Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 178


__ADS_3

Bima masih dengan mimpimya yang sama. Entahlah. Selama Lily belum di temukan mungkin Bima memang belum bisa tenang.


"Maaf Una." ucap Bima pada foto pernikahan nya bersama Lily. Foto dengan bingkai yang lebih indah daripada sebelumnya, tapi tentu tak seindah hatinya beberapa tahun ini.


"Kamu dimana? Kalau saja kamu ada disini tentu aku gak akan bersama orang lain. Aku terpaksa Na, perusahaan ku down. Mungkin ini karma karena aku menyakiti hati kamu. Dan aku juga merasa bertanggung jawab dengan semua karyawanku. Mereka akan kehilangan pekerjaan. Aku akan lebih menderita lagi karena membuat hidup orang lain semakin sulit."


Bima kembali ke ranjangnya, mengambil sebuah kertas berbentuk segiempat berwarna merah, lalu melipatnya dengan perlahan. Origami burung kertas yang Bima buat selama ini sudah di pastikan lebih dari seribu, mengingat hampir setiap malam ia membuatnya, selama hampir empat tahun ini.


Mungkin hanya mitos jika membuat seribu burung kertas maka permintaannya akan di kabulkan, tapi selain itu Bima juga melakukannya karna merindukan sosok Lily yang begitu menyenangkan. Apalagi saat dia marah, berteriak dengan wajah yang memerah.


Bima tersenyum miris pada dirinya sendiri. Aku bodoh!


Selalu itu yang dia ucapkan.

__ADS_1


***


Lily, dan Azka sedang bersiap tentunya dengan Yumna yang sudah sangat cantik dengan dress bunga berwarna senada dengan sang ibu.


"Mas, aku takut!" ucap Lily, sedangkan Yumna hanya menatap sang ibu yang masih terdiam, lalu menatap Azka yang sudah ia anggap sebagai ayahnya.


Azka mengusap punggung tangan Lily yang melingkar di depan perut Yumna.


"Kita coba ya!" Lily mengangguk lalu bersiap turun dari dalam mobil. Lily menatap rumah megah ini dengan perasaan yang campur aduk, bagaimana jika orang tua Azka menolaknya. Seorang janda yang memiliki seorang anak!


Pintu terbuka, sosok wanita paruh baya datang menyongsong sang putra, tapi hanya mendelik pada sosok di sampingnya, dan tak peduli pada gadis mungil yang ada di pangkuannya. Lily merasa seakan ingin lari saja. Berbeda dengan sang mama, papa Azka menyambut mereka dengan hangat.


Mereka makan malam dengan saling diam. Sesekali Lily atau Azka membantu Yumna untuk makan. Semua itu tidak lepas dari pandangan kedua orangtua Azka.

__ADS_1


Azka dan Lily sama-sama tidak tentu perasaannya. Mereka kini duduk di ruang keluarga. Ketegangan menyelimuti keduanya. Berkali-kali menarik nafas untuk memulai berbicara. Dan Lily hanya diam tidak berani menatap, menunduk lesu.


"Ma, pa, sebenarnya Azka datang kesini mau minta izin sama mama." ucap Azka setelah beberapa saat lamanya menyiapkan diri. Sang mama hanya diam menatap mereka saling bergantian, termasuk pada sosok mungil yang kini duduk di antara Lily dan Azka. Tangan mereka berdua bertautan di belakang tubuh mungil Yumna, saling menguatkan


"Ini Lily, yang pernah Azka ceritain sama mama dan papa. Dan ini Yumna, putri Lily." Sang mama tidak merespon hanya menatap tajam pada ketiga orang di depannya. Namun Hadi, papa Azka tersenyum senang.


"Azka mau minta izin sama mama dan papa. Kami mau bertunangan. Azka harap mama dan papa mendukung permintaan Azka." Azka dan Lily harap-harap cemas. Tangan mereka sudah basah karna keringat.


Ya tuhan, apapun jawaban dari mama mas Azka, aku harus siap. Aku harus kuat! batin Lily.


"Tunangan?" Lily menunduk saat mama Azka berseru, sedangkan Azka menatap sang mama dengan pandangan penuh harap.


"Mama gak setuju Azka!"

__ADS_1


Terjawab sudah pertanyaan yang sedari kemarin menggelayuti fikiran Lily. Dirinya memang tidak pantas untuk Azka. Azka menatap marah pada sang mama. Mata Lily seketika berembun, tapi Lily harus kuat seperti biasanya!


__ADS_2