
Melinda akhirnya sampai dengan selamat, dia pun masuk ke dalam rumah dan ternyata orang tua nya yang sudah berkumpul.
"Selamat malam semuanya, maafkan aku datang telat yaa."
Melinda pun duduk di samping Ibu nya dan Regina melihat wajah Melinda yang semakin hari semakin segar.
"Melinda Ibu rasa sekarang kamu yang jarang sekali despresi yaa, terlihat sangat nyata sekali kamu seperti dulu."
Melinda pun mengambil handphone nya untuk melihat wajah nya.
"Hmmmm, tidak ada yang berubah semuanya sama seperti biasanya."
Melinda kembali menyimpan handphone nya dan dia pun mulai menikmati makanan yang ada di hadapannya.
"Melinda lebih baik besok usahakan kamu bertemu dengan Robby, untuk membicarakan tentang penyakit mu ini."
Melinda pun berpikir jika kondisi nya yang membaik maka kesempatan dia untuk mengadopsi Elisa semakin nyata.
"Iya Bu, besok aku akan datang menemui Robby di Rumah Sakit. Aku berharap besar dengan kondisi ku yang sudah membaik membuat aku bisa segera mengadopsi Elisa."
Regina seketika dia pun langsung terdiam ketika mendengar keinginan Melinda, Regina merasa jika dirinya yang tidak menyukai Elisa.
Suster Diana yang berada di samping Melinda dia langsung pergi karena Suster Diana yang tidak menyukai Elisa.
"Terserah kamu saja Melinda, tapi apakah sudah yakin dengan pilihan mu itu. Kamu tetap ingin mengadopsi Elisa tidak ingin yang lain."
Melinda menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tidak Bu, sejak awal aku sudah jatuh cinta pada Elisa dan aku yakin sekali akan mengadopsi Elisa secepatnya jika Robby mengatakan aku yang sudah sembuh dari penyakit ku ini."
__ADS_1
Regina dan suami tidak bisa berbicara apa-apa lagi semua mereka serahkan kepada Melinda.
"Aku sudah selesai makan nya Bu, aku langsung ke kamar yaa. Aku sangat lelah sekali."
Melinda pun memilih untuk pergi ke kamar nya dan mulai lah Regina dan Arief membicarakan keinginan Melinda.
"Awalnya aku sangat menyukai anak itu dia yang begitu sangat manis sekali tapi ntah mengapa aku merasa tidak suka kepadanya ketika anak tersebut datang ke rumah ini dan melihat Melinda yang sedang kambuh despresi nya, anak itu memilih untuk pergi begitu saja tanpa ingin menghampiri Melinda."
Tapi kembali lagi dengan Melinda mereka berdua tidak bisa melakukan apapun lagi.
"Yasudah bu, sekarang lebih baik kita doakan yang terbaik untuk pilihan Melinda, kehilangan Putri Belinda membuat Melinda seperti hilang kehidupan nya. Sekarang lebih baik kita doakan yang terbaik untuk Melinda."
Suster Diana yang mendengar percakapan antara Regina dan Arief pun dia berpendapat sama dengan Regina.
"Bagaimana ini, aku sedikit pun tidak mempunyai perasaan terhadap anak itu."
Suster Diana memilih untuk memberikan obat ke kamar Melinda.
"Bu, ini adalah obat terakhir ibu."
Suster Diana memberikan obat penenang tersebut kepada Melinda.
"Terimakasih banyak Suster Diana, ohhh iya Suster Diana masukkan ada yang ingin aku bicarakan."
Suster Diana masuk ke dalam Melinda, dan Melinda pun menutup rapat pintu kamar nya.
"Duduklah Suster Diana, aku mau meminum obat terakhir ku dan semoga saja aku tidak akan meminum obat ini lagi."
Melinda meminum obat nya dan Suster Diana merasa sangat gugup sekali apa yang akan di bicarakan oleh Melinda kepada nya.
__ADS_1
"Suster Diana, besok kamu temani aku yaa ke Rumah Sakit. Aku ingin sekali bertemu dengan Robby, aku ingin mengetahui perkembangan penyakit ku ini karena aku yang sudah tidak sabar ingin mengadopsi Elisa."
Suster Diana pun seketika dia langsung terdiam, dia harus menerima kenyataan jika dia akan mengurus Elisa.
"Dan jika aku bisa mengadopsi Elisa, aku mohon lihat Elisa seperti kamu melihat Putri Belinda. Sayang dia seperti kamu menyayangi Putri Belinda, karena kenyataannya Putri Belinda memang tidak akan pernah kembali ke dalam keluarga kita."
Suster Diana pun mencoba untuk menenangkan pikiran dan dan membuang pikiran negatif terhadap Elisa.
"Iya Bu, saya akan mencoba untuk menjadi Suster yang baik untuk Elisa. Saya akan mengurus Elisa seperti Putri Belinda."
Melinda merasa sangat terharu sekali ketika mendengar perkataan Suster Diana.
"Terimakasih banyak Suster Diana, kamu memang Suster yang terbaik. Yasudah sampai ketemu besok yaa sekarang kamu bisa kembali ke kamar kamu yaa untuk beristirahat."
Tanpa berkata apa-apa, Suster Diana pun langsung pergi dari kamar Melinda. Suster Diana menutup rapat pintu Melinda dan menyandarkan tubuhnya di depan pintu kamar Melinda sambil memejamkan mata nya.
"Diana kamu harus bisa lihat dia seperti Putri Belinda maka kamu akan sayang dengan nya."
Suster Diana pun berjalan menuju ke kamar nya, dia membuka pintu kamar nya dan menghampiri foto Putri Belinda.
"Sayaaaaang, jika Elisa datang ke rumah ini. Maka percayalah dia bukan pengganti mu, dia hanya pelampiasan Mama mu saja tetap kamu kesayangan Suster Diana dan juga Mama Melinda."
Suster Diana memeluk erat foto Putri Belinda, dia pun merasa sangat merindukan sekali kehadiran Putri Belinda.
"Datang di mimpi Suster yaa sayaaaaang, walaupun itu hanya sebentar tapi Suster sangat ingin memeluk mu sayang."
Suster Diana membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur dengan tangan yang masih memeluk erat foto Putri Belinda.
"Melihat Putri Belinda seperti melihat anak ku sendiri, dan jika waktu bisa di putar lebih baik aku membawa Putri Belinda kabur dari rumah dari pada harus mengikuti keinginan Papa nya. Mungkin tidak akan pernah ada kecelakaan maut itu."
__ADS_1
Suster Diana memejamkan mata nya.