
Minggu ini Bima dan Lily mengajak anak-anak mereka untuk ziarah ke makam Dena. Anak-anak hanya menurut saja meskipun mereka tidak tahu kuburan siapa yang mereka datangi.
Semua orang berjongkok berkeliling disana dan berdoa.
"Ma, ini makam siapa sih?" Azkhan menarik lengan baju Lily. Arkhan juga sama menatap sang mama. Namun Lily hanya menempelkan telunjuknya di depan bibir dan meminta mereka untuk diam dan ikut berdoa.
Selesai berdoa, Bima meminta ke empat anaknya untuk menunggu di mobil. Arkhan dan Azkhan sudah berjalan cepat melewati deretan makam, sedangkan Yumna menggandeng tangan Syifa yang setengah takut.
"Dasar Syifa penakut!" teriak Arkhan diikuti tawa Azkhan. Yumna memperingati adiknya dan melotot, namun duo rusuh itu tidak takut dengan wajah sang kakak yang di buat sangar. Mereka malah menari dan menjulurkan lidah. Sedangkan Syifa semakin mengeratkan pegangannya pada Yumna.
"Kak..." Syifa menarik ujung baju Yumna.
"Mau kakak gendong?" tanya Yumna dan langsung berjongkok. Syifa langsung naik dan melingkarkan tangannya pada leher Yumna. Mereka segera sampai di mobil dan menunggu, kedua orangtua mereka kembali.
Lily menyusut air matanya. Bima menggenggam tangan Lily.
"Kami bawa anak-anak kesini lagi."
"Maaf Na. Kalau saja dulu aku gak egois, kamu pasti juga merasakan kebahagiaan sama seperti kami. Aku yang salah Na, andai aku dulu gak buat perjanjian itu kamu pasti bisa merasakan menggendong seorang bayi." ucap Bima.
"Kami punya banyak anak. Seperti yang kamu mau dulu. Aku juga... aku..." Bima tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tidak bisa di pungkiri Dena adalah wanita yang membuatnya kuat dalam menjalani hidup selama ini.
Bima menyusut air matanya.
"Aku sayang kamu Na." ucap Bima pada akhirnya.
Lily tersenyum, lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Bima.
"Trimakasih, mbak Dena. Lily gak akan pernah bosan untuk bilang trimakasih. Seperti yang mbak mau dulu. Kami bahagia sekarang. Dan itu semua karena mbak Dena." ucap Lily.
Bima dan Lily kembali ke mobil, ke empat anak mereka sudah menunggu dengan bosan disana.
"Lama!" celetuk Arkhan saat masuk ke dalam mobil.
"Iya, aku haus." Azkhan.
Yumna dan Syifa duduk di kursi paling belakang.
"Tadi itu makam siapa sih ma?" tanya Arkhan.
"Yang tadi itu makam bunda Dena sayang!"
"Bunda?" Arkhan dan Azkhan bersamaan.
"Iya, Bunda Dena."
"Bunda Dena itu, siapa?"
Lily sedikit bingung sebenarnya. Dia takut anak-anaknya salah faham nantinya.
"Lain kali deh mama cerita ya. Kalian masih kecil."
"Memang kenapa kalau kita masih kecil?" Azkhan.
__ADS_1
"Ya..." Lily bingung.
"Kalian lapar gak? Makan bakso atau pizza?" tanya Bima mengalihkan perhatian kedua putranya.
"BAKSOOOO." teriak keempatnya bersamaan.
Lily merasa lega, jujur saja dia masih bingung menjelaskan tentang siapa Dena.
Setelah makan siang mereka pulang ke rumah. Santi menyambut si kembar dan mengajaknya untuk mandi lalu tidur siang. Syifa diurus oleh Lily.
Setelah semuanya selesai Lily kembali kedalam kamar. Bima yang sedang duduk di tepi ranjang menoleh, dia memutarkan sebuah lagu slow dari hpnya. Bima mendekat ke arah Lily dan memutar tubuh Lily hingga mereka berhadapan. Kedua tangan Lily ia simpan di pundaknya dan tangan Bima berada di pinggang Lily.
"Kamu ngapain sih mas?" tanya Lily heran.
"Dansa!" jawab Bima singkat. Lily tersenyum, menurut mengikuti langkah Bima, lalu menempelkan kepalanya di dada Bima. Mereka menikmati acara dansa mereka beberapa saat.
"Udah lama kita gak bisa berduaan kayak gini, semenjak rumah ini ramai." ucap Bima.
"Ya mau bagaimana lagi, anak kita banyak. Aku heran mas. Kamu cuma seorang, dan dari keluarga aku juga gak ada yang turunan banyak. Kenapa anak aku banyak ya?" tanya Lily heran.
"Gak tahu, memang kenapa? kamu gak suka?"
"Suka. Tapi heran aja."
"Kamu mau nambah anak lagi?" tanya Bima. Lily menarik kepalanya, dan mencebik.
"Enggak! sudah cukup. Dua cewek dan dua cowok! Kayaknya aku gak sanggup buat ngurus banyak anak lagi mas, apalagi Arkhan dan Azkhan... kamu tau sendiri gimana mereka. Aku agak pusing dengan tingkah mereka." Bima semakin mengeratkan pelukannya pada Lily. Kaki mereka terus melangkah mengikuti irama.
"Aku senang sekali. Terimakasih, istriku. Kamu adalah istri dan ibu yang baik. I Love You." Bima mencium puncak kepala istrinya.
Lily menengadah dengan raut muka manja.
"Cium aku!" Bima tersenyum lalu mencium bibir istrinya. Seketika ciuman mereka lembut, tapi lama kelamaan menjadi panas dan beringas, saling mencecap, dan bersuara dengan indah. Satu tangan Bima sudah masuk ke dalam baju Lily, dan Lily juga sama kancing celana Bima sudah terbuka, dan melakukan refleksi di bawah sana.
Mereka saling berputar, dan akhirnya Bima menidurkan istrinya di ranjang. Kembali mereka saling memagut, tangan Bima sudah sangat lihai membuka kancing baju Lily dengan sebelah tangan.
"Mamaaaaaa. Papaaaa...." teriakan Syifa dan gedoran di pintu membuyarkan aktifitas mereka. Bima dan Lily segera beranjak dan merapikan diri masing-masing dengan cepat. setelah yakin rapi mereka lalu keluar.
Lily membuka pintu terlihat Syifa sedang ketakutan dan menangis. Di depannya Azkhan dan Arkhan sedang memalingkan pandangan ke arah lain. Kedua tangan mereka tersembunyi di belakang punggung.
"Syifa ada apa?" tanya Lily, Syifa melingkarkan tangannya pada kaki Lily.
"Arkhan ma." tunjuk Syifa pada sang adik.
Arkhan yang di sebut pun hanya pura-pura bingung.
"Arkhan?"
"Arkhan gak lakuin apa-apa kok ma."
"Azkhan?" panggil Lily bergantian.
"Azkhan enggak ma!"
__ADS_1
"Bohong ma. Itu di tangan Arkhan ada laba-laba. Syifa takut!" Syifa semakin mengeratkan pelukannya.
"Arkhan cuma mau kasih lihat syifa ma. Laba-labanya lucu, ada bintiknya." Arkhan memperlihatkan laba-laba di tangannya.
"Gak mau! Nanti kalau di gigit Syifa jadi Spiderman, Syifa gak mau jadi Spiderman. Jelek!!" ucap Syifa dengan polosnya.
"Itu kan cuman di film, Syifa!" Azkhan.
"Arkhan. Azkhan! Yang sopan panggil kakak Syifa!" titah Lily. "Dan itu laba-laba buang, jangan di mainkan. Itu juga hewan, merek jangan di ganggu."
"Tapi Arkhan mau pelihara ma. Iya kan Az?"
"Gak boleh!" teriak Syifa. "Nanti kalau Arkhan jadi Spiderman gimana? Syifa gak mau punya adik bisa nempel di dinding. Jelek kayak tokek!"
"Tapi Arkhan mau!" teriak Arkhan.
"Azkhan juga mau!"
Mereka saling berteriak membuat ramai isi rumah.
Bima yang sudah pusing dengan tingkah anak-anaknya hanya bisa melotot pada si duo rusuh.
Arkhan dan Azkhan menunduk jika sudah melihat raut muka Bima yang kesal.
Santi baru saja datang. Dia mandi dengan cepat karena mendengar riuh teriakan dari dalam rumah utama.
"Santi. Tolong ambilkan toples plastik. Arkhan, Azkhan ikut Ibu Santi." titah Bima pada keduanya.
Bima mengangkat Syifa ke dalam gendongannya.
"Syifa jangan nangis lagi ya!" Bima mengusap wajah Syifa yang basah.
Beberapa saat kemudian, si kembar sudah kembali dengan toples di tangannya berisi dua laba-laba kecil. Mereka berlarian dengan riang di tengah rumah.
"Wleeeekk." Arkhan menjulurkan lidah nya saat melewati Syifa.
"Arkhan!!!" panggil Bima namun hang di panggil semakin berlari menjauh bersama adik kembarnya.
Yumna baru saja turun dari lantai atas.
"Syifa kenapa ma?" tanya Yumna.
Syifa berontak dari gendongan sang papa minta di turunkan, kemudian berlari mendekat ke arah Yumna.
"Biasa." ucap Lily singkat.
"Kamar kakak yuk." Ajak Yumna, Syifa mengangguk lalu mereka pun naik kembali ke lantai atas. Bima dan Lily melihat ke mana anak-anaknya berada. Si kembar di teras dan dua anak perempuannya yang sedang naik tangga. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.
"Hahhh. Aku sudah tua mas." ucap Lily tiba-tiba.
Bima menarik Lily ke dalam kamar dan kemudian mengunci pintunya.
"Ayo, kita lanjutkan olahraga biar awet muda?"
__ADS_1