Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 230


__ADS_3

"Sayang." panggil Bima.


"Hemm?"


"Boleh aku buka puasa sekarang?"


Oh ya ampun!! Tidak bisakah suamiku ini menunggu sebentar? Merusak moment romantis saja! Memang gak pernah bisa romantis!!!batin Lily kesal. Lily menjauhkan dirinya dari tubuh Bima.


"Mas, kita baru sampai dan aku capek. Badan aku lengket aku mau mandi." ucap Lily menerbitkan senyuman nakal di bibir Bima.


"Ikut!"


"Boleh!" ucap Lily dengan nada suara yang di buat manja. Bima tersenyum semakin lebar saat Lily menarik tangannya ke arah kamar mandi, tapi beberapa langkah lagi sebelum sampai disana Lily melepaskan tangan Bima, berlari kesana dan langsung mengunci pintu dari dalam meninggalkan Bima yang hanya bisa melongo di luar tidak bisa membuka pintu kamar mandi.


"Yang, kok aku di tinggal sih? Yang buka dong!" Bima menggedor pintu kamar mandi dengan keras.


"Kamu mandi sendiri nanti setelah aku selesai!" Teriak Lily dari dalam. Bima mendengus kesal.


"Dasar nakal!! Awas saja nanti!" ucap Bima dengan smirknya, lalu berbalik menuju kasur besar dan merebahkan diri disana. Perjalanan panjang tadi lumayan membuat dirinya merasa pegal.


Bima tersenyum sendiri sambil menatap langit-langit kamar dengan lampu hias cantik disana. Hingga kantuk menjemputnya.


"MAAASSSS!!!" Bima tersentak kaget, matanya langsung terbuka lebar, dan dia refleks duduk di tepi kasur. Seketika kepalanya terasa pusing karena terbangun dengan tiba-tiba.


Lily dengan berkacak pinggang masih memakai bathrobe, wajahnya merah menahan marah. Di sampingnya terdapat koper yang sudah terbuka.


"Ini pasti kerjaan kamu ya?"


"Apa?" tanya Bima bingung tiba-tiba di tuduh tanpa sesuatu yang jelas.


"Ini!" tunjuk Lily pada koper di sampingnya. Lalu dengan entengnya Lily mengangkat koper itu ke atas kasur dan membukanya. Bima terbelakak saat melihat isi koper itu.


"Kamu pasti tuker koper ini kan? Kenapa isinya ini semua?" tanya Lily garang sambil mengangkat salah satu benda tersebut dengan mimik muka jijik. Bahkan sambil bergidik geli.


__ADS_1


(Ada yang di sensor ya... 🤭 takut di huzattt😁)



Dan bahkan ada yang hanya menutup inti saja, pas hanya menutupi inti dan lingkaran coklat dadanya.


Lily masih melotot, dan Bima hanya memandang salah satu kain minim bahan yang ada di tangannya sambil tersenyum membayangkan Lily dengan kain minim tersebut.


"Kamu ini mas..."


"Bukan aku sayang. Suerr!!" ucap Bima sambil mengangkat dua jari membentuk V.


"Terus ini kerjaan siapa?"


"Apa mungkin mama? Ahh mama tau aja pengennya anaknya!" seringai Bima yang di sambut dengan pukulan Lily di lengannya.


"Ih, aku udah capek-capek packing dan sekarang bajunya kayak gini doang?" ucap Lily sambil melempar lingerie tersebut ke koper dengan kesal.


"Ini sih namanya percuma, pakai baju tapi kelihatan semua!" dengus Lily.


"Ya sekalian gak usah pake baju kalau kayak gitu!" ucap Bima, dia mengangkat lengerie berwarna merah di tangannya tinggi-tinggi sambil tersenyum nakal. Ahh, hanya melihatnya saja milik Bima sudah menegang di bawah sana.


Bima gemas melihatnya, dia menginginkan bibir Lily yang manis itu.


Bima meraih tangan Lily dan sekali sentak dia membuat Lily terjatuh di atas dadanya. Lily terkejut dan ingin bangun tapi Bima malah memeluknya dengan erat.


"Memang kenapa sih kalau isinya itu semua? Bahkan sekarang itu juga gak penting, karena saat kamu sama aku kamu gak boleh pake apapun!"


Sumpah demi apa, Bima bisa semesum ini?!


"Mas tapi aku bisa masuk angin kalau pake yang kayak gitu. Perut aku bisa kembung nanti."


"Bukan kembung karena masuk angin, tapi kembung karena akan ada anak kita di dalam sana!"


"Ih, apa sih, mas!" Lily tersenyum malu, pipinya terasa panas sekarang.

__ADS_1


"Kamu mau denger sesuatu gak?" tanya Bima.


"Apa?"


Bima mengarahkan kepala Lily pada dadanya hingga telinga Lily tepat menempel disana. Terdengar gemuruh dan detakan yang tidak beraturan di dalam sana.


"Setiap aku deket kamu, jantungku berdetak tidak karuan. Rasanya saat kamu jauh aku gak bisa rasain jantung aku sendiri." Bima mencium kepala Lily dengan sayang. Lily tersenyum sambil mengelus dada Bima.


"Kamu gak lagi telfonan sama Adit kan?"


"Ya ampun sayang, kenapa bawa nama si kampret itu sih?" dengus Bima tidak suka.


"Habis kata-kata kamu..."


"Ini real dari hati aku!"


Bima membalikan dirinya hingga kini mereka berganti posisi. Lily berada di bawah Bima.


Bima menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Lily. Di kecupnya seluruh wajah Lily dengan lembut dan berakhir di bibir manis Lily yang selalu membuat dirinya ketagihan.


Lily dengan senang hati menyambut perlakuan suaminya hingga tidak sadar mereka saling melucuti pakaian pasangannya masing-masing.


Udara di luar terasa sangat dingin tapi tidak dengan udara di dalam kamar itu. D*sahan dan racauan nikmat terdengar dengan jelas dari keduanya. Keringat telah membasahi sekujur tubuh polos mereka yang tidak tertutup selimut. Bahkan koper yang tadi ada di atas kasur kini tergeletak terbalik di bawah lantai dengan isi yang berceceran di bawah sana akibat tendangan kaki, entah kaki siapa.


Bima ambruk di sisi tubuh istrinya. Tubuhnya lengket akibat keringat dari hasil pergumulan barusan dengan Lily. Nafas keduanya terdengar bersahutan. Lelah tapi bahagia. Senyum tergambar jelas dari wajah lelah keduanya.


Bima mencium bahu polos Lily yang mana malah mengantarkan sesuatu yang seperti suntikan energi pada tubuhnya.


"Mas. Udah deh..." ucap Lily di tengah deru nafasnya. Tangan Bima masih bergerilya di area dadanya.


"Aku... Ca..pek.."


"Tapi, aku belum!" ucap Bima kembali naik ke atas tubuh istrinya.


"Kamu ini, pake obat kuat ya? Ini... udah...lima kali loh." Lily mengingatkan.

__ADS_1


"Aku gak pake apa-apa. Tapi aku masih kuat sampai tiga kali lagi!"


Lily memutar bola mata malas. Saat Bima mulai mengarahkan miliknya kembali. Tidak menyangka suaminya bisa se-fit dan se-gagah itu! Benar kata Bima! sepertinya ia harus siap tidak bisa jalan selama satu bulan!


__ADS_2