Belinda Sayang Belinda Malang

Belinda Sayang Belinda Malang
Episode 44.


__ADS_3

Ronny ingin sekali melihat hasil dari pekerjaan para pegawai untuk membangun gedung untuk toko nya yang ke 7.


Ronny melihat gedung tersebut yang sangat tinggi dan luas sekali, dia tidak menyangka bisa mendapatkan gedung yang sampai 3 lantai untuk bisnis Parfume nya.


"Sekarang aku ingin mencari nama yang cocok untuk menganti nama Parfume ku yang sebelumnya, Putri Belinda sudah tidak ada dan aku harus mengantikan dengan nama yang baru."


Ronny terus memandangi gedung tersebut dia sudah tidak sabar ingin sekali segera melakukan pembukaan untuk gedung tersebut.


Setiap orang yang berjalan di depan gedung tersebut mereka merasa aneh kenapa gedung yang jelas-jelas sudah tua harus di rapikan kembali.


"Bukankah banyak sekali kejadian aneh di gedung itu, sampai banyak korban jiwa karena kejadian tersebut."


Perkataan orang-orang yang ada di sekitar Ronny tidak dia dengarkan sama sekali dia hanya ingin fokus dengan bisnis nya ini.


"Seperti nya dua mingguan lagi gedung ini akan selesai dan seperti aku akan lebih fokus pada Gedung yang paling besar diantara yang lain nya."


Ronny pun memilih untuk meninggalkan tempat tersebut, karena banyak sekali yang harus dia selesaikan.


Ronny berniat untuk mengubah semua kekuasaan menjadi milik nya dan Melinda tidak bisa ikut campur lagi dalam bisnis.


Ronny menginginkan 7 cabang tersebut menjadi milik dirinya dia memanfaatkan kesempatan di saat Melinda yang sedang seperti ini.

__ADS_1


"Melinda maafkan aku, tapi aku melakukan ini agar bisnis kita selalu berjalan dengan mulus. Kamu sekarang yang sedang despresi sudah tidak mungkin bisa untuk memajukan perusahaan kita ini."


Ronny membereskan berkas-berkas tersebut tanpa sepengetahuan Melinda, Ronny dengan sangat serakah dia mengambil alih perusahaan itu menjadi miliknya.


"Selesai sudah aku mengalihkan semuanya hanya untuk ku, dan sekarang aku yang akan melakukan iklan dengan pengantin nama produk Parfume ku ini menjadi Romeo Parfume bukan lagi Belinda Parfume."


Ronny benar-benar tidak mempunyai perasaan terhadap Melinda, dia seperti membuang istri nya begitu saja.


Di saat Ronny yang sedang berjuang dengan keserakahan nya di sisi lain, Suster Diana menginginkan Melinda untuk di rawat di rumah saja dengan harus rutin mengonsumsi obat-obatan dari Dokter.


Robby merasa sangat hawatir sekali melihat kondisi Melinda setelah kehilangan Putri Belinda dia menjadi seperti ini.


Suster Diana pun terdiam dan dia pun menyimpulkan jika hubungan Ronny yang tidak baik dengan keluarga Melinda.


"Maafkan saya Dokter, saya melihat hubungan Bu Melinda dengan suaminya sedang tidak baik, begitu juga hubungan Pak Ronny dan Orang tua Bu Melinda yang saya lihat di saat hari kepergian Putri Belinda. Jika saya memberitahu kepada orang tua Bu Melinda saya takut Pak Ronny marah kepada saya."


Robby pun terdiam ketika mendengar perkataan Suster Diana, apalagi jika Ronny mengetahui jika dirinya itu adalah mantan kekasih Melinda pilihan orang tua nya.


"Ya, saya mengerti. Tolong jaga Melinda dengan baik yaa di rumah. Hindari Melinda dari benda-benda tajam yang berbahaya dan jangan lupa untuk memberikan obat secara teratur kepada Melinda."


Melihat Melinda yang sedang tertidur pulas karena efek obat penenang, Robby pun memegang tangan Melinda.

__ADS_1


"Melinda kamu adalah wanita yang kuat, ayolah sembuh jangan seperti ini yaa. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan, Putri Belinda pasti sudah bahagia."


Suster Diana melihat ucapan kata yang sangat tulus sekali, dia merasa jika Melinda yang mempunyai hubungan spesial dengan Dokter Ronny sebelumnya.


Dokter Ronny pun keluar dari ruangan tersebut dan Suster Diana menghampiri Melinda.


"Nanti sore kita pulang yaa Buu, sekarang saya yang harus fokus mengurusi ibu. Semoga ibu bisa pergi cepat pulih kembali."


Suster Diana terus saja memperhatikan Melinda dia memegang erat tangan Melinda dan lagi-lagi Melinda memanggil nama Putri Belinda.


"Putri Belinda sayaaaaang, kamu di mana Nak. Pulang sayaaaaang pulang. Ibu sangat merindukan mu Nak."


Suara Melinda terdengar sangat bergetar sekali dan dia pun mulai gelisah, Suster Diana mencoba untuk menenangkan Melinda.


"Bu, jangan seperti ini yaa. Ibu harus bisa mengendalikan emosi ibu yaa. Putri Belinda sudah tidak ada Bu jangan lagi mencari keberadaan Putri Belinda."


Melinda pun terbangun dari tidurnya dia pun langsung memandangi wajah Suster Diana, dan Suster Diana memeluk erat tubuh Melinda.


"Saya tidak mau ibu seperti ini, saya mau ibu seperti dulu lagi Buu. Nanti Sore kita pulang ke rumah yaa semoga kondisi ibu semakin lebih baik lagi yaa Buu."


Pelukan erat Suster Diana membuat Melinda terdiam.

__ADS_1


__ADS_2