Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 99


__ADS_3

"Hai!" sapanya dengan senyum yang menyeringai membuat Lily menunduk takut. Lalu sedetik kemudian Lily mengangkat wajahnya dengan senyum kikuk.


"Mas Adit?!" Adit menahan pintu itu dengan tangannya .


"Kok mas Adit disini? Ada apa? Lebih baik mas Adit pulang. Udah malam, gak enak kalau di lihat tetangga!" ucap Lily sedikit mendorong tubuh Adit.


Adit tidak peduli. Dia melangkah masuk, tapi terhenti karena di hadang Lily, begitu juga langkah selanjutnya. Lily sangat takut jika Adit melihat Bima yang tertidur di sofa.


"Mas mau apa?" tanya Lily khawatir. Dia sendiri bingung kenapa Adit bisa ada di rumahnya, dan Lily takut hubungannya dengan Bima tercium Adit.


Adit tetap melangkah masuk meski tangannya di tarik Lily. Tenaga Lily sama sekali tidak ada apa-apanya di banding tenaga dari ototnya yang kekar. Lily terseret maju karena tidak mau melepas lengan Adit.


"Bisa kamu jelaskan?!" Mereka berhenti di dekat sofa tempat Bima tertidur nyenyak. Lily menunduk takut. Tatapan mata Adit berkilat penuh rasa marah. Dia tidak menyangka Bima dan Lily, ternyata...


"Bagaimana ini?" tanya Lily dalam hati.


"Apa kalian..."


"Gak mas. Mas Adit salah faham!" potong Lily. Lily seperti tahu apa yang akan di ucapkan Adit. Mata Lily mulai berkaca-kaca membuat Adit tidak jadi meneruskan kata-katanya.


"Oke. Kalau gitu jelasin semua sama aku!" Lily mengangguk patuh.

__ADS_1


"Tapi sebelum itu..." Lily terdiam memainkan ujung bajunya dengan kedua tangan hingga kusut. "Mas Bima, tolong di pindahin ke kamar." ucap Lily. Adit menghela nafas kasar.


Bima sudah di pindahkan ke kamar.


"Anu mas... sekalian tolong bukain baju mas Bima juga ya." Kening Adit mengkerut, bingung. Kenapa harus dirinya yang membuka baju Bima. Bukankah mereka...


"Udah di bukain bajunya mas?" tanya Lily saat Adit duduk di depannya. Adit hanya diam. Dia menatap Lily tajam dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada. Mereka berdua terdiam, tidak ada yang berbicara.


"Lily." Adit akhirnya.


"Iya."


"Kamu dan Bima..."


"What?!" seru Adit terkejut, hampir terlonjak dari kursinya.. "Menikah? Kalian?" Lily mengangguk. "Oh My God!" Adit meremas rambutnya. Pupus sudah harapannya mendapatkan cinta Lily. Hatinya hancur seperti bongkahan es yang jatuh ke lantai berserakan dan mencair. Adit terduduk lemas dengan punggungnya yang tertahan sandaran kursi. Sedangkan Lily menatap Adit dengan rasa bersalah. Harusnya dia jujur selama ini supaya Adit tidak berharap kan?


"Maaf, mas. Harusnya Lily bilang sama mas Adit, tapi..."


"Kok bisa?" tanya Adit memotong ucapan Lily. Adit menatap ke bawah ke arah perut Lily.


"Mas Adit jangan mikir macam-macam!" ucap Lily sambil melambaikan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Bima dan Dena, mereka masih bareng kan? Apa kamu WIL-nya Bima, tapi gak mungkin, Bima itu tipe yang setia...."


"Mas Adit stop deh!" teriak Lily kesal. "Tadi minta di jelasin kan? Kok sekarang Mas Adit yang ngira-ngira?!" bibir Lily mengerucut dengan tangan yang ia lipat di depan dada. Lucu dan manis menurut Adit meskipun sekarang ini hatinya sangat hancur.


Lily bangun dari duduknya dan hendak melangkah.


"Katanya mau jelasin. Kok pergi?!" protes Adit.


"Lily haus. Mau ambil minum. Emang mas Adit gak haus gitu nyerocos terus dari tadi?!" kesal Lily lalu pergi tanpa menghiraukan Adit yang akan bicara.


Adit tidak sabar. Dia mengikuti Lily ke dapur, lalu duduk di meja makan.


"Mau minum apa?"


"Kopi. Yang pahit!" ucap Adit dingin.


Kening Lily mengkerut, heran karena Adit sebenarnya tidak bisa minum kopi. Adit punya asam lambung dan kopi akan membuat asam lambungnya kumat.


"Mas Adit gak boleh minum kopi kan!"


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


Adit sedang merajuk kah? Lily menggelengkan kepalanya.


"Kopinya habis. Lily belum belanja. Air putih aja. Biar sehat!" ucap Lily sama dinginnya karena kesal.


__ADS_2