirahat dari Elisabeth.


Suster Diana mengambil handphone Elisabeth agar tidak menggangu waktu nya dia untuk beristirahat.


Suster Diana pun memilih untuk membaca buku sampai menunggu Elisabeth bangun dari tidur nya.


"Pasti sebentar lagi Bu Melinda langsung menelephone Elisabeth karena panggilan telephone dan video call yang di tidak terjawab oleh Bu Melinda."


Suster Diana pun merasa jika dirinya yang sangat lelah dan akhirnya Suster Diana tidak kuat untuk menahan rasa ngantuk, Suster Diana pun langsung tertidur pulas di sofa.


Melinda yang sudah merasa puas dia pun langsung mengambil handphone nya dia melihat ada panggilan telephone masuk dari Elisabeth.


"Apakah ini sudah waktunya jam pulang sekolah yaa, tapi sepertinya ini juga jam nya Elisabeth tidur siang setelah pulang sekolah."


Melinda pun memilih untuk menghubungi nomer handphone Suster Diana tapi ternyata tidak ada jawaban.


Dan Febrian memperhatikan Melinda yang terus menerus menghubungi Suster Diana.


"Seperti nya Suster Diana itu dia sedang beristirahat juga, sudahlah jangan menggangu waktu istirahat nya."


Febrian pun langsung menarik tangan Melinda untuk menikmati makanan yang sudah dia pesan.


"Kita nikmati saat-saat bersama di sini, karena belum tentu juga kita berdua akan bersama seperti ini."


Febrian meragu kan jika dirinya bisa bersama dengan Melinda karena yang dia sukai itu adalah Putri Belinda bukan Elisabeth.


"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu, kita yang akan selalu bersama. Karena setiap hari di kantor kita selalu berdua, aku tidak mau kamu meninggalkan aku Febrian, aku merasa sangat nyaman sekali bisa bersama dengan kamu sekarang dan selamanya."


Melinda seperti sudah yakin sekali dengan keinginan bisa bersama selalu dengan Febrian, dia yang sudah mantap untuk bercerai dengan Ronny.


"Semoga saja yaa kita bisa selalu bersama, karena bagaimana pun juga takdir yang menentukan semuanya."

__ADS_1


Melinda pun seketika langsung terdiam ketika mendengar perkataan tersebut.


__ADS_2