
Lily masuk ke dalam rumah, dan mendapati Bima yang menatapnya dengan tatapan tajam. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Terlihat urat yang tergambar jelas di wajah sang suami.
"Dari mana saja?!" tanya Bima dengan nada sedingin es.
"Dari rumah sakit. Yeni sakit." jawab Lily lalu melangkah ke arah tangga. Badannya lelah, perutnya lapar sekarang. Dia ingin mandi sebelum mereka akan bicara malam ini. Lily harus bicarakan ini dengan Bima. Tidak peduli meski Bima setuju atau tidak!
"Rumah sakit? Kenapa kamu gak minta aku buat antar?" Bima mengikuti langkah Lily menuju tangga.
"Harusnya kamu minta aku yang antarkan, kenapa harus sama Adit?!"
"Mas. Lily capek. Lily mau mandi dulu. Baru kita bicara." pinta Lily, tapi Bima sudah di rundung emosi dan tidak bisa lagi di ajak bicara baik-baik. Perlakuan Adit kepada Lily selama ini membuat Bima merasa sesuatu terbakar di hatinya.
"Lily." tangan Bima menghentikan Lily yang akan membuka pintu kamarnya.
"Kenapa kamu ini? Kamu sekarang cuek sama aku apa karena Adit? Kamu minta pisah sama aku apa karena dia? Sejauh mana hubungan kamu dengan dia? Apa kalian pacaran? Apa kalian akan menikah? Atau jangan-jangan kalian sudah melakukan..."
__ADS_1
Plakk!!!
Lily sudah tidak tahan, sedari tadi ia merasa di pojokan. Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi Bima. Bima terdiam merasakan sakit yang teramat sangat, bukan di pipinya melainkan di hatinya. Dia sudah salah bicara. Tidak seharusnya emosi membuatnya kalap dan menuduh Lily seperti itu. Toh seharusnya Bima juga tidak boleh ikut campur urusan Lily kan? Dia yang membuat perjanjian itu. Dasar perjanjian sialan!
"Jaga bicara kamu mas. Aku gak pernah melakukan hal yang di luar batas dengan orang lain, meskipun pernikahan kita hanyalah di landaskan dengan perjanjian!" setitik air mata turun dari mata indah Lily.
"Lalu kenapa kamu minta pisah dari aku kalau bukan karena Adit"
"Karena aku udah gak tahan mas. AKU CINTA KAMU!!" teriak Lily tanpa sadar. Bima terpaku mendengar penuturan Lily.
"Kamu gak sadar selama ini? Aku menahan perasaanku mas. Sakit rasanya. Sakit." ucapnya lirih sambil memukul dadanya sendiri yang kembang-kempis karena merasa sesak.
"BISA KAMU CINTA SAMA AKU?!!"
Selama dua puluh empat tahun hidupnya baru kali ini Lily berteriak. Meneriakan kata-kata di dalam hatinya yang sudah sangat membuncah ingin di keluarkan sedari lama.
__ADS_1
"Bisa kamu cinta sama aku mas? Gak bisa kan? Cinta kamu cuma buat mbak Dena." ucap Lily, air matanya semakin deras mengalir.
Ini gak boleh terjadi. Cuma Dena dan Una. Tidak dengan Lily! entah apa yang di suarakan Bima di dalam hatinya.
"JAWAB MAS!!" teriak Lily saat Bima tidak juga memberikan jawaban.
Tangan Bima mengepal.
Tidak bisa!
"JANGAN PERNAH MENGATAKAN CINTA PADAKU, KARENA AKU TIDAK AKAN PERNAH MENCINTAI ORANG LAIN SELAIN DENA ISTRIKU!!" Lily terdiam membeku, hanya air mata yang menggambarkan perasaannya sekarang. Sudah jelas semua jawaban yang ingin dia dengar.
Bima turun ke bawah dengan perasaan kesal. Pernyataan Lily ternyata membuatnya tidak bisa terima. Entah apa yang terjadi padanya, tapi semua ini terasa membingungkan!
Dia berjalan ke arah ruang tv dan dengan emosi mengambil foto pernikahan mereka dari dinding dan membantingnya ke lantai. Pecah berantakan, dengan kepingan kaca dimana-mana.
__ADS_1
Bima menatap Lily yang kini terduduk di lantai, satu tangan memegang pembatas pagar sedang satu tangannya yang lain memegangi dadanya yang sesak. Air mata terus membanjiri ke pangkuan Lily.
Bima pergi melewati pecahan kaca yang terdengar renyah saat terinjak olehnya.